Begitu pun dengan peningkatan kapasitas dan kapabilitas guru harus terus diupayakan untuk mewujudkan kedaulatan intelektual masyarakat. Peran sentral guru sebagai penggerak dalam dunia pendidikan mesti selalu disadarkan dan terus diingatkan. Sebab mereka adalah kunci sukses dalam mendidikan generasi unggul yang memberikan kontribusi besar bagi kemajuan bangsa di masa depan.
Dalam hal ini, maka dibutuhkan sosok guru ideal yang mampu memikul amanah sebagai transformator kehidupan berbangsa melalui proses pendidikan yang berkualitas. Menurut Wijana Kusumah (2009) guru ideal adalah sosok guru yang mampu menjadi panutan dan selalu memberi keteladanan.
Hal ini sesuai dengan salah satu indikator kompetensi kepribadian yang mesti dipenuhi oleh setiap guru yaitu menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat. Oleh karenanya keteladanan guru tidak bisa dinegoisasikan dengan apapun, karakter tersebut mesti terkristal dalam jiwa setiap guru.
Seperti dari pepatah Jawa yang menyatakan bahwa akronim dari guru adalah sosok yang mampu digugu dan ditiru. Bukan sekedar ungkapan tanpa makna, pepatah tersebut memang mesti diterapkan oleh masing-masing guru. Digugu mempunyai arti dipercaya atau dipatuhi, sementara ditiru berarti diikuti atau diteladani.
Sudah seharusnya seorang guru memiliki dua hal tersebut. Semua yang disampaikan dari guru mesti sebuah kebenaran yang menumbuhkan keyakinan dan segala tingkah lakunya haruslah menjadi contoh bagi setiap yang melihatnya.
Lewat perannya sebagai sosok yang digugu dan ditiru secara tidak langsung seorang guru telah mengajarkan karakter positif bagi siswa. Dan hal ini sangat penting, apalagi di era disrupsi sekarang ini yang seringkali mengabaikan penekanan pada pembentukan karakter.
Lihat saja tingkah laku remaja sekarang yang lebih memilih menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat seperti bermain game online, pergaulan tanpa aturan, dan lain-lain. Dengan demikian guru mesti hadir sebagai leading transformasi untuk perbaikan atas fenomena yang telah dijelaskan sebelumnya.
Namun sungguh disayangkan ternyata masih ada sebagian guru yang belum berhasil menjadi teladan di lingkungan sekolahnya. Mereka mempertontonkan sesuatu yang tidak semestinya diperlihatkan oleh siswa. Berbagai tindakan kekerasan pun dengan sengaja dilakukan.
Seperti data yang ditunjukkan oleh Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), berdasarkan pengawasan yang dilakukannya pada 2018 dan 2019 sebelum pandemi Covid-19, terdapat 72% kekerasan fisik di sekolah, 9% kekerasan psikis dan kekerasan seksual 2%.
Persentase itu bukan sekedar data manipulasi namun memang nyata adanya seperti kasus tindakan asusila yang dilakukan oleh kepala sekolah terhadap siswa SD di Medan yang sedang hangat diberitakan media. Untuk itu guru harus cepat menyadari hal ini dan segera bermetamorfosis menjadi guru yang mampu digugu dan ditiru.
Setidaknya ada beberapa hal yang mesti diperhatikan oleh guru agar ia berhasil menjadi seorang guru yang digugu dan ditiru diantaranya adalah selalu meningkatkan kapasitas keilmuan dalam menjalankan peran sebagai guru, kita percaya bahwa yang namanya ilmu pengetahuan tentu akan selalu berkembang sesuai dengan zamannya.
Menyadari hal tersebut maka seorang guru mesti selalu membekali dirinya dengan berbagai ilmu baru agar dapat beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang ada. Jangan salah, hal ini bisa menjadi salah satu peningkat motivasi belajar siswa.
Sebab mereka melihat bahwa gurunya sangat menguasai berbagai pengetahuan yang mesti diajarkan dan cara penyampaiannya pun dapat dengan mudah dipahami. Kemudian seorang guru hendaknya juga menjadi penggerak dalam lingkungan sekolah dan memiliki berbagai karya terbaik yang menjadi sumber inspirasi bagi siswa.
Lewat usaha dan langkah-langkah yang direkomendasikan maka besar harapannya agar semua guru dapat kembali pada khittahnya sebagai seorang guru ideal yang segala tindakannya memang sangat layak dijadikan sebagai teladan bagi siapapun.
Itu semua dapat tercapai ketika sosok guru sadar akan karakter wajib yang mesti dimilikinya yaitu mampu menjadi sosok yang digugu dan ditiru. Oleh karenanya tunggu apalagi mari persiapkan diri menjadi guru sejati yang memberikan keteladanan tanpa henti. (***) Editor : Novitri Selvia