PADEK.JAWAPOS.COM— Universitas Negeri Padang (UNP) mendorong talas menjadi produk unggulan sekaligus ikon oleh-oleh khas Kepulauan Mentawai melalui penguatan Culinary Teaching Factory (TEFA) di SMK Negeri 2 Kepulauan Mentawai.
Upaya itu dilakukan melalui program pendampingan dan pelatihan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNP selama empat hari, 4–7 September 2026. Kegiatan tersebut sebelumnya dijadwalkan pada 27–29 Agustus, tetapi ditunda karena kondisi cuaca.
Tim pengabdian UNP diketuai Dr Ezi Anggraini MPd dengan anggota Prof Dr Elida MPd dan Reska Mayefis MPd. Sejumlah mahasiswa S-2 dan S-3, yakni Rintan, Dara, dan Habib, turut terlibat dalam kegiatan tersebut.
Pendampingan menyasar guru pengelola TEFA dan 20 siswa jurusan kuliner. Program tidak hanya mengajarkan pengolahan talas, tetapi juga mendorong sekolah menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan industri melalui inovasi produk, standar mutu, pengemasan, branding, hingga pemasaran.
Selama ini, Culinary Teaching Factory SMK Negeri 2 Kepulauan Mentawai dinilai belum berjalan optimal.
Produk yang dihasilkan masih lebih banyak untuk kebutuhan praktik pembelajaran dan belum berkembang menjadi produk unggulan bernilai ekonomi.
Kondisi tersebut bukan karena keterbatasan peralatan. Sekolah telah memperoleh peralatan yang canggih dan berstandar industri.
Tantangannya berada pada kapasitas sumber daya manusia, inovasi produk, pemenuhan standar industri, serta pengelolaan TEFA.
Hasil penelitian sebelumnya mengenai implementasi Teaching Factory Culinary di Sumatera Barat menunjukkan dari 43 SMK negeri dan swasta, sebanyak 29 SMK memiliki program keahlian kuliner.
Namun, hanya 15 sekolah yang menjalankan Teaching Factory terintegrasi dengan sistem BLUD, termasuk SMK Negeri 2 Kepulauan Mentawai.
Dalam evaluasi tersebut, SMK Negeri 2 Kepulauan Mentawai termasuk tiga SMK yang implementasi TEFA-nya dinilai belum berjalan baik.
Kondisi itu sekaligus membuka peluang untuk mengembangkan potensi pangan lokal. Talas dipilih karena memiliki potensi sebagai bahan baku berbagai produk kuliner.
Program UNP Berdampak tersebut menargetkan lahirnya produk olahan talas dengan mutu, kemasan, dan identitas merek yang kuat sehingga layak dipasarkan sebagai oleh-oleh khas Mentawai.
Kepala SMK Negeri 2 Kepulauan Mentawai mendorong guru dan siswa serius mengikuti seluruh proses pendampingan.
Antusiasme peserta terlihat saat praktik pengolahan produk, pengemasan, dan branding.
Pengembangan tersebut ditargetkan membuat TEFA tidak sekadar menjadi ruang praktik siswa, tetapi berkembang menjadi unit produksi yang mampu menghasilkan produk nyata dan memiliki peluang pasar.
Jika pengembangan berjalan sesuai target, produk olahan talas dapat meningkatkan kompetensi kuliner dan kewirausahaan siswa sekaligus menambah nilai ekonomi pangan lokal.
Pengembangan itu juga berpotensi membuka peluang usaha, memperkuat identitas kuliner Mentawai, dan mendukung sektor pariwisata.
Bagi UNP, program tersebut menjadi bentuk penerapan hasil penelitian dan pengabdian yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
Pengembangan pangan lokal itu sejalan dengan penguatan ekonomi berbasis potensi daerah, pendidikan vokasi, diversifikasi pangan, dan peningkatan nilai tambah hasil pertanian.(*)
Editor : Hendra Efison