PADEK.JAWAPOS.COM - Menjadi penyandang disabilitas bukan penghalang untuk memperoleh pendidikan tinggi dan menggapai cita-cita. Kampus-kampus di Sumbar pun menyediakan akses nyaman dan setara untuk mereka. Hal tersebut terlihat pada Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) masuk perguruan tinggi negeri (PTN) tahun ini.
DI Universitas Negeri Padang (UNP) misalnya. Mereka ditempatkan di ruang khusus yang dirancang untuk memberikan kenyamanan dan konsentrasi maksimal. Perangkat bantu seperti software pembaca layar, aplikasi khusus, serta headset menjadi sarana utama dalam menyelesaikan ujian selama 195 menit.
Rayhan Hidayat, salah satu yang mencuri perhatian. Dikutip dari laman resmi UNP, ia berasal dari Bukittinggi, datang diantar kakak iparnya yang menggunakan atribut driver online.
Dia tidak terlahir sebagai penyandang disabilitas. Hilangnya penglihatan akibat glaukoma yang dialami saat duduk di bangku kelas dua SMA sempat membuat hidupnya terhenti. Ia mengurung diri di kamar hampir selama satu tahun, menjauh dari dunia yang tiba-tiba terasa asing.
“Awalnya dia sempat mampir, tidak mau keluar rumah. Tapi kami terus menyemangati,” ujar sang kakak ipar saat ditemui Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis UNP. Namun waktu, keluarga, dan dukungan orang-orang terdekat perlahan menariknya kembali. Sedikit demi sedikit, Rayhan belajar menerima keadaan.
Ia kembali bersekolah, beradaptasi dengan cara belajar baru, hingga akhirnya berani melangkah lebih jauh, mengikuti UTBK. Bahkan alumni SMA N 1 Tilatang Kamang itu juga memilih Pendidikan Luar Biasa UNP sebagai pilihan pertama pada UTBK ini.
Jauh dari ruang itu, Aldi Sulaiman, Lulusan SMKN 7 Padang datang bersama sang ayah. Ia mengaku telah mendapatkan pendampingan dari panitia. Bahkan dihubungi langsung dan difasilitasi untuk mengikuti latihan sebelum hari pelaksanaan.
Sejak lahir, Aldi yang menjatuhkan salah satu pilihannya ke Pendidikan Luar Biasa UNP itu, hidup dengan keterbatasan penglihatan. Ia hanya mampu menangkap bayangan cahaya. Namun batasan itu tidak pernah benar-benar terhenti. Ia belajar dengan huruf Braille, mendengarkan, menghafal, dan terus mencoba memahami dunia dengan caranya sendiri.
“Saya memilih kuliah untuk kehidupan yang lebih baik,” tegasnya.
Di balik ketenangannya, ada usaha yang tidak sedikit. Ia mengikuti latihan sebelum ujian, beradaptasi dengan perangkat bantu, dan mengatasi kendala teknis yang sempat ia alami. Namun satu hal yang ia pegang teguh tetap sederhana, pendidikan terus berlanjut.
Diketahui, UNP menegaskan sebagai perguruan tinggi yang berkomitmen menghadirkan layanan seleksi yang inklusif dan merata. Tahun ini, sebanyak tujuh peserta berkebutuhan khusus difasilitasi, terdiri dari empat disabilitas netra dan tiga disabilitas rungu, dengan penjadwalan khusus sesuai kebutuhan mereka.
Tak sekadar Jalani Ujian
Di Universitas Andalas (Unand), semangat melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi ditunjukkan Reshma Adiva, penyandang tunadaksa, Selasa (21/4). Ia menjalani ujian di Gedung Perpustakaan Unand, setelah sebelumnya dilakukan penyesuaian lokasi demi mendukung aksesibilitas.
Awalnya, Reshma dijadwalkan mengikuti ujian di lantai III Gedung Fakultas Teknik. Namun, mempertimbangkan kondisi fisiknya, ia berinisiatif mengonfirmasi kepada panitia UTBK di Unand. Respons cepat pun diberikan. Pihak kampus kemudian memindahkan lokasi ujian ke lantai dasar Gedung perpustakaan pada hari yang sama, sehingga lebih ramah bagi mobilitasnya.
“Alhamdulillah langsung dibantu dan dipindahkan ke lokasi yang lebih mudah diakses,” ujar Reshma dikutip dari laman resmi Unand.
Bagi Reshma, mengikuti UTBK bukan sekadar menjalani ujian, tetapi juga bagian dari perjuangan meraih cita-cita. Ia berharap dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan mengembangkan potensi diri di masa depan.
Pada pelaksanaan UTBK di Unand, tercatat sebanyak sebelas peserta disabilitas mengikuti ujian. Seluruh peserta tersebut terdiri dari penyandang tunadaksa dan tunarungu.
Langkah ini menjadi wujud komitmen unand dalam menghadirkan layanan pendidikan yang inklusif. Penyesuaian fasilitas bagi peserta berkebutuhan khusus merupakan bagian dari upaya kampus untuk memastikan setiap calon mahasiswa memiliki kesempatan yang setara dalam mengikuti proses seleksi.
Direktur Pendidikan dan Pembelajaran Unand Mahdhivan Syafwan menegaskan, prinsip inklusivitas menjadi perhatian utama dalam setiap tahapan penerimaan mahasiswa baru.
“Untuk itu, kami melakukan pengaturan khusus baik dari sisi lokasi maupun dukungan teknis agar mereka dapat mengikuti ujian dengan nyaman tanpa mengurangi kualitas dan integritas pelaksanaan UTBK,” jelasnya. (rel)