Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang, Prestasi dan Sensasi

Novitri Selvia • Selasa, 19 September 2023 | 12:32 WIB
PENUH PERHATIAN: Wali Kota Padang, Hendri Septa didampingi Kadisdik Kota Padang, Yopi Krislova ketika meresmikan gedung baru SDN 27 anakaia, Kecamatan Kototangah, Padang. Ini sebagai bentuk dukungan pembangunan bidang pendidikan, termasuk dengan kehadiran
PENUH PERHATIAN: Wali Kota Padang, Hendri Septa didampingi Kadisdik Kota Padang, Yopi Krislova ketika meresmikan gedung baru SDN 27 anakaia, Kecamatan Kototangah, Padang. Ini sebagai bentuk dukungan pembangunan bidang pendidikan, termasuk dengan kehadiran
Prestasi dan sensasi. Dua suku kata ini, boleh dikatakan adalah hal yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Mereka saling berjalan beriringan. Dengan adanya prestasi, tentunya akan berefek pada upaya untuk mempertahankan dan mendapatkan pengakuan dari luar, dengan harapan dapat meningkatkan motivasi berlipat untuk lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Sama halnya dengan pengorbanan yang tulus seorang ibu terhadap anaknya. Bahkan, ketika fajar menyingsing dan suara kokok ayam bersahutan di pagi hari, ibu-ibu tanpa lelah sibuk didapur menyiapkan sarapan.

Dan bekal bagi keluarganya untuk berangkat kerja dan sekolah bagi anaknya yang berada di tingkatan PAUD, SD dan SMP. Khusus untuk tingkatan SMP yang saat ini sudah menerapkan sekolah selama 5 hari, pengorbanan ibu-ibu ini hanya satu, agar anaknya berhasil nanti di setiap jenjang pendidikan yang diinginkannya.

Seorang ibu akan merasa bangga dan bahagia apabila berhasil melihat anaknya berhasil menjadi juara di kelas. Dan menorehkan prestasi sesuai dengan bidang yang diinginkannya.

Hal ini tidak terlepas dari kerja sama dan kolaborasi yang baik antara orangtua dan guru. Apabila hanya menyerahkan kepada guru, sedangkan orangtua apatis kalau di sekolah sudah menjadi tanggungjawab guru, stigma ini salah besar dan tidak bisa dibenarkan.

Ketika terjadi persoalan atau masalah keluarga, ketika mendapat pembelajaran dari seorang guru, peserta didik tidak maksimal dalam mendapatkan pembelajaran. Dan apa yang kita harapkan tidak tercapai.

Untuk itu sinergi antara orangtua dan guru sangat dibutuhkan sekali. Saat ini, di tengah gempuran informasi dan teknologi yang tiada batas, sudah merubah cara pikir dan pandangan anak-anak kita. Mereka lebih cenderung main game dan asik dengan dunianya sendiri.

Ketika komunikasi dan teknologi digunakan untuk mendukung pembelajaran atau menambah ilmu pengetahuan ini tentunya akan sangat baik sekali. Tetapi ada kala teknologi digunakan untuk hal-hal yang negatif yang nanti merusak mental.

Untuk meraih prestasi, dibutuhkan waktu dan semagat juang dan keseriusan dalam proses belajar mengajar, apalagi saat ini pemerintah telah menetapkan Kurikulum Merdeka yang berbasis kepada kemampuan peserta didik. Ditambah lagi dengan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).

Di mana diharapkan pelajar mampu berprilaku sesuai dengan nilai-nilai pancasila, dan mampu beriman kepada tuhan yang maha esa, berkebhinekaan global, memilki nilai gotong royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif.

Kesemuanya itu, tentunya agar pelajar saat ini bisa menjadi generasi emas di tahun 2045 dengan tetap menjunjung nilai pancasila dan budayanya. Untuk itu, saat ini kita menerapkan muatan lokal untuk membentuk pelajar yang berprestasi tanpa meninggalkan budayanya.

Saat ini banyak masyarakat tidak bisa membedakan mana yang bisa diunggah atau di-upload di media sosial yang secara tidak langsung bisa merugikan orang lainnya. Banyak pelajar yang ingin karena gagah-gagahan meng-upload kegiatan.

Apakah tawuran, perundungan, dan kegiatan lainnya yang pada intinya untuk meningkatkan konten dan menjadi terkenal. Oleh sebab itu, kolaborasi antara orangtua dan guru sangat dibutuhkan sekali.

Prestasi yang lama untuk meraihnya akan sirna gara-gara sensasi yang dibuat untuk konten, yang secara langsung akan merusak nama dan citra sekolah kita, serta Pemerintah Daerah.

Seperti yang terjadi di beberapa daerah. Karena itu, dibutuhkan kolaborasi yang baik antara orangtua dan murid dalam membimbing dan mendidik anak menjadi manusia berakhlak dan berilmu pengetahuan. (Yopi Krislova, SH, MM, KEPALA DINAS PENDIDIKAN) Editor : Novitri Selvia
#sensasi #Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang #Yopi Krislova #prestasi