Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2023, pengeluaran untuk rokok dan tembakau hampir setara dengan pengeluaran untuk protein hewani di berbagai kelompok pendapatan.
Dirjen Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, merinci data pengeluaran pada setiap kuintil. Untuk rokok dan tembakau, persentase belanja tertinggi tercatat pada kuintil 4 dengan 14,30%, sementara terendah pada kuintil 1 dengan 11,54%.
Sementara itu, pengeluaran protein hewani menunjukkan kecenderungan meningkat seiring naiknya pendapatan, dengan kuintil 5 mencapai 20,6%.
Temuan ini menjadi bagian dari kompleksnya persoalan gizi di Indonesia. Menurut Endang, negara ini menghadapi tiga permasalahan besar yakni gizi kurang, kekurangan mikronutrien, dan overweight atau obesitas. Stunting pada balita mencapai 21,5%, yang berdampak signifikan terhadap kualitas sumber daya manusia.
Rincian data kesehatan lainnya menunjukkan:
- Gizi kurang pada balita: 8,5%
- Anemia remaja: 16,3%
- Anemia ibu hamil: 27,7%
- Overweight remaja: 12,1%
Pola konsumsi masyarakat pun menimbulkan keprihatinan. Konsumsi protein hewani pada balita hanya 21,6%, sementara konsumsi minuman manis mencapai 52%. Fakta lainnya, 65% masyarakat cenderung melewatkan sarapan dan 78% menggunakan penyedap rasa.
Dalam rangka Hari Gizi Nasional 2025 dengan tema "Pilih Makanan Bergizi untuk Keluarga Sehat", Kemenkes mengajak masyarakat melakukan perubahan konsumsi.
Beralih dari minuman bersoda ke jus buah tanpa gula, memilih makanan olahan rumah, dan mengonsumsi buah sebagai camilan merupakan beberapa langkah konkret.
"Peringatan Hari Gizi Nasional pada 25 Januari diharapkan menjadi momentum perubahan ke arah yang lebih baik," tambah Endang.
Staf Ahli Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Ikeu Tanziha menekankan pentingnya peran gizi dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia.
"Presiden Prabowo Subianto telah membentuk badan khusus untuk memastikan pemenuhan gizi nasional secara komprehensif," katanya.
Sementara itu, Doddy Izwardy, Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia, menyoroti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai upaya memutus mata rantai stunting. "Ini sangat berpengaruh terhadap tercapainya Indonesia Emas 2045 dan SDGs 2030," tegasnya. (*)
Editor : Hendra Efison