PADEK.JAWAPOS.COM—Perubahan cuaca ekstrem dan tak menentu yang melanda wilayah Kota Padang dalam beberapa pekan terakhir dinilai berpotensi memicu peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD).
Hujan yang turun tidak menentu menciptakan banyak genangan air yang menjadi tempat ideal bagi nyamuk Aedes aegypti berkembang biak, vektor utama penular penyakit DBD.
Pakar Bidang Lingkungan dan Vektor Penyakit, Aidil Onasis menjelaskan bahwa perubahan iklim berdampak langsung terhadap keseimbangan lingkungan dan populasi nyamuk.
“Perubahan iklim akan sangat berpengaruh terhadap kondisi lingkungan lainnya sebagai efek domino. Curah hujan yang tinggi menyebabkan berbagai wadah dan barang-barang terbuka menampung air, sehingga telur nyamuk menetas dan berkembang menjadi jentik hingga nyamuk dewasa,” ujar Aidil, Minggu (5/10).
Menurutnya, berbagai wadah seperti pot bunga, kaleng bekas, bak air, dan barang tak terpakai merupakan media potensial bagi nyamuk untuk berkembang biak.
“Kepadatan sarang nyamuk akan meningkat bila lingkungan tidak dijaga. Karena itu, kami mengimbau masyarakat, baik di rumah tangga, instansi, maupun kawasan industri, untuk secara rutin memantau wadah-wadah berpotensi sarang nyamuk,” tegasnya.
Aidil menegaskan, Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) merupakan langkah kunci dalam pengendalian kasus DBD. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat harus ditingkatkan, di antaranya melalui kegiatan fogging fokus di lokasi ditemukan kasus serta surveilans jentik secara berkala untuk memutus rantai penularan.
“Upaya PSN tidak bisa hanya mengandalkan dinas kesehatan. Semua elemen masyarakat harus ikut berperan. Pemerintah bisa melakukan fogging, tapi kalau masyarakat tidak menjaga kebersihan lingkungan, nyamuk akan tetap berkembang,” ujar Aidil.
Selain itu, ia menegaskan bahwa masyarakat memiliki kewajiban hukum dalam mendukung penanggulangan DBD. Setiap warga wajib menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi sarang nyamuk, memberikan izin kepada petugas kesehatan untuk memeriksa jentik dan melakukan fogging di wilayahnya, serta segera melaporkan kepada puskesmas apabila ditemukan kasus DBD di sekitar tempat tinggal.
Lebih lanjut, Aidil menekankan pentingnya pelibatan berbagai kelompok masyarakat dalam pengendalian mandiri. Ia mendorong agar kelompok pemuda, pengajian, arisan, hingga komunitas seni dan budaya turut memperkuat kepedulian terhadap kesehatan lingkungan.
“Kewaspadaan terhadap penularan DBD harus tumbuh dari kesadaran kolektif masyarakat. Kita ingin masyarakat tidak hanya menunggu aksi pemerintah, tetapi juga bergerak proaktif dalam menjaga lingkungannya,” jelasnya.
Aidil juga mengingatkan agar warga segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila mengalami demam lebih dari tiga hari. “Bila diduga infeksi DBD dan dirawat di rumah sakit, segera laporkan ke puskesmas dan aparat pemerintah agar bisa dilakukan pengendalian terpadu,” tambahnya.
Ia berharap, melalui langkah bersama antara pemerintah dan masyarakat melalui program PSN serta peningkatan kesadaran kebersihan lingkungan, potensi lonjakan kasus DBD akibat perubahan cuaca dapat ditekan semaksimal mungkin. (yud)
Editor : Adetio Purtama