Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SMP Negeri 5 Batusangkar, Gelorakan Semangat Cinta Kearifan Lokal

Novitri Selvia • Selasa, 28 Februari 2023 | 14:24 WIB
KEARIFAN LOKAL : Guru SMPN 5 Batusangkar, Yusrijal Datuk Makhudun, S.Pd bersama para siswa usai pelaksanaan gelar Karya Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).(IST)
KEARIFAN LOKAL : Guru SMPN 5 Batusangkar, Yusrijal Datuk Makhudun, S.Pd bersama para siswa usai pelaksanaan gelar Karya Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).(IST)
Gelar Karya Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang dilaksanakan SMPN 5 Batusangkar memang telah berlalu. Namun di balik kegiatan itu, ada hal menarik yang membuat kita merasa senang dan takjub.

Ya itulah sejumlah gelar karya siswa yang ikut di laksanakan pada kesempatan itu. Bahkan melalui penampilan siswa tersebut, terasa ada nuansa berbeda yakni nuansa Minangkabau yang sangat kental tersaji di depan mata setiap tamu undangan yang datang.

Kegiatan bertemakan Kearifan Lokal Minangkabau ini Penampilan Alua Pasambahan dan Managua” dalam Kemasan Acara Baralek Perkawinan, yang tujuannya untuk memunculkan nuansa Minangkabau. Nuasa Minangkabau telah terlihat dalam persiapan acara.

Para siswa melibatkan diri dalam kegaian gorong royong. Mulai dari membersihkan tempat kegiatan, menghiasi tempat pelaksanaan, menyiapkan tikar, dan sebagainya. Semua itu membangkitkan rasa kearifan dalam diri siswa. Di mana siswa merasa bertanggung jawab untuk menyukseskan kegiatan tersebut.

Dalam kemasan acara beralek tersebut, ditampilkan beberapa pasambahan. Bahkan para siswa diperkenalkan dengan Bahasa Minangkabau yang berbeda dengan bahasa sehari-hari. Akan tetapi, menggunakan Bahasa Minangkabau ragam tinggi. Pasambahan ditampilkan dalam bahasa sastra.

Bahasa tersebut sarat dengan petatah-petitih, bahasa berkias, dan falsafah yang tinggi. Hal itu melatih para siswa untuk arif dan mampu menangkap makna pembicaraan dalam pasambahan yang ditampilkan.

Dalam kegiatan baralek, kita mengenal duduak beradat. Ada tata krama duduk yang harus diperhatikan. Dengan duduak baradat, siswa diperkenalkan dengan tatacara duduk yang sesuai dengan adat. Laki-laki duduk baselo.

Sementara itu, perempuan duduk basimpuah. Tata cara duduk mengandung makna, maksud, dan falsafah yang dalam. Ada beberapa larangan duduk ketika baralek. Kita tidak boleh duduk telunjur, duduk sambil menegakkan lutut, duduk dengan gelisah, atau duduk baselo bagi perempuan.

Para siswa Proyek P5 juga juga dikenalkan dengan pakaian adat Minangkabau. Pakaian anak daro dan marapulai yang indah dan penuh pernak-pernik, serta warna yang menarik. Bagi tamu yang menghadiri acara baralek adat juga ditentukan pakaiannya. Laki-laki memakai celana panjang (bahan dasar).

Sangat dilarang memakai levis dan sejenisnya. Laki-laki memakai baju kemeja lengan panjang. Tidak dianjurkan memakai baju kaus, apalagi kaus oblong. Perempuan memakai baju kurung yang longgar dan tidak tipis. Pakaian perempuan dilengkapi dengan tutup kepala, seperti tangkuluak, selendang, atau jilbab.

Para siswa mengikuti kegiatan manjapuik marapulai. Marapulai merupakan orang yang dihormati. Ketika manjapuik marapulai juga dihadirkan pasambahan. Acara pasambahan manjapuik marapulai dilaksanakan untuk menggambarkan marapulai pergi atas izin dari mamak dan kaumnya. Marapalai akan diantarkan oleh mamak dan kaumnya ke rumah anak daro.

Setiba di rumah anak daro, marapulai ditagua. Marapulai disambut dengan managua yang dilakukan oleh kaum perempuan. Kegiatan ini mencerminkan keramah-tamahan dan suka citanya tuan rumah menyambut marapulai dan anak daro. Managua merupakan apresiasi terhadap marapulai dan anak daro serta keluarganya.

Para siswa juga mempraktikkan bagaimana makan beradat. Makan beradat diawali dengan pasambahan makan dan minum. Makan beradat mengajarkan kebersamaan, kehalusan budi, dan kearifan. Ketika makan peserta didik diajarkan tata cara makan.

Makan tidak boleh mancapak atau berbunyi ketika mengunyah makanan. Ambillah makanan yang bisa dijangkau. Jangan meminta makanan yang letaknya jauh. Ketika makan dilarang berbicara. Dahulukan orang yang lebih tua atau orang yang dihormat untuk mengambil makanan.

Peserta meminta izin ketika akan mencuci tangan selesai makan atau makan di akhiri dengan pasambahan pendek setelah semua orang selesai makan. Setelah makan, dilakukan pasambahan maanta marapulai. Hal itu dimaksud agar keluarga anak daro dapat menerima marapulai dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Jika ada kelebihannya, diharapkan akan dapat memberikan solusi bagi permasalahan ada, baik dalam keluarga maupun di masyarakat. Seandainya ada kekurangan marapulai, dimohonkan kepada pihak si pangka memberikan arahan dan bantuan.

Selesai kegiatan baralek, meminta izin pulang. Tamu dan tuan rumah akan meninggalkan rumah ketika sudah dizinkan. Kegiatan ini didahului dengan pasambahan mintak pulang atau pasambahan turun tanggo.

Dalam pasambahan ini disampaikan bahwa acara sudah selesai. Tamu akan meminta maaf sekiranya ada kesalahan selama acara berlangsung. Mereka menyadari banyak kesalahan, baik sikap maupun tingkah laku. Sebaliknya, tuan rumah juga demikian. Mereka mohon maaf kalau ada kesalahan yang telah diperbuat.

Makannya kurang enak, minumnya kurang sejuk, atau duduk tidak pada tempatnya. Setelah saling memaafkan, tamu (si alek) meninggalkan rumah terlebih dahulu. Setelah itu, diikuti oleh tuan rumah (si pangka). Melalui gelar karya tersebut, siswa diperkenalkan nilai budaya Minangkabau dan Profil Pelajar Pancasila.

Siswa mengalami langsung untuk menyalakan semangat dalam menyerap nilai-nilai edukatif yang diimplementasikan melalui proyek P5 tersebut. Kegiatan tersebut memberikan pengalaman langsung kepada siswa sehingga nilainya akan menyatu di hati mereka.(***) Editor : Novitri Selvia
#SMP Negeri 5 Batusangkar #Acara Baralek #Semangat Cinta Kearifan Lokal