Layaknya, yang dilakukan oleh masyarakat minang. Pada kesempatan manata makan bajamba ini siswa dan guru juga mengenakan pakaian yang perempuan baju kuruang basiba jo takuluak kompong dan yang laki-laki baju koko sesuai dengan adat tradisi daerah kita.
Makan bajamba ini bisa terlaksana berkat dukungan kepala sekolah Adrianopel, M.Pd yang sangat inspiratif dan juga majelis guru. Serta, tak kalah penting wali kelas yang selalu memotivasi para siswa. Dalam pelaksanaan ini butuh kerja sama, tanggung jawab dan sosial yang tinggi.
Ilmu yang diperoleh selama belajar di SMP maka tertuang dengan dapatnya siswa menyusun menu untuk makan bajamba. Siswa yang telah memenuhi persyaratan untuk melaksanakan ujian praktik ini adalah siswa yang sudah melaksanakan semua tugas dan ujian harian semester 2.
Kelas IX terdiri dari 6 kelas, dan 1 kelas dibagi menjadi 4 kelompok, 1 kelompok menyiapkan 3 jamba lengkap dengan snek (pinungkawah). Para siswa sangat antusias untuk ingin mengenal makan bajamba, merupakan hal yang baru karna tradisi ini sudah mulai pudar di masyarakat kita.
Kepala SMP Negeri 1 Kecamatan Guguak Adrianopel, M.Pd, walau baru sekitar 2 bulan di SMP Negeri 1 Kecamatan Guguak, namun sudah banyak menuai prestasi demi prestasi menggelegar dengan semangat orang bisa kita tidak.
Budaya makan bajamba seperti ini sangat baik di pertahankan dan ditingkatkan untuk masa yang akan datang. Inilah yang dinamakan pembelajaran proyek untuk sekolah penggerak.
Sebelum acara makan dilaksanakan, siswa juga melakukan alua pasambahan dengan mengundang kepala sekolah, guru serta karyawan sekolah untuk menyantap hidangan secara tradisi. Setelah alua pasambahan menyuruh makan serta doa sampai nanti kepada maurak selo. Semua itu dilakukan oleh siswa.
Makan bajamba dilakukan 1 jamba untuk tujuh orang yang duduknya melingkar. Setiap kelompok telah tersedia 2 jamba yang di dalamnya terdiri dari nasi dan bermacam-macam samba lauk pauk serta sayuran.
Siswa ini sudah mengerti cara makan secara teori. Namun baru kali ini dipraktikkan, di mana adat tradisi ini siswa mengambil apa yang ada dihadapannya setelah mendahulukan ibu atau bapak gurunya.
Ketika makan, nasi diambil sesuap saja dengan tangan kanan setelah ditambah sedikit lauk pauk.Lalu nasi dimasukan ke dalam mulut dengan cara di lempar dengan jarak yang dekat.
Ketika tangan kanan menyuap nasi, tangan kiri telah berada di bawah tangan kanan untuk menghindari kemungkinan tercecernya nasi. Jika ada nasi yang tercecer di tangan kiri harus dipindahkan ke tangan kanan, kemudian baru dimasukan ke mulut dengan cara yang sama.
Selain itu, posisi duduk juga harus tegap atau tidak boleh membungkuk dengan cara bersimpuh (basimpuah) bagi perempuan dan bersila (baselo) bagi laki-laki. Satu hal yang tak boleh dilupakan adalah makan yang disediakan wajib dihabiskan.
Makan bajamba mengandung makna yang sangat dalam. Duduk dan makan bersama antara guru dan siswa di satu jamba akan memunculkan rasa kebersamaan tanpa melihat perbedaan status sosial. Makan bajamba adalan contoh tradisi dari daerah Sumatera Barat.
Yakni duduk bersama di suatu ruangan serta berkumpul. Kemudian makan bersama-sama. Tradisi ini dutujukan untuk mempererat tali persaudaraan antar sesama teman dan juga sebagai bukti keakraban antara siswa dan guru.
Prosesi makan bajamba sudah merupakan tradisi bagi siswa kelas IX sebagai wujud terintegrasinya muatan daerah ke dalam mata pelajaran prakarya. Makan bajamba ini mengandung makna yang dalam seperti menghormati yang lebih tua.
Melatih diri untuk bersyukur serta sesuai Sunnah Nabi, salah satu bentuk penerapan dan simbol hidup orang minang, yakni “Adaik Basandi Syarak, Syarak Bersandi Kitabullah” di mana adat minang bersumber dari agama islam, terutama Sunnah Nabi. Seperti yang kita ketehui bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah makan sendiri. Makan bajamba sudah diwarisi oleh siswa SMP Negeri 1 Kecamatan Guguak. (***) Editor : Novitri Selvia