Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

UPT SMP Negeri 1 X Koto, Pentingnya Pelajari Penyelenggaraan Jenazah Bagi Generasi Muda

Novitri Selvia • Jumat, 5 April 2024 | 13:34 WIB

BEKAL ILMU: Suasana penyelenggaraan jenazah yang dipraktikan kepada siswa UPT SMP Negeri 1 X Koto dalam kegiatan Pesantren Ramadhan 1445 H.(TIM LAMAN GURU)
BEKAL ILMU: Suasana penyelenggaraan jenazah yang dipraktikan kepada siswa UPT SMP Negeri 1 X Koto dalam kegiatan Pesantren Ramadhan 1445 H.(TIM LAMAN GURU)
Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan. Demikian kandungan surah Al-‘Ankabut ayat 57 tersebut, yang menjelaskan bahwa kematian adalah hal yang pasti menimpa semua makhluk hidup tanpa terkecuali.

Kematian akan dirasakan tiap-tiap manusia yang bernyawa, tidak pandang kaya atau miskin, tua atau muda, sakit ataupun sehat. Perihal kematian ini tidak ada seorang pun yang dapat menerkanya. Ketika berbicara tentang kematian, maka satu hal yang perlu diketahui dan dipahami adalah penyelenggaraan jenazah.

Penyelenggaran jenazah adalah suatu kewajiban yang harus ditunaikan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Namun, sekarang ini pemahaman terkait tata cara penyelenggaraan jenazah ini sangat minim.

Biasanya di kampung-kampung atau di suatu daerah, yang dapat melaksanakan penyelenggaraan jenazah ini adalah para golongan tua. Sangat sedikit kalangan remaja atau anak muda yang mampu dalam penyelenggaraan jenazah ini.

Sangat disayangkan jika hal yang merupakan suatu kewajiban ini tidak dipahami oleh generasi muda. Bahkan, tidak jarang kita dapati penundaan penyelenggaraan jenazah karena orang yang biasa menyelenggarakannya sedang tidak di tempat. Akhirnya jenazah harus menunggu untuk diselenggarakan.

Hal ini dapat terjadi karena kurangnya bekal ilmu yang dimiliki oleh para generasi muda terkait penyelenggaraan jenazah. Ketika di bangku sekolah, dalam pembelajaran di kelas belum terlalu dibahas secara tuntas dikarenakan jumlah jam yang terbatas dan materi yang padat untuk diajarkan.

Akhirnya, para siswa hanya mempelajari sedikit saja tentang penyelenggaraan jenazah. Para siswa biasanya diperlihatkan tata cara memandikan, mengafani, hingga menshalatkan. Selanjutnya, para siswa diminta untuk menghafalkan bacaannya.

Namun, untuk praktik mereka masih kaku bahkan dapat dikatakan belum bisa. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan waktu untuk mempelajarinya di kelas. Menyikapi hal itu, maka dalam kegiatan Pesantren Ramadhan di UPT SMP N 1 X Koto, diadakan kegiatan Praktik Penyelenggaraan Jenazah.

Kegiatan ini dibimbing oleh Ustad Megi Riski Tuanku Imam Malin Nan Basa. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari. Hari pertama, dimulai dengan pemberian pemahaman tentang pentingnya penyelenggaraan jenazah dan tata cara penyelenggaraan jenazah.

Para siswa dan guru-guru sangat antusias dalam mengikuti kegiatan. Ustad Megi memberikan penjelasan secara mendetail agar para siswa dapat memahami dengan baik dan dapat mempraktikkannya dalam kehidupannya sehari-hari.

Penyelenggaraan jenazah harus dilakukan dengan baik dan benar, harus sesuai dengan tata cara yang benar. Namun, tetap saja ada beberapa bentuk penyelenggaraan yang berbeda untuk tiap-tiap daerah, tetapi untuk hal yang rukun tetap sama.

Penyelenggaraan jenazah ini bukan hanya berbicara pada saat mengurusi jenazahnya saja, tetapi dimulai dari saat helaan nafas terakhirnya, yaitu mengantarkan jenazah meninggal dengan menyebut nama Allah. Selanjutnya barulah masuk ke tahap memandikan, mengafani, menshalatkan, dan menguburkan jenazah.

Langkah pertama yang dilakukan dalam penyelenggaraan jenazah adalah memandikan jenazah. Apabila seseorang meninggal dunia, maka wajib bagi sekelompok muslim untuk segera memandikannya. Dalam urusan memandikan mayat.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan di antaranya hendaknya memandikan dengan hitungan ganjil, hendaklah menggunakan air yang dicampur dengan sidrin (daun bidara), atau yang serupa seperti sabun, melepaskan segala hal yang dapat menghambat lalunya air seperti gulungan rambut, memulai memandikan dari bagian sebelah kanan.

Untuk yang memandikannya, jika mayatnya laki-laki hendaklah yang memandikannya laki-laki, dan jika mayatnya perempuan maka yang memandikannya adalah perempuan. Namun, ada pengecualian, yakni suami/istri dan anak.

Memandikan mayat adalah suatu ibadah yang bernilai pahala. Ada dua hal yang perlu dipahami dan dijaga oleh yang memandikan mayat, yaitu merahasiakan apa yang telah dilihatnya dari sang mayat, hal-hal yang mungkin kurang disenangi ataupun hal-hal yang terjadi pada si mayat.

Hal ini berdasarkan pada Sabda Rasulullah: “Barang siapa yang memandikan mayit, lalu ia melakukan tugas dengan baik dan tidak membukakan rahasianya pada waktu itu, niscaya dia keluar dari dosa-dosanya seperti hari dia dilahirkan oleh ibunya. (H.R. Ahmad Dan Ibnu Majah).

Hal kedua adalah hendaknya dalam memandikan mayat tujuan semata-mata adalah mengharapkan ridho Allah. Memandikan jenazah tidak serta merta hanya mengguyurkan air dan membersihkan mayat saja, tetapi ada beberapa tata cara yang harus dilakukan secara runtut dan benar.

Memandikan mayat dimulai dengan mengangkat mayat dan meletakkan ke tempat pemandian. Untuk posisi mayat ini, diharapkan berada pada tempat yang agak tinggi agar orang yang memandikan dapat memandikan dengan baik dan sempurna.

Sebelum memandikan mayat, diawali dengan membaca niat baru dilanjutkan dengan menyiram mayat dari sisi sebelak kanan secara perlahan dan menahan air yang jatuh ke tubuh si mayat dengan telapak tangan. Ini merupakan etika kita terhadap si mayat.

Selanjutnya, mayat dibersihkan, diberi sabun, lalu kembali dibersihkan dengan air. Hal yang paling penting adalah memastikan mayat dalam keadaan suci dan tidak ada kotoran lagi di dalam perutnya. Untuk memastikannya, orang yang meandikan harus menekan secara perlahan perut si mayat agar kotoran si mayat keluar dan dapat dibersihkan.

Proses memandikan mayat ini diakhiri dengan mewudhukan si mayat. Mewudhukan si mayat ini sama dengan kegiatan berwudhu ketika hendak melaksanakan shalat. Tahap selanjunya adalah mengafani jenazah.

Pada kegiatan ini, Ustad Megi mempraktikkan secara langsung bagaimana cara mencabik/merobek kain kafan, hingga mengikat tali pengikatnya. Ini adalah bagian yang ditunggu-tunggu. Tidak hanya para siswa tetapi para guru juga terlihat sangat penasaran. Ini tentu pembelajaran yang sangat penting sekali untuk dipelajari.

Mengafani mayat dimulai dari mencabik/merobek kain kafan yang akan dijadikan pengikat kain nantinya. Untuk jumlah lembaran/ hamparan kain kafan ini tiap daerah akan berbeda-beda, ada yang menggunakan lima helai, ada yang tujuh helai, tetapi hal ini bukanlah suatu hal yang dipertentangkan.

Setelah kain dirobek pinggirnya, maka selanjunya dibuatkan alasnya dari kapas, Sebagian daerah ada yang membuatkan bantal dan kasurnya. Kembali lagi ini bukanlah hal yang mutlak yang wajib dilakukan seperti itu. Pada intinya, ketika mengafani ini kita perlu memperlakukan mayat dengan sebaik-baiknya.

Jadi, tanpak jelas bahwa proses penyelenggaraan jenazah ini memanglah sangat penting dipahami. Hal ini sangat berguna bagi kita, karena nantinya dapat kita praktikkan saat keluarga dan kerabat kita yang meninggal.

Jika generasi muda telah memiliki bekal ilmu penyelenggaraan jenazah, maka tidak ada alasan lagi untuk menunda penyelenggaraan jenazah jika kalangan tua belum ada di tempat. Generasi muda adalah harapan bangsa. So, jangan berhenti belajar, teruslah mencari ilmu. Dengan ilmu engkau akan dihormati dan dihargai. (Yuliana Putri, S.Pd, GURU UPT SMP NEGERI 1 X KOTO)

Editor : Novitri Selvia
#Penyelenggaraan Jenazah #UPT SMP Negeri 1 X Koto #Yuliana Putri