Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Desa Katiet Mentawai Bak Disneyland Peselancar Dunia, Siap Jadi Tuan Rumah Kejuaraan Surfing Internasional 2026

Hendra Efison • Jumat, 26 Juni 2026 | 11:25 WIB
Desa Katiet di Mentawai disebut bak Disneyland peselancar dunia dan akan menjadi tuan rumah kejuaraan surfing internasional pada September 2026.
Desa Katiet di Mentawai disebut bak Disneyland peselancar dunia dan akan menjadi tuan rumah kejuaraan surfing internasional pada September 2026.

PADEK.JAWAPOS.COM–Desa Katiet, Kecamatan Sipora Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, bersiap menjadi pusat perhatian dunia saat menjadi tuan rumah kompetisi surfing internasional pada 17–24 September 2026.

Ajang bergengsi itu sekaligus mempertegas posisi Mentawai sebagai salah satu destinasi selancar terbaik di dunia dengan ratusan spot ombak berkelas internasional.

Sekretaris Jenderal Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PSOI), Tipi Jabrik, bahkan menyebut Kepulauan Mentawai sebagai "Disneyland" bagi para peselancar dunia.

Julukan itu bukan tanpa alasan, karena hampir seluruh karakter ombak yang diidamkan peselancar tersedia di kawasan kepulauan tersebut.

"Mentawai itu ibarat Disneyland-nya peselancar. Semua ombaknya bagus," ujar Tipi Jabrik dalam diskusi bersama tim Institut Teknologi Bandung (ITB), pegiat pariwisata Nofrins Napilus, serta sejumlah pemangku kepentingan di Katiet, Kamis (25/6/2026)).

Menurutnya, Kepulauan Mentawai memiliki sekitar 300 hingga 400 spot ombak yang tersebar di berbagai pulau dan menjadi daya tarik utama peselancar dari berbagai negara.

Mentawai Jadi Magnet Wisatawan Mancanegara

Tipi Jabrik mengungkapkan, peran Mentawai terhadap sektor pariwisata Sumatera Barat sangat besar.

Sekitar 50 persen wisatawan mancanegara yang datang ke provinsi ini menjadikan Mentawai sebagai destinasi utama untuk menikmati ombak kelas dunia.

Karena itu, ia menilai penyelenggaraan kejuaraan surfing internasional di Desa Katiet harus dimanfaatkan sebagai momentum meningkatkan kualitas destinasi wisata secara menyeluruh.

Menurutnya, perhatian tidak hanya tertuju pada suksesnya penyelenggaraan lomba, tetapi juga peningkatan layanan kesehatan, kebersihan makanan, hingga fasilitas sanitasi dan MCK agar wisatawan memperoleh pengalaman terbaik selama berada di Mentawai.

"Kalau pengalaman mereka baik, mereka akan kembali lagi. Itu yang harus kita jaga," katanya.

Ia juga berharap kejuaraan surfing internasional tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata.

Event tersebut perlu digelar secara berkelanjutan agar mampu menjaga citra Mentawai sebagai destinasi selancar dunia sekaligus memberikan dampak ekonomi yang konsisten bagi masyarakat setempat.

ITB Ungkap Rahasia Ombak Kelas Dunia di Mentawai

Dalam kesempatan yang sama, ahli oseanografi ITB, Aprilia Sujatmiko, menjelaskan keistimewaan ombak Mentawai terbentuk dari perpaduan berbagai faktor alam, mulai dari energi gelombang Samudra Hindia, arah angin, gugusan terumbu karang, hingga bentuk garis pantai yang didominasi teluk-teluk alami.

Kombinasi tersebut menghasilkan gelombang yang tidak langsung pecah di bibir pantai, melainkan bergulung sempurna sehingga menciptakan karakter ombak yang sangat diminati peselancar profesional maupun rekreasional.

"Setiap pantai di Mentawai memiliki karakter yang berbeda. Kombinasi energi samudra, angin, dan bentuk pulaunya membuat setiap peselancar memiliki spot favoritnya masing-masing," ujar Aprilia.

Kejuaraan Dunia Jadi Etalase Pariwisata Mentawai

Diskusi tersebut dihadiri rombongan ITB yang dipimpin Direktur Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB, Prof. Dr.-Ing. Ir. Zulfiadi, S.T., M.T., IPU, mewakili Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T.

Turut hadir Dekan FMIPA ITB Aep Patah, S.Si., M.Si., Ph.D., Kasubdit Humas dan Publikasi ITB D.Sc.(Tech.) Ir. Imam Santoso, S.T., M.Phil., pegiat pariwisata Nofrins Napilus, serta jajaran Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Kejuaraan surfing internasional yang akan berlangsung pada September 2026 dipandang bukan hanya menjadi ajang adu kemampuan para peselancar dunia, tetapi juga etalase yang memperkenalkan keindahan alam, budaya, dan potensi pariwisata Kepulauan Mentawai ke panggung internasional.

Keberhasilan penyelenggaraan event tersebut diharapkan mampu memperkuat posisi Mentawai sebagai destinasi selancar kelas dunia, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata yang berkelanjutan.(*)

Editor : Hendra Efison
#Surfing Internasional #Desa Katiet #Tipi Jabrik #wisata selancar #mentawai