Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Bukan Hanya PMS! Kenali PMDD, Gangguan Menstruasi yang Lebih Parah hingga Bisa Picu Depresi!

Suci Kurnia Putri • Senin, 10 Februari 2025 | 11:38 WIB

Ilustrasi wanita sedang sakit perut karena menstruasi.
Ilustrasi wanita sedang sakit perut karena menstruasi.
PADEK.JAWAPOS.COM—Premenstrual Dysphoric Disorder (PMDD) adalah gangguan menstruasi yang jauh lebih parah daripada PMS biasa.

Sayangnya, banyak orang yang mengalaminya tidak mendapatkan diagnosis yang tepat karena kurangnya pemahaman dalam dunia medis dan masyarakat umum.

Apa Itu PMDD?

Dikutip dari Buku Kesehatan Reproduksi bagi Remaja oleh Tina Sunita, dkk. (2024: 401), PMDD adalah reaksi negatif otak terhadap perubahan hormon yang terjadi dalam satu hingga dua minggu sebelum menstruasi.

Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai gejala yang cukup parah, mulai dari perubahan suasana hati yang drastis, depresi mendalam, hingga kecemasan berlebih.

Beberapa penderita bahkan mengalami serangan panik dan pikiran untuk bunuh diri, yang membuat gangguan ini jauh lebih serius dibandingkan PMS biasa.

Berbeda dengan Premenstrual Syndrome (PMS) yang umumnya hanya menyebabkan ketidaknyamanan ringan, PMDD bisa berdampak besar pada kehidupan sehari-hari. Penderitanya bisa mengalami kesulitan bekerja, berinteraksi sosial, bahkan menjalani kehidupan normal.

Mengapa PMDD Sering Salah Diagnosis?

Kurangnya penelitian tentang kesehatan perempuan menjadi salah satu alasan utama. Banyak dokter yang tidak mempertimbangkan siklus menstruasi saat mendiagnosis pasien dengan gangguan mental. Akibatnya, PMDD sering dikira sebagai depresi atau gangguan kecemasan biasa.

Sebuah survei pada 2022 yang diterbitkan pada Journal of Women's Health menemukan bahwa lebih dari sepertiga pasien PMDD melaporkan dokter mereka tidak memahami kondisi ini. Bahkan, 40 persen mengatakan terapis mereka juga tidak mengetahui cara menangani PMDD.

Risiko Bunuh Diri dan Pentingnya Diagnosis Dini

PMDD bukan hanya sekadar gangguan menstruasi. Sebuah penelitian menemukan bahwa 72 persen penderita PMDD pernah mengalami pikiran untuk bunuh diri, dan 34 persen di antaranya telah mencoba bunuh diri.

Keterlambatan diagnosis dan kurangnya pemahaman dapat berakibat fatal. Beberapa penderita bahkan baru menyadari pola gejalanya sendiri setelah bertahun-tahun mengalami penderitaan tanpa kejelasan.

Bagaimana Cara Mengatasi PMDD?

Dikutip dari laman Scientific American Mind pada Senin (10/2/25), Saat ini, belum ada satu metode pasti yang dapat sepenuhnya mengatasi PMDD, tetapi beberapa perawatan dapat membantu meredakan gejalanya.

Antidepresan seperti SSRI sering digunakan untuk menstabilkan suasana hati dan dapat dikonsumsi setiap hari atau hanya saat gejala muncul.

Selain itu, terapi psikologis, seperti konseling dan terapi kognitif, dapat membantu penderita memahami serta mengelola emosinya dengan lebih baik.

Kesadaran siklus juga penting, di mana penderita melacak siklus menstruasi mereka agar dapat merencanakan aktivitas dengan lebih bijak dan tidak terlalu terbebani saat gejala muncul.

PMDD adalah kondisi serius yang masih sering diabaikan. Kesadaran akan kondisi ini perlu ditingkatkan, baik di kalangan medis maupun masyarakat umum.

Jika kamu mengalami perubahan suasana hati ekstrem menjelang menstruasi, jangan ragu untuk mencari bantuan medis. (*)

Editor : Adetio Purtama
#apa itu Premenstrual Dysphoric Disorder #pmdd #tanda tanda Premenstrual Dysphoric Disorder #pencegahan Premenstrual Dysphoric Disorder #bahaya Premenstrual Dysphoric Disorder #Premenstrual Dysphoric Disorder