PARIAMAN TIMUR, PADEK.JAWAPOS.COM — Upaya pencegahan stunting tidak hanya dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan rutin, tetapi juga dengan memastikan kebutuhan gizi ibu hamil dan balita terpenuhi sejak dini.
Berangkat dari tantangan tersebut, Puskesmas Kampung Baru Padusunan, Kecamatan Pariaman Timur, mengembangkan program pemberian makanan tambahan (PMT) berbasis pangan lokal tanpa bahan pengawet untuk kelompok rentan gizi.
Program yang diberi nama Pantoba (Pemberian Makanan Tambahan Lokal Tanpa Bahan Pengawet) itu menjadi pengembangan dari inovasi sebelumnya yang berfokus pada penanganan ibu hamil kurang energi kronik (KEK) dan balita gizi kurang.
Melalui pendekatan baru tersebut, sasaran penerima manfaat diperluas mencakup ibu hamil berisiko KEK, balita dengan berat badan tidak naik, balita berat badan kurang, hingga balita dengan status gizi kurang.
Baca Juga: Buka Layanan di CFD Padang, PLN Catat 15 Pelanggan Manfaatkan Promo Tambah Daya Diskon 50 Persen
Kepala Puskesmas Kampung Baru Padusunan, Badriah Khalidi, mengatakan program ini lahir dari kebutuhan untuk memperkuat intervensi gizi berbasis potensi pangan lokal yang tersedia di masyarakat.
Fokus pada Kelompok Rentan Gizi
Ibu hamil dan balita merupakan kelompok yang paling rentan mengalami masalah gizi. Kekurangan asupan nutrisi selama masa kehamilan dapat berdampak pada pertumbuhan janin dan meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah.
Sementara itu, kekurangan gizi pada balita dapat menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak.
Kementerian Kesehatan menyebut periode kehamilan hingga anak berusia dua tahun atau 1.000 Hari Pertama Kehidupan menjadi fase paling menentukan dalam upaya pencegahan stunting.
Karena itu, intervensi gizi yang tepat pada masa tersebut menjadi salah satu strategi utama pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Baca Juga: Polisi Bongkar Penampungan 3.000 Liter Biosolar di Padang, Empat Orang Diamankan
"Masih ditemukan ibu hamil dan balita yang mengalami masalah status gizi. Melalui program ini kami ingin mendorong perbaikan gizi sekaligus meningkatkan kesadaran keluarga terhadap pentingnya pemanfaatan pangan lokal," kata Badriah.
Pangan Lokal Diolah Menjadi Makanan Tambahan Bergizi
Berbeda dengan bantuan pangan siap konsumsi, Pantoba memanfaatkan bahan pangan lokal yang mudah ditemukan masyarakat sebagai bahan dasar makanan tambahan.
Konsep ini sejalan dengan program Kementerian Kesehatan yang mendorong penggunaan pangan lokal dalam intervensi gizi masyarakat.
Selain memberikan makanan tambahan, program tersebut juga dibarengi edukasi mengenai pola makan sehat, pemberian ASI, sanitasi keluarga, serta pemantauan tumbuh kembang anak melalui posyandu.
Menurut Badriah, wilayah Pariaman memiliki potensi bahan pangan yang beragam dan dapat diolah menjadi menu bergizi bagi ibu hamil maupun balita.
Namun selama ini pemanfaatannya sebagai sumber makanan tambahan masih belum optimal.
Baca Juga: FIFA Terapkan Aturan Baru di Piala Dunia 2026: Wewenang VAR Diperluas, Waktu Kiper 5 Detik
"Potensi pangan lokal sangat besar untuk mendukung kebutuhan gizi keluarga. Karena itu, kami ingin mendorong masyarakat agar lebih banyak memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar," ujarnya.
Pendampingan Hingga Empat Bulan
Program Pantoba tidak hanya memberikan makanan tambahan dalam waktu singkat, tetapi juga dilakukan secara bertahap sesuai kondisi penerima manfaat.
Balita dengan berat badan tidak naik mendapatkan intervensi selama 14 hari. Untuk balita berat badan kurang, program berlangsung selama 28 hari. Sementara balita gizi kurang mendapatkan pendampingan hingga 56 hari.
Adapun ibu hamil yang mengalami masalah gizi memperoleh program pemberian makanan tambahan selama 120 hari atau sekitar empat bulan.
Sosialisasi program tersebut telah dilakukan kepada kader posyandu, ibu hamil, dan ibu balita di Desa Bato, wilayah kerja Puskesmas Kampung Baru Padusunan.
Baca Juga: Hasil Uji Coba Piala Dunia 2026: Brasil Pesta Gol 6-2, Jerman Ngamuk, Pulisic Putus Kutukan
Keterlibatan kader kesehatan dan keluarga dinilai menjadi faktor penting agar upaya perbaikan gizi dapat berjalan berkelanjutan.
Diharapkan Menjadi Model Penanganan Gizi Berbasis Komunitas
Pemanfaatan pangan lokal dalam program kesehatan masyarakat semakin mendapat perhatian karena dinilai lebih mudah diterapkan dan sesuai dengan kondisi daerah masing-masing.
Melalui Pantoba, Puskesmas Kampung Baru Padusunan berharap masyarakat tidak hanya menerima makanan tambahan, tetapi juga memahami cara memenuhi kebutuhan gizi keluarga secara mandiri.
Model ini juga membuka peluang bagi daerah lain yang memiliki sumber pangan lokal melimpah untuk mengembangkan program serupa sebagai bagian dari upaya pencegahan stunting dan peningkatan kualitas kesehatan ibu serta anak.(*)
Editor : Hendra Efison