Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

IDAI Imbau Waspada Virus Nipah, Kasus Belum Ditemukan di Indonesia

Suyudi Adri Pratama • Jumat, 30 Januari 2026 | 18:13 WIB

IDAI imbau kewaspadaan Virus Nipah menyusul perkembangan kasus global, meski belum ada kasus di Indonesia dan virus terdeteksi pada kelelawar buah Pteropus. (chatgpt)
IDAI imbau kewaspadaan Virus Nipah menyusul perkembangan kasus global, meski belum ada kasus di Indonesia dan virus terdeteksi pada kelelawar buah Pteropus. (chatgpt)
PADEK.JAWAPOS.COM—Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau tenaga kesehatan, orang tua, dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi Penyakit Virus Nipah (NiV).

Imbauan ini disampaikan menyusul laporan perkembangan kasus global di sejumlah negara yang berdekatan dengan Indonesia.

Hingga saat ini, belum ditemukan kasus Virus Nipah pada manusia di Indonesia. Namun, virus tersebut telah terdeteksi pada kelelawar buah (Pteropus) di wilayah Tanah Air, sehingga potensi penularan tetap perlu diantisipasi.

Imbauan tersebut disampaikan dalam Seminar Media IDAI yang digelar di Jakarta, Kamis (29/1/2026).

IDAI menilai kewaspadaan dini penting mengingat Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis dengan tingkat fatalitas yang tinggi.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), mengatakan upaya pencegahan harus dilakukan secara kolektif, terutama oleh orang tua dalam melindungi anak dan keluarga.

“IDAI mengajak orang tua untuk proaktif melakukan edukasi di keluarga, menerapkan pola konsumsi makanan yang aman, serta segera mencari pertolongan medis bila muncul gejala,” ujar dr Piprim.

Ia menjelaskan, Virus Nipah dapat menimbulkan spektrum penyakit yang luas, mulai dari infeksi tanpa gejala, gangguan pernapasan akut, hingga ensefalitis atau radang otak.

Tingkat kematian akibat penyakit ini dilaporkan berkisar antara 40 hingga 75 persen.

Penularan Virus Nipah ke manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, seperti babi atau cairan tubuhnya, konsumsi makanan yang terkontaminasi, termasuk nira atau sari kurma mentah, buah yang telah digigit kelelawar, serta daging hewan terinfeksi yang tidak dimasak hingga matang.

Selain itu, penularan antar manusia juga dimungkinkan melalui droplet, urine, atau darah, terutama dalam lingkungan keluarga maupun fasilitas kesehatan tanpa penerapan alat pelindung diri yang memadai.

IDAI mencatat, anak-anak juga dapat terinfeksi Virus Nipah meskipun kasusnya lebih jarang dibandingkan kelompok dewasa muda.

Data menunjukkan rentang usia pasien berkisar dari 0,5 tahun hingga di atas 75 tahun, dengan median usia 17 hingga 27 tahun.

Pada wabah Virus Nipah di Kerala, India, tahun 2023, tercatat kasus pada anak berusia sembilan tahun.

Hal ini menunjukkan seluruh kelompok usia berisiko, dengan tingkat kematian lebih tinggi pada lansia dan individu dengan penyakit penyerta.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Prof. DR Dr Dominicus Husada, Sp.A, Subsp.IPT, menekankan peran penting orang tua dalam pencegahan.

“Walaupun anak lebih jarang menjadi korban utama, potensi penularan melalui makanan atau kontak dengan hewan berisiko tetap harus diwaspadai,” katanya.

Sebagai langkah pencegahan, IDAI merekomendasikan agar nira atau aren dikonsumsi setelah dimasak hingga matang, buah dicuci dan dikupas dengan bersih, serta dibuang jika terdapat tanda gigitan atau kontaminasi.

Daging, khususnya daging babi, juga harus dimasak hingga matang sempurna.

Selain itu, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti mencuci tangan secara rutin, etika batuk dan bersin, serta penggunaan masker saat ada anggota keluarga sakit, dinilai penting untuk mencegah penularan.

Orang tua diminta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam disertai sakit kepala, muntah, kejang, leher kaku, atau penurunan kesadaran, terutama bila memiliki riwayat paparan risiko.

IDAI juga menegaskan bahwa hingga kini belum tersedia vaksin maupun antivirus khusus untuk Virus Nipah.

Oleh karena itu, pencegahan berbasis perilaku dan pengendalian lingkungan menjadi strategi utama.

Selain itu, IDAI mendorong pemerintah untuk terus memperkuat sistem kewaspadaan di pintu masuk negara, termasuk bandara, pelabuhan, dan Pos Lintas Batas Darat Negara, melalui skrining, pelacakan kontak, serta respons cepat terhadap kasus suspek.

“Dengan kewaspadaan dini dan kerja sama semua pihak, risiko penularan Virus Nipah dapat diminimalkan,” tutup dr Piprim. (yud)

Editor : Hendra Efison
#Virus Nipah #kesehatan anak Indonesia #IDAI imbau waspada #kelelawar buah Pteropus #penyakit zoonosis