Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Bina Marga Budiamin pada podcast bincang jalan dan jembatan Ditjen Bina Marga.
“Berdasarkan Peta strategi Ditjen Bina Marga dari tahun 2020-2024 sasaran strateginya yaitu meningkatnya konektivitas jaringan jalan nasional dengan indikator utamanya adalah waktu tempuh , target waktu tempuh di akhir rencana strategis 2024 adalah 1,9 jam per 100 km,” ujar Budiamin.
Sekretaris Ditjen Bina Marga menambahkan, untuk sasaran program yang dilaksanakan adalah meningkatkan kinerja pelayanan jalan nasional. Di mana terdapat tiga indikator yaitu tingkat aksesibilitas dengan indikator kinerja pelayanannya, yaitu tingkat aksesibilitas presentasi Pusat Kegiatan Nasional (PKN), Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), dan Pusat Kegiatan Strategis Nasional (PKSN) yang telah diakses jalan nasional mencapai 87,9 persen.
“Indikator yang kedua adalah kinerja pelayanan rating kondisi, yaitu nilai rating kondisi terhadap indikator International Roughness Index (IRI), Pavement Condition Index (PCI), umur struktur jalan dan drainase jalan dengan targetnya 2,5 di akhir tahun 2024. Kemudian yang ketiga adalah rating keselamatan jalan, yaitu nilai gabungan antara nilai angka kecelakaan per populasi serta jumlah titik blackspot per populasi dengan target 2,82 di tahun 2024,” ucap Budiamin, Sabtu (16/11).
Terkait dengan kemantapan jalan, Budiamin menjelaskan bahwa kemantapan kondisi jalan berdasarkan renstra 2020 – 2024 mencapai 97%. Namun kemantapan di akhir tahun 2023 baru 93,57 persen, dan diprediksi untuk akhir tahun 2024 hanya sekitar 94 persen. “Jadi masih ada sekitar 3% yang belum tercapai sesuai dengan renstra,” tambah Budiamin.
Budiamin mengatakan bahwa penyebab tidak tercapainya renstra ini dikarenakan beberapa hal, yang pertama adalah anggaran, ada funding gap anggaran antara kebutuhan dan realisasi di lapangan. total funding gap anggaran dari tahun 2020 hingga 2024 yaitu 31,456 triliun, selain itu adanya Over Dimention Over Loading (ODOL) yaitu muatan angkutan berlebih.
Lebih lanjut, dengan terjadinya funding gap yang cukup besar ini maka kemantapan di akhir renstra 2020-2024 sulit tercapai. Maka dari itu Ditjen Bina Marga menerapkan strategi kebijakan salah satunya adalah pada tahap pelaksanaan konstruksi jalan yaitu menjaga mutu pelaksanaan perkerasan agar tidak mengalami kerusakan sebelum umur rencana.
“Salah satu strateginya adalah penerapan teknologi pemadatan cerdas yang dapat meningkatkan mutu pelaksanaan konstruksi jalan. Pemadatan cerdas ini menggunakan mesin gilas (Roller) bergetar yang dilengkapi dengan sensor digital,” terang sekretaris Ditjen Bina Marga.
Sensor digital ini dapat mengukur atau merekam data yang secara otomatis terhadap jumlah lintasan, kepadatan bahan dan identifikasi anomaly yang terjadi selama proses pemadatan. Ini merupakan strategi kebijakan yang akan diterapkan ke depannya supaya kualitas pekerjaan di lapangan bisa lebih tahan lama.
“Teknologi pemadatan cerdas pada konstruksi jalan ini akan membantu mengendalikan mutu hasil pekerjaan yang lebih baik, karena menggunakan alat sensor yang dapat memonitor kepadatan pada keseluruhan area konstruksi secara real time. Sehingga tingkat kepadatan dan keseragaman tercapai sesuai ketentuan spesifikasi,” terang Budiamin.
Baca Juga: Presiden Prabowo Jangan Dulu Meletakkan Batu Pertama Flyover Sitinjau Lauik
Sekretaris Ditjen Bina Marga juga menjelaskan dari segi biaya initial cost penggunaan pemadatan cerdas ini cenderung lebih tinggi di awal, namun biaya konstruksi dan pemeliharaan jalan lebih rendah. Prinsip kerja dari tekhnologi pemadatan cerdas ini adalah suatu mesin gilas dilengkapi dengan akselerometer yang dipasang di sekitar drum alat pemadat. Hal itu guna mengukur interaksi antara roda pemadat dengan bahan yang dipadatkan.
Mesin gilas ini dilengkapi dengan sistem yang mengukur dan mencatat parameter pemadatan menggunakan akselerometer dan Global Positioning System (GPS). Sitem ini juga dilengkapi oleh jaringan internet untuk mengirimkan data ke dalam sistem penyimpanan dan sistem perangkat yang dapat menampilkan data pendukung dan hasil pengukuran akselerometer dan GPS secara langsung. (*)
Editor : Hendra Efison