Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Virus Nipah: Seberapa Berbahaya dan Bagaimana Cara Mencegahnya?

Adetio Purtama • Senin, 9 Februari 2026 | 19:17 WIB

Ilustrasi virus nipah.
Ilustrasi virus nipah.
PADEK.JAWAPOS.COM—Virus Nipah kembali menjadi perhatian dunia kesehatan karena tingkat fatalitasnya yang tinggi serta potensi penularan lintas spesies.

Menyikapi risiko tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menerbitkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/445/2026 tertanggal 30 Januari 2026 tentang kewaspadaan terhadap penyakit Virus Nipah.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Virus Nipah merupakan virus zoonosis yang berasal dari kelelawar buah. Kelelawar berperan sebagai reservoir alami, yakni pembawa virus tanpa menunjukkan gejala penyakit.

Penularan dapat terjadi ketika virus berpindah dari kelelawar ke hewan lain, seperti babi, lalu menginfeksi manusia, atau melalui kontak langsung dari kelelawar ke manusia.

Faktor lingkungan turut memengaruhi potensi penyebaran virus ini. Penebangan hutan dan alih fungsi lahan menyebabkan kelelawar kehilangan habitat alaminya dan berpindah lebih dekat ke permukiman warga serta area peternakan.

Kondisi tersebut meningkatkan peluang terjadinya penularan Virus Nipah ke manusia, baik secara langsung maupun melalui hewan perantara.

Hingga saat ini, Kementerian Kesehatan memastikan belum terdapat laporan kasus konfirmasi Virus Nipah pada manusia di Indonesia. Meski demikian, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan mengingat tingginya mobilitas penduduk serta letak geografis Indonesia yang berdekatan dengan negara-negara yang pernah mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) Virus Nipah.

Virus Nipah dapat menular melalui berbagai jalur, tidak hanya melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi seperti liur, urin, darah, atau feses.

Penularan juga dapat terjadi melalui konsumsi buah yang terdapat bekas gigitan kelelawar, konsumsi daging hewan terinfeksi yang tidak dimasak hingga matang, serta kontak dengan manusia yang terinfeksi atau benda yang terkontaminasi cairan tubuhnya.

Gejala awal infeksi Virus Nipah sering kali tidak spesifik dan bervariasi, bahkan pada beberapa kasus tidak menimbulkan gejala sama sekali.

Masa inkubasi umumnya berkisar antara 4 hingga 14 hari setelah terpapar. Gejala awal dapat berupa pusing, sakit kepala, nyeri otot, dan muntah.

Pada kondisi yang lebih berat, infeksi dapat berkembang menjadi Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga ensefalitis atau radang otak yang berisiko menyebabkan kejang, penurunan kesadaran, bahkan kematian.

Hingga kini, belum tersedia pengobatan spesifik maupun vaksin untuk Virus Nipah. Penanganan medis yang diberikan bersifat suportif dan simptomatik, bertujuan untuk meredakan gejala dan mempertahankan fungsi vital pasien.

Sebagai langkah pencegahan mandiri, masyarakat diimbau untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Beberapa langkah yang disarankan antara lain mencuci buah dan sayur sebelum dikonsumsi, membuang buah yang menunjukkan bekas gigitan kelelawar, tidak mengonsumsi nira atau aren mentah langsung dari pohon, serta menghindari kontak dengan hewan ternak yang berpotensi terinfeksi.

Petugas peternakan dan pemotongan hewan dianjurkan menggunakan alat pelindung diri (APD) saat bekerja. Selain itu, masyarakat diminta memastikan daging ternak dikonsumsi dalam kondisi matang, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menggunakan masker saat sedang sakit.

Dengan meningkatkan kewaspadaan dan disiplin menerapkan langkah pencegahan, risiko penyebaran Virus Nipah dapat diminimalkan sejak dini. (*)

Editor : Adetio Purtama
#Virus Nipah #kemenkes ri #cara mencegah