Miliarder teknologi Elon Musk kembali menjadi sorotan setelah menyatakan sekolah kedokteran diprediksi tidak lagi relevan dalam beberapa waktu ke depan karena kemampuan AI diyakini akan melampaui kapasitas klinis dokter manusia.
Pernyataan tersebut didasari keyakinan bahwa integrasi otomatisasi tingkat tinggi, termasuk bedah robotik dan teknologi laser, akan mengubah wajah layanan kesehatan secara drastis.
Menurut laporan yang dikutip dari NDTV pada Jumat (13/2/2026), Musk menegaskan bahwa AI bukan sekadar alat bantu, melainkan berpotensi menjadi eksekutor utama dalam prosedur medis dengan tingkat akurasi tinggi.
“Integrasi otomatisasi canggih seperti bedah robotik dan teknologi laser tidak hanya akan meningkatkan akurasi medis secara drastis, tetapi juga mendemokratisasi akses kesehatan ‘tingkat elit’ menjadi layanan universal yang murah,” ujar Elon Musk dalam kutipan yang diunggah akun wow.info pada Sabtu (14/2/2026).
Ia menambahkan bahwa kualitas perawatan berbasis AI di masa depan bahkan dinilai dapat melampaui standar layanan terbaik yang saat ini hanya bisa diakses kalangan tertentu, karena kecepatan pembelajaran mesin dianggap jauh melampaui proses pendidikan manusia yang berlangsung bertahun-tahun.
Sebelumnya, Musk juga memprediksi AI akan mencapai titik di mana sistem tersebut mampu mendiagnosis penyakit lebih cepat dan lebih tepat dibandingkan metode konvensional.
Pengolahan big data medis oleh AI dinilai lebih objektif dalam menentukan diagnosis serta jenis pengobatan yang sesuai bagi pasien.
Gagasan tersebut memunculkan pro dan kontra di kalangan praktisi kesehatan serta komunitas ilmiah.
Sebagian pihak menilai bahwa meskipun AI unggul dalam analisis data dan presisi teknis, aspek empati serta pertimbangan etis yang dimiliki dokter manusia tetap tidak dapat digantikan oleh mesin.
Di sisi lain, pendukung pandangan ini melihat biaya pendidikan kedokteran yang tinggi dan durasi studi yang panjang sebagai hambatan dalam pemenuhan tenaga medis global, sehingga AI dianggap berpotensi menjadi solusi atas ketimpangan jumlah dokter di berbagai negara.
Dalam konteks pelayanan universal, penggunaan sistem terstandarisasi berbasis AI dinilai dapat memangkas biaya operasional rumah sakit dan menekan biaya pengobatan tanpa mengurangi kualitas layanan medis.
Diskusi mengenai relevansi sekolah kedokteran kini juga merambah dunia akademik, dengan sejumlah institusi mulai mempertimbangkan integrasi kurikulum AI agar calon dokter dapat berkolaborasi dengan teknologi pintar.
Namun, transisi menuju sistem medis berbasis AI dinilai membutuhkan regulasi ketat, terutama terkait keamanan data pasien serta tanggung jawab hukum atas tindakan medis yang dilakukan oleh sistem otomatis.
Hingga kini, pernyataan Elon Musk tersebut terus menjadi perbincangan luas di media sosial dan komunitas ilmiah terkait masa depan pendidikan kedokteran di era digital.(cr3)
Editor : Hendra Efison