Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Guru Selfie Berdiri, Murid Selfie Berlari

Novitri Selvia • Senin, 10 Oktober 2022 | 14:33 WIB
Pepi Susanti S.PdI, M.Pd Guru PAI SMPN 5 Padang
Pepi Susanti S.PdI, M.Pd Guru PAI SMPN 5 Padang
Perkembangan teknologi digital telah membawa manusia pada berbagai bentuk gaya hidup baru. Tak terkecuali dalam tingkah dan perilaku. Sebut saja aksi swafoto yang dikenal dengan istilah selfie.

Wabah selfi telah merebak luas di media sosial. Media sosial kadang jadi terasa membosankan, karena setiap kali membuka suatu platform, seperti Facebook, maka yang dominan muncul adalah aksi selfie!

Guru kekinian tentu saja tidak terlepas dari fenomena selfie. Namun tulisan ini tidak bertujuan membahas tentang fenomena tersebut. Judul tulisan hanya sekedar aktualisasi dari pepatah yang telah mahsyur di tengah masyarakat, yaitu Guru Kencing Berdiri, Murid Kencing Berlari.

Makna pepatah itu pun sudah dimaklumi banyak orang, yaitu bahwa tingkah laku guru akan memberi efek dan pengaruh pada perilaku anak didiknya. Maka penting bagi guru untuk memperhatikan peran dan fungsinya sebagai pendidik. Terutama sekali di era tekhnologi digital di tengah maraknya media sosial.

Guru sebagai pendidik merupakan ujung tombak kemajuan pendidikan. Sehebat apapun kurikulum, secanggih apapun tekhnologi dan sebagus apapun sarana dan prasarana semua tidak akan berarti tanpa guru yang berkualitas.

Di tangan guru lah implementasi sebuah kurikulum akan berjalan dengan efektif atau tidak. Guru akan jadi penentu apakah sarana dan prasarana dapat dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin.

Menjadi guru zaman now, tentu tidak seperti gambaran seorang guru pada masa penulis sekolah dulu. Saat itu dalam pengamatan penulis, profesi guru itu terlihat santai, punya banyak waktu luang, tidak disibukkan dengan urusan perangkat, supervisi dan pelatihan untuk pengembangan diri. P

raktis guru punya banyak waktu buat urus anak dan keluarga. Sekarang ini tantangan guru begitu kompleks, bukan hanya sekedar menyampaikan materi di depan kelas, namun seorang guru harus dapat menyiapkan strategi pembelajaran yang baik, metode pembelajaran yang cocok, efektif namun menarik.

Setiap awal semester seorang guru juga dituntut untuk menyiapkan berbagai urusan perangkat, mulai dari Promes, Prota, Silabus, Analisis, serta RPP. Pada akhir semester kesibukan guru akan semakin bertambah dengan pemerikasaan nilai dan tugas siswa serta pengisian rapor.

Belum lagi berbagai urusan administrasi, terkadang guru harus buru-buru di pagi hari, sarapanpun kadang tak sempat lagi. Guru harus terus berupaya meningkatkan kompetensi diri, baik melalui pendidikan formal ataupun non formal seperti seminar, lokakarya ataupun pelatihan.

Guru tidak bisa lagi terjebak dengan paradigma lama dan usang bahwa mengajar hanya sekedar menyampaikan materi. Apalagi dengan mengandalkan metode ceramah yang tentu sangat membosankan bagi peserta didik.

Guru harus dapat berkreasi, ditambah dengan adanya kurikulum merdeka saat ini, peran guru menjadi sangat urgent untuk menyajikan pembelajaran yang berbobot dan bermutu. Di samping hal tersebut, sebagai pendidik guru harus bisa menjadi role model atau panutan bagi anak didiknya.

Sosok guru adalah untuk digugu dan ditiru, sehingga guru harus bisa menampilkan perilaku, sikap dan tutur kata yang baik dan bijak di depan peserta didik. Kepribadian dan wibawa seorang guru akan memberi kesan dan pengaruh positif terhadap tingkah laku peserta didik.

Sungguh tidak elokjika guru justru menunjukkan perilaku yang negatif, ibarat pepatah minang tungkek bana nan mambaok rabah. Jangan sampai guru yang seharusnya menjadi teladan atau tonggak dalam sikap dan perilaku mulia justru merubuhkan tonggak itu dengan sikap dan perilaku yang tidak baik.

Penulis teringat sebuah kutipan dari AA Gym “Seorang guru harus memilih, berhenti merokok atau berhenti menjadi guru. Murid butuh teladan yang baik”. Begitulah seharusnya menjadi seorang guru. Terkhusus lagi guru agama, guru harus dapat menjadi contoh yang baik dalam cara berpakaian, dalam bersikap dan bertutur kata.

Sikap baik tersebut bukan hanya di sekolah tapi juga di luar sekolah. Bahkan di zaman media sosial sekarang ini, seorang guru harus dapat menjadi teladan dalam berinteraksi di dunia maya. Seorang guru harus menjadi yang terdepan dalam berbuat, teladan dalam bersikap.

Karena peran guru saat ini bukan semata-mata mengajar, bukan hanya sebagai penyampai ilmu. Jika sebatas itu maka Youtube, Google ataupun media lain bisa lebih hebat dari guru. Namun seorang guru juga memiliki peran dalam membina sikap dan mental peserta didik. Disinilah peran guru yang tidak dapat tergantikan oleh teknologi manapun. (***) Editor : Novitri Selvia
#Pepi Susanti #Murid Selfie Berlari #Guru Selfie Berdiri