Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Membaca Jiwa Zaman

Novitri Selvia • Jumat, 2 Desember 2022 | 13:05 WIB
Herlina Suryati Pengawas Sekolah Disdikbud Tanahdatar
Herlina Suryati Pengawas Sekolah Disdikbud Tanahdatar
Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia “Zaman Beralih, Musim Bertukar” mempunyai makna, segala sesuatu hendaklah disesuaikan dengan zaman. Pribahasa ini membuka mata kita menyikapi kondisi saat ini.

Segala sesuatu harus diselesaikan dengan zamannya. Termasuk belajar. Belajar itu selalu maju dan dinamis. Belajar itu tidak akan pernah habis. Ibarat kita menggali sumur. Semakin sumur digali, air yang ada dalam sumur semakin banyak.

Jiwa Zaman (zeitgeist) adalah pemikiran yang muncul dominan pada suatu masa atau waktu, dimana dalam masa itu sendiri mengambarkan dan mempengaruhi sebuah budaya. Tuntutan kepada guru, orangtua dan masyarakat harus bisa membaca jiwa zaman.

Bukan hanya membaca tetapi mampu mengendalikan semangat zaman demi harapan terhadap masa depan anak-anak kita. Dalam keseharian, kita sering mendengar pertanyaan yang lazim diterima anak usia sekolah ketika bertemu dengan saudaranya yang sudah lama tidak bertemu atau orang baru dikenal.

Pertanyaannya adalah Dimana sekolahnya? Kelas berapa? Senang tidak sekolah di sana? Jarang ditanya” Siapa gurumu? Bagaimana gurumu di sekolah?” Dengan pertanyaan seperti ini akan terbaca harapan yang diinginkan orang tua dan masyarakat yaitu sekolah yang didambakan, yang nyaman bagi anak-anaknya.

Orangtua tidak perlu mencari tahu siapa gurunya, bagaimana gurunya, cukup yang ditanyakan di mana sekolahnya. Hanya dengan mengetahui sekolah tempat anaknya belajar dengan tenang dan nyaman, mereka percaya bahwa sudah pasti guru-gurunya mumpuni.

Guru yang mengajar yang telah membentuk paradigma di sekolah tentunya “unggul” di mata orangtua tempat anaknya belajar. Bila diperhatikan di sekolah-sekolah yang jauh dari pusat kota, seperti sekolah tersulit atau di daerah pinggiran juga banyak guru mumpuni.

Pemahaman mereka tidak kalah hebat dan tidak dangkal terhadap wawasan ilmu dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang guru. Pemahaman tentang pendekatan pembelajaran terhadap tumbuh kembangnya murid mereka kuasai.

Namun adakalanya orang tua dan masyarakat terlanjur percaya terhadap sekolah-sekolah yang bergengsi. Sudah lupa dari tujuan belajar sesungguhnya. Pada hal belajar sebetulnya murid menimba ilmu untuk memuaskan dahaga belajarnya.

Sekolah sebagai tempat dimana anak-anak seumuran saling berinteraksi mengasah ilmu dan membentuk kepribadian di bawah pengawasan guru, membutuhkan guru-guru yang kompeten pada tugasnya.

Memang, setiap orang itu mempunyai ciri dan keunikan kompetensi. Kompetensi yang dimiliki seorang guru tidak akan pernah persis sama dengan guru yang lainnya. Maka perlunya guru menggali dan menimba ilmu pengetahuan. Karena ilmu pengetahuan itu tidak terbatas.

Semakin hari tantangan kian besar. Perjalanan kehidupan semakin tidak mudah. Anak-anak kita perlu “senjata” untuk bertahan serta berkembang di masa depan. Apa peran guru?
Menyiapkan murid untuk membuat dan menemukan senjata yang sesuai dengan dirinya.

Guru memberikan keterampilan dasar kepada murid-murid agar murid memiliki keterampilan menulis, membaca, berhitung dan bernalar. Keterampilan ini belum cukup, hanya sebagai alat, bukan tujuan. Ke empat keterampilan itu perlu diasah agar tajam.

Kembali guru berperan menyediakan kesempatan kepada murid untuk terus mengasah agar dapat mempertajam”pisaunya”. Sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman, anak berhak mendapatkan pendikan yang sesuai.

Sesuai dengan zamannya sendiri. Berkembangnya zaman dari waktu ke waktu membutuhkan pemahaman dari guru, orang tua dan masyarakat untuk merubah pikiran dan sikap. Sejatinya guru adalah seorang murid sejati.

Guru yang selalu membekali diri dan terus belajar bersama murid meningkatkan kompetensi sebagai seorang pembelajar. Kolaborasi antara guru, orangtua dan masyarakat perlu terjalin dengan baik.

Kemampuan membaca jiwa zaman terlahir dari hubungan komunikasi yang telah dibina. Dengan demikian terciptalah sekolah yang diinginkan sesuai harapan. Selamat Hari Guru Nasional. Semoga guru semakin jaya, berkualitas dan mampu mengikuti zaman. (***) Editor : Novitri Selvia
#Herlina Suryati #Membaca Jiwa Zaman