Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Sistem Parak Berpotensi jadi Mitigasi Perubahan Iklim, Solusi Berbasis Riset Melalui Pengembangan Agroforestri Cerdas Iklim

Adriyanto Syafril • Sabtu, 27 Juni 2026 | 06:46 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

PADEK.JAWAPOS.COM -- Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem, banjir, dan longsor di berbagai wilayah Sumatera Barat, Universitas Andalas (Unand) menghadirkan solusi berbasis riset melalui pengembangan agroforestri cerdas iklim di Hutan Nagari Salibutan, Kecamatan Lubukalung, Kabupaten Padangpariaman. Penelitian yang dipimpin Dr Yulinda, dosen Penyuluhan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Andalas, menunjukkan bahwa kearifan lokal Minangkabau berupa sis­tem parak memiliki potensi besar untuk menjadi model adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang berkelanjutan.

Sebagaimana diberitakan pada laman Unand, Hutan Nagari Salibutan merupakan salah satu kawasan penting penyangga lingkungan di daerah aliran Sungai Batang Anai. Kawasan ini berperan sebagai daerah tangkapan air yang menopang kehidupan masyarakat di wilayah hilir. Namun, perubahan pola curah hujan, meningkatnya suhu udara, serta tingginya risiko bencana hid­rometeorologi menjadikan kawasan tersebut semakin rentan terhadap degradasi lingkungan.

Melalui penelitian yang didanai Unand, tim peneliti mengkaji bagai­mana sistem parak yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Minangkabau dapat dipadukan dengan kon­sep Cli­mate Smart Agriculture (CSA) atau Pertanian Cerdas Iklim. “Unand tidak hanya melakukan penelitian, tetapi juga mendorong penerapan hasil riset secara langsung bersama masyarakat. Pendekatan ini menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi bagian penting dari solusi global menghadapi perubahan ik­lim,” ujar Yulinda, Kamis (18/6).

Dalam praktiknya, masyarakat yang tergabung dalam Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) dan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) mengembangkan pola agroforestri berlapis. Pohon-pohon berka­yu seperti asam kandis, durian, manggis, petai, dan pinang dipertahan­kan sebagai pelindung utama kawasan hutan sekaligus penyerap karbon. Pada lapisan berikutnya dita­nam kakao, sedangkan tanaman rempah seperti jahe, kunyit, dan serai tumbuh di lantai hutan sebagai sumber pen­dapatan tambahan ma­sya­rakat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model ini mampu menjawab tiga tujuan utama Pertanian Cerdas Iklim, yakni meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani melalui diversifikasi usaha, memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim, serta berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca. Selain memberikan manfaat ekologis, sistem agroforestri juga membuka peluang ekonomi baru, termasuk potensi pengembangan perdaga­ngan karbon berbasis masyarakat yang saat ini mulai menjadi perhatian dunia.

Sebagai perguruan tinggi yang memiliki komitmen kuat terhadap pembangunan berkelanjutan, Unand terus mendorong riset-riset yang berdampak langsung bagi masyarakat. Melalui kolaborasi dengan Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat, pemerintah nagari, LPHN, dan KUPS, UNAND berupaya menghadirkan model pengelolaan hutan yang tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Dari jantung Hutan Nagari Salibutan, riset UNAND membuktikan bahwa warisan lokal Minangkabau dapat menjadi inspirasi global dalam menghadapi krisis iklim. Ketika tradisi dan ilmu pengetahuan berjalan beriringan, keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat dapat diwujudkan secara bersamaan.

Kegiatan ini didanai oleh LPDP atas nama Kementerian Pendidikan Ti­nggi, Sains, dan Teknologi Republik In­donesia melalui Program EQUITY (En­hancing Quality Education for International University Impacts and Re­cognition) berdasarkan Kontrak No­mor B/53/UN16.29.1/HK.10.00/2026. (rel)

Editor : Adriyanto Syafril
#Universitas Andalas (Unand) #Laman Kampus