Kondisi ini memicu kekhawatiran pasar, dan mendorong harga minyak global bergerak ke level lebih tinggi.
Dikutip dari Al Jazeera, pada perdagangan Kamis (26/3/2026), kontrak berjangka minyak mentah Brent crude sebagai patokan internasional melonjak hampir 2 persen dan sempat menembus level 104 dolar AS per barel.
Kenaikan ini terjadi sehari setelah harga sempat turun pada Rabu (25/3/2026), menyusul laporan bahwa Trump mengajukan rencana 15 poin untuk mengakhiri perang dengan Iran.
Sejak perang Israel-AS dengan Iran pecah, harga minyak telah meningkat lebih dari 40 persen. Lonjakan tersebut terutama dipicu oleh terganggunya jalur pengiriman di Selat Hormuz, salah satu rute minyak tersibuk di dunia yang kini mengalami kolaps aktivitas pelayaran.
Pasar Asia Melemah Akibat Tekanan Geopolitik
Selain menekan pasar komoditas, ketegangan geopolitik juga mengguncang bursa saham Asia.
Pada pembukaan perdagangan Kamis ini, sejumlah indeks utama mengalami penurunan. Nikkei 225 Jepang, KOSPI Korea Selatan, dan Hang Seng Hong Kong tercatat melemah seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas.
Pelemahan pasar Asia ini menunjukkan sensitivitas tinggi pelaku pasar terhadap situasi geopolitik global dan stabilitas suplai energi internasional, terutama ketika konflik belum menunjukkan tanda-tanda mereda.(*)
Editor : Heri Sugiarto