Berbeda dengan yang pertama, 3R’s kedua ini lebih fokus membangun pondasi berupa atmosfer belajar. Proses belajar dipengaruhi oleh hubungan dengan masyarakat, lingkungan alam, dan nilai-nilai spiritual.
Dalam kegiatan belajar ada usaha mengembangkan potensi murid lewat pembelajaran yang menyenangkan dan menggairahkan, demokratis dan humanis, serta bermakna. Pengembangan potensi tersebut dibangun sebagai refleksi terhadap pengalaman berinteraksi dengan lingkungan. Ini yang kemudian disebut pembelajaran yang holistik.
Nah, dengan konsep seperti itu, murid diharapkan merasakan kebebasan psikologis, mampu mengambil keputusan secara tepat, bisa belajar dengan cara yang sesuai (efektif), mendapatkan kecakapan sosial, serta dapat mengembangkan karakter dan emosionalnya.
Dengan demikian, kegiatan belajar akan mengantarkan murid memperoleh aktualisasi diri.
Kalau dikelompokkan, ada dua arus dalam pembelajaran, yaitu arus permukaan dan arus yang dalam (mendalam).
Dalam arus permukaan, belajar adalah menghapal fakta-fakta secara terpisah, bukan sebuah kesatuan. Dalam hal ini tidak ada kesalingterhubungan antarmateri atau fakta. Semua berdiri sendiri-sendiri.
Sedangkan arus yang mendalam ditandai adanya usaha membangun jaringan. Sebuah materi dipelajari melalui pendekatan dan dihubungkan dengan materi lainnya, konsep-konsep dihubungan dengan pengalaman dan kenyataan dalam kehidupan (kontekstual), serta mengumpulkan bukti-bukti dan menyusun kesimpulan dengan argumentasi yang logis.
Ribuan batu bata yang ditumpuk begitu saja, tetap batu bata, tidak berubah menjadi sesuatu. Namun, bila batu bata-batu bata itu disusun secara tepat dan terencana, bisa menjadi sebuah bangunan. Setiap batu bata merupakan unsur pembentuk bangunan.
Jadi ada jaringan besar yang disebut konstruksi, dan ada unsur-unsur penyusun yang saling terhubung, bukan berdiri sendiri-sendiri. Konstruksi itulah yang dinamakan pembelajaran holistik.
Kalau murid sudah mengetahui sesuatu tetapi belum memahaminya, berarti dia baru memiliki tumpukan batu bata. Dia perlu menyusun konstruksi pengetahuan agar batu bata yang dimiliki menjadi bagian sebuah bangunan.
Ketika mendirikan sebuah bangunan, tentu kita tidak perlu menghapalkan setiap batu bata penyusunnya. Kita cukup mengetahui bagaimana desain bangunan tersebut. Ketika ada bagian bangunan yang perlu diperbaiki, kita tidak perlu mengingat seperti apa batu batanya.
Cukup dengan mengetahui letak bagian yang rusak, kemudian memperbaikinya.
Seperti itu pula cara memahami sesuatu. Yang dibangun terlebih dahulu adalah gambaran besarnya. Kita akan lebih mudah menyusun puzzle ketika sudah mengetahui bentuk utuhnya.
Akan membuang waktu saja kalau kita menghafal gambar setiap keping puzzle, kemudian baru mencoba menyusunnya. Pembelajaran secara holistik membangun pengetahuan secara utuh, bukan menjejalkan informasi. Hal yang penting dalam belajar adalah memuaskan rasa ingin tahu. Guru mempunyai peran membangkitkan rasa ingin tahu tersebut. (***) Editor : Novitri Selvia