Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SDN 01 Situjuah Gadang: Guru Ceria dan Kreatif, Belajar Literasi Menyenangkan

Novitri Selvia • Rabu, 6 Desember 2023 | 12:33 WIB
ANTUSIAS: Sejumlah murid SDN 01 Situjuah Gadang terlihat sedang asyik membaca di ruang perpustakaan. Ini bagian dari upaya pihak sekolah untuk menanamkan literasi kepada murid sejak dini.(TIM LAMAN GURU)
ANTUSIAS: Sejumlah murid SDN 01 Situjuah Gadang terlihat sedang asyik membaca di ruang perpustakaan. Ini bagian dari upaya pihak sekolah untuk menanamkan literasi kepada murid sejak dini.(TIM LAMAN GURU)
Wahai para guru yang di guguh dan ditiru, renungkanlah. Sebelum anda menjadi seorang guru tentu anda pernah dididik dan di ajar guru dari berbagai tingkat pedidikan sampai ke jenjang perguruan tinggi. Siapa di antara orang-orang yang berjasa itu terkesan di hati, sehingga menjadi favorit anda sepanjang masa.

Setelah merenung dan mengingat masa-masa diajar dan dididik, silahkan anda senyum-senyum sendiri mengenang perangai dan perlakuan guru masa-masa yang lalu terhadap anda. Penulis sendiri juga punya cerita.

Tersebutlah Bukhari Ilyas, guru yang sangat ceria, mudah senyum dan sangat lucu. Bukhari mengajar PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Metode mengajar yang beliau gunakan adalah metode yang sangat sederhana yaitu metode cerita atau metode ceramah.

Kami hanya duduk diam terpaku terkadang kami terpingkal-pingkal. Walau suasana terasa agak riuh, namun dengan materi yang beliau kemas dalam bentuk cerita. Dan beliau sampaikan pula dengan penuh ceria, kami tetap bisa berliterasi dalam setiap contoh yang beliau berikan.

Walau dengan metode sederhana dan tentunya jauh dari kecanggihan proses pembelajaran seperti saat ini. Namun terkesan di hati setiap alur cerita yang dia kemas dengan baik. Saking asiknya belajar dengan beliau, kami menunggu jadwalnya yang hanya dua jam dalam seminggu.

Kami menunggu dengan penuh harap, dan khawatir dia tidak hadir di jam giliran pelajaran PMP tersebut. Jika beliau telah masuk ke kelas kami, kami sangat bahagia. Karena asiknya belajar dengan beliau, waktu berjalan tanpa terasa. Dan kami akan kecewa jika jam beliau telah berakhir.

Dari segelumit kisah nyata di atas hendaklah para guru dan calon guru bisa mengambil kesimpulan. Guru hebat yang bisa membuat siswa mendapatkan nilai sempurna dalam pembelajaran Matematika contohnya. Belum tentu memnberi kesan mendidik. Karena seorang guru terlalu menuntut siswanya untuk pintar dengan berbagai cara dan metode.

Sementara guru ceriah akan mengemas pembelajarannya dalam bentuk metode yang menyenangkan dan selalu ceria sepanjang pembelajaran berlangsung. Guru ceria bisa memberi kesan yang sangat menyenangkan dalam belajar, sehingga tersimpan di memori siswanya.

Memilih untuk jadi guru, jangan bermimpi untuk hidup kaya bergelimang harta seperti halnya pengusaha. Jika jadi guru adalah takdir yang dicita-citakan, maka ikhlas kan jiwa dan raga anda mengabdi untuk anak didik yang nasibnya ditumpangkan pada tanggung jawab anda.

Jika guru mengawali niatnya dengan tulus untuk menjadi insan pendidik, tidak susah bagi mereka untuk bisa menjadi guru yang ceria, dan tentunya menyenangkan siswa-siswinya. Menjadi guru yang ceria tentu bukan karakter yang harus teruji sebelum kita jadi seorang guru.

Namun belajarlah menjadi guru yang ceria. Jikapun tidak berkepribadian ceria, maka belajarlah memiliki karakter ganda selain karakter yang di bawah semenjak lahir. Apapun masalah hidup yang dihadapi seorang guru harus mengesampingkannya jika menghadapi peserta didik.

Walaupun penulis seorang guru yang hanya bisa menulis dan berteori, namun penulis masih banyak kekurangan ilmu bagaimana semestinya menjadi guru yang ceria dan kreatif, sehingga benar-benar bermanfaat untuk anak didik. Terkadang penulis merasa berdosa. Karena dari ketidaktahuan penulis itu, penulis telah membuat siswa-siswi penulis menjadi gagal berliterasi dalam hidupnya.

Diberi Bimbingan

Pada awal bulan November 2023, lebih kurang seratus Sekolah Dasar Negeri se Sumatera Barat di undang ke hotel Basko Padang. Undangan itu adalah untuk yang nilai literasi sekolahnya turun dari tahun sebelumnya yaitu dari tahun 2021.

Kepala sekolah dan satu guru dilatih dan diberi pembimbingan dalam rangka pemulihan nilai literasi pada ujian AMBK. Pelatihan dan pembimbingan itu diberikan oleh dua orang pengawas yang hebat dan tentunya dia sebagai nara sumber pilihan.

Penulis sendiri ikut terjaring dengan nilai rendah. Karena turun drastis yaitu 33% dari tahun sebelumnya. Walau penulis merasa malu terundang, karena bernilai rendah. Namun penulis bersyukur bisa di bimbing dan diajar orang hebat dalam implementasi literasi.

Selama tiga hari tiga malam penulis menerima bimbingan dan pelatihan dari nara sumber, penulis sangat antusias mengikutinya. Karena penulis tidak ingin satupun materi dari narasumber itu terlewatkan.

Kesimpulan yang dapat penulis peroleh dari tiga hari pelatihan adalah: implementasi literasi multimodal di sekolah memang sudah berjalan. Tetapi pelaksanaan literasi itu di sekolah belum terkemas dengan begitu apik, menarik dan menyenangkan.

Perputakaan sudah ada tapi belum sempurna pengelolaannya. Siswa di suruh ke pustaka hanya untuk membaca tanpa ada program yang terperinci sebagaimana sesungguhnya.
Pustaka kelas sudah dibentuk di setiap sudut ruangan kelas, di sampingnya terbentang tikar permadani yang indah, anak-anak di suruh membaca.

Sekali dua kali mereka memang membaca, kemudian mereka merasa bosan. Akhirnya pustaka dan sudut baca hanyalah hiasan kelas. Poster-poster memenuhi dinding kelas, di tempel secara rapi dan menarik, namun tidak pernah dimanfaatkan sebagai bahan literasi. Akhirnya poster-poster hanyalah penghias dinding ruangan kelas.

Gerobak baca dibikin, di sana disusun rapi buku-buku bacaan. Untuk beberapa kali siswa memang membaca secara bersama ketika jam istirahat. Karena tanpa ada program yang jelas, akhirnya gerobak baca tidak lagi jadi sumber literasi, melainkan jadi mainan anak-anak.

Gerobak di dorong kesana kemari. Buku–buku berdebu tanpa terawat. Sungguh menyediakan, akhirnya gerobak baca di dorong ke dalam gudang. Pondok literasi dibikin secara permanen di setiap sudut halaman, dihiasi dengan tanaman bunga warna-warni. Namun itu hanya sebagai pondok tempat siswa duduk-duduk tanpa ada kegiatan literasi di sana.

Itulah sumber literasi multimodal yang ada di setiap sekolah namun terabaikan karena tampa sentuhan seorang kepala sekolah atau guru yang kreatif. Guru kreatif tentu menjadi guru ceria dan bisa menyenangkan berliterasi bersama siswanya.

Guru ceria mampu mengintegrasikan literasi multimodal ke dalam materi yang akan di ajarkan pada siswa. Dalam hal ini penulis akan mencoba merangkumnya satu persatu. Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah dan Perpustakaan kelas.

Guru ceria akan menyusun program dengan memanfaatkan perpustakaan sekolah untuk mengintegrasikan materi pelajaran yang akan di sajikannya. Masuk ke perpustakaan tentulah dengan tujuan membaca. Namun seorang guru yang ceria dan kreatif akan memilah mana membaca untuk kesenangan, dan mana pula membaca untuk pembelajaran.

Membaca untuk kesenangan boleh di mulai dari kelas satu sampai kelas dua. Sebelum pelaksanaan PBM guru ceriah menyusun langkah-langkah untuk membaca kesenangan. Guru memilih beberapa judul buku, kemudian menyajikan dalam bentuk membaca nyaring bagi kelas rendah.

Guru duduk di kursi dikelilingi siswa yang duduk di karpet pustaka, atau bisa juga di dilakukan di sudut baca kelas. Guru dengan ceriah membacakan sebuah cerita dengan suara tokoh, mimik serta gesture tubuh yang menyenangkan. Sekali-sekali siswa di ajak berdialok mengomentari cerita dalam buku.

Sehingga konsentrasi siswa terfokus. Karena penasaran dengan kejadian akhir cerita. Bapak/ibu guru harus tahu bahwa menurut data kesehatan yang dipublikasikan Bran Balance Center konsentrasi siswa. Disebutkan kalau rentang konsentrasi anak yang ideal dua hingga tiga menit di kali usia mereka.

Maka jangan salahkan diri sendiri. Karena merasa tidak mampu menguasai kelas di waktu siswa tidak tertarik pada materi yang kita sajikan. Karena memang masa konsentrasinya telah habis sehingga mereka menjadi bosan.

Berliterasi di perpustakaan bisa juga untuk membaca pembelajaran, guru kreatif dan ceria akan mengintegrasikan buku bacaan yang menunjang materi pelajaran. Untuk kelas tinggi guru dan siswa sama-sama membaca. Bacaan itu boleh sama boleh berbeda, tapi ada materi pelajaran di dalamnya.

Di akhir pelajaran guru mengevaluasi literasi dengan meminta suatu kesimpulan dari buku. Atau bisa juga merangkum kata sulit, serta menceritakan kembali isi buku yang mereka baca. Kegiatan literasi yang terkontrol dan terprogram akan membuat guru menjadi ceria dan tentunya bisa menyenangkan bagi siswa.

Kesenangan membaca sudah menjadi suatu modal bagi seorang siswa untuk menjadi kutu buku, dan ketagihan membaca. Bahkan bisa menjadikan mereka penulis hebat suatu saat nanti. Poster-poster di susun di dinding kelas dengan indah dan teratur, jangan biarkan poster jadi benda mati tanpa tujuan.

Ajaklah mereka berkeliling dengan matanya di setiap tempelan poster di dinding kelas itu. Setiap poster dipajang dan ditempel jangan biarkan siswa melewatkannya tanpa makna literasi. Pondok baca yang dibikin dengan dana yang tidak sedikit jangan biarkan terlantar percuma.

Manfaatkan lah pondok literasi itu dengan berbagai ajang kegiatan di luar kelas. Guru kreatif dan guru ceria akan selalu mencari suasana belajar yang menyenangkan. Guru dan siswa bisa bisa membaca puisi di alam terbuka seperti di pondok-pondok baca.

Kesimpulan dari tulisan penulis di atas banyak cara bagi guru kreatif untuk bisa menjadi guru ceria sepanjang waktu. Banyak lah belajar dari yang telah di suguhkan program merdeka mengajar saat ini. Agar para guru bisa menjdikan siswa terlatih menjadi seorang pembaca dan penulis. (Nurma, S.Pd, M.Pd, KEPALA SDN 01 SITUJUAH GADANG) Editor : Novitri Selvia
#SDN 01 Situjuah Gadang #Guru Ceria #Nurma #Literasi Menyenangkan