GAS Dharmasraya Dorong Anak Biasakan Makan Ikan sejak Sekolah

Zulfia Anita • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 15:21 WIB
Kabid Perikanan Ns Selvi Delvia Falinda, Inovator GAS Elvira Notta dan Camat Sembilan Koto Romi pada kegiatan Gemarikan di Kecamatan Sembilan Koto.
Kabid Perikanan Ns Selvi Delvia Falinda, Inovator GAS Elvira Notta dan Camat Sembilan Koto Romi pada kegiatan Gemarikan di Kecamatan Sembilan Koto.

PADEK.JAWAPOS.COM — Dinas Pangan dan Perikanan Kabupaten Dharmasraya mendorong Gerakan Makan Ikan di Sekolah (GAS) untuk membangun kebiasaan konsumsi ikan sejak usia sekolah. Inovasi tersebut diarahkan tidak sekadar mengenalkan manfaat ikan, tetapi membuat anak menyukai dan terbiasa mengonsumsinya sebagai bagian dari menu sehari-hari.

Kepala Dinas Pangan dan Perikanan Kabupaten Dharmasraya, Hastho Kuncoro, M.Pd., mengatakan pemenuhan gizi yang baik menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia berkualitas.

Ikan merupakan salah satu sumber pangan bergizi karena mengandung protein berkualitas serta berbagai zat gizi yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.

“Kalau kita berbicara tentang kualitas sumber daya manusia, kita tidak bisa hanya berbicara soal pendidikan. Anak-anak juga membutuhkan asupan gizi yang baik agar pertumbuhan fisik dan perkembangan otaknya dapat berlangsung secara optimal,” kata Hastho di Pulau Punjung, Selasa (1/9/2026).

Namun, persoalan yang dihadapi bukan sekadar ketersediaan ikan sebagai bahan pangan.

Menurut Hastho, tidak semua anak menyukai ikan sehingga diperlukan pendekatan yang lebih kreatif agar ikan menjadi makanan yang menarik dan menyenangkan bagi mereka.

“Tidak semua anak suka makan ikan. Karena itu, kita perlu pendekatan yang berbeda agar ikan tidak dianggap sebagai makanan yang membosankan. Melalui GAS, anak-anak dikenalkan dengan berbagai olahan ikan yang lebih menarik dan sesuai dengan selera mereka,” ujarnya.

GAS Bangun Kebiasaan Makan Ikan

Hastho menjelaskan GAS dilaksanakan melalui edukasi mengenai manfaat ikan, kegiatan makan bersama, serta pengenalan berbagai olahan ikan kepada siswa.

Melalui pendekatan tersebut, anak tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai kandungan dan manfaat ikan, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung mengonsumsi berbagai menu berbahan ikan.

“Yang kita bangun bukan hanya kegiatan makan ikan, tetapi kebiasaan. Kita ingin anak-anak mengenal ikan, menyukainya, kemudian terbiasa mengonsumsinya sebagai bagian dari menu sehari-hari,” kata Hastho.

Menurutnya, pembiasaan tersebut diharapkan tidak berhenti di lingkungan sekolah.

Anak yang mulai mengenal dan menyukai ikan diharapkan membawa kebiasaan tersebut ke lingkungan keluarga.

Dengan demikian, edukasi konsumsi ikan dapat berkembang menjadi bagian dari pola makan sehat keluarga.

Dukung Pencegahan Stunting

Selain membangun kebiasaan makan ikan, GAS juga diarahkan untuk mendukung upaya pencegahan stunting.

Hastho mengatakan pemenuhan gizi yang baik selama masa pertumbuhan menjadi salah satu hal penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Karena itu, edukasi mengenai makanan bergizi perlu diberikan sejak dini kepada anak dan keluarga.

“Pencegahan stunting harus dilakukan sejak dini. Edukasi mengenai makanan bergizi perlu terus diberikan kepada anak dan keluarga. Kita ingin masyarakat memahami bahwa makanan bergizi tidak harus mahal dan ikan bisa menjadi salah satu pilihan pangan bergizi,” ujarnya.

Hastho menegaskan GAS merupakan kampanye edukasi, bukan program bantuan.

Tujuan utamanya membangun pengetahuan, kesadaran, dan kebiasaan konsumsi ikan di kalangan anak sekolah.

Upaya tersebut menjadi bagian dari Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) yang dijalankan Dinas Pangan dan Perikanan Kabupaten Dharmasraya.

Program Gizi Dimulai dari Masa Kehamilan

Hastho mengatakan edukasi konsumsi ikan di sekolah melengkapi upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Dharmasraya juga memiliki program unggulan bantuan permakanan bagi ibu hamil dan ibu menyusui sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemenuhan gizi sekaligus mencegah stunting sejak dini.

Program tersebut diberikan secara bertahap sejak masa kehamilan hingga enam bulan setelah melahirkan.

“Semua program ini saling melengkapi. Ada upaya pemenuhan gizi bagi ibu hamil dan ibu menyusui, kemudian ada edukasi dan pembiasaan makan ikan kepada anak-anak di sekolah. Tujuannya sama, yaitu menyiapkan generasi Dharmasraya yang sehat, cerdas, dan berkualitas,” katanya.

Menurut Hastho, pembangunan kualitas sumber daya manusia harus dilakukan secara berkelanjutan.

Kesehatan dan kecukupan gizi sejak dini menjadi salah satu fondasi bagi kemampuan anak untuk tumbuh, belajar, dan berkembang secara optimal.

GAS Diperkuat Melalui Gemarikan

Selain mendorong konsumsi ikan, GAS menjadi sarana untuk memperkenalkan potensi perikanan kepada generasi muda.

Anak-anak juga diharapkan memahami bahwa ikan dapat menjadi bagian dari pola makan sehat keluarga.

GAS merupakan inovasi yang digagas Elvira Notta, S.Pi., Pengawas Perikanan Ahli Muda pada Dinas Pangan dan Perikanan Kabupaten Dharmasraya.

Inovasi tersebut mengemas edukasi konsumsi ikan melalui kegiatan yang sederhana, edukatif, dan menyenangkan bagi siswa.

Hastho berharap GAS dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak sekolah.

Dengan demikian, kebiasaan mengonsumsi ikan dapat tumbuh sejak usia sekolah dan diteruskan di lingkungan keluarga.

“Anak-anak yang sekarang kita siapkan adalah generasi yang akan menentukan masa depan daerah dan bangsa. Karena itu, mereka harus tumbuh sehat, cerdas, dan memiliki kualitas yang baik. Ini merupakan investasi untuk menyongsong Indonesia Emas 2045,” ujarnya.(*)

Editor : Hendra Efison
GAS Dharmasraya Gerakan Makan Ikan di Sekolah anak makan ikan pencegahan stunting Dharmasraya Gemarikan Dharmasraya