Perubahan seperti apa? Perubahan pembelajaran sesuai kodrat alam dan zamannya murid kita. Bagaimana cara guru agar bisa melakukannya? Pertanyaan itu sering terlontar juga di kalangan guru. Sebenarnya, gampang dan mudah itu bergantung pada pola pikir dan niat di hati.
Jika guru berpikir itu susah, maka ia akan susah. Dan sebaliknya jika guru berpikir itu mudah, maka akan mudah. Kuncinya adalah ubah pola pikir dan mulai open minded. Mengubah pola pikir dapat dilakukan secara berangsur-angsur.
Kemudian menanamkan dalam diri mulai berpikir positif, tidak nengatif lagi. Berkata dalam hati “ Saya akan mencoba dan saya bisa, saya mampu, insyaallah”. Melakukan perubahan itu gampang. Tetapi gampang itu butuh proses. Mari mulai lakukan, bukan hanya sekedar omdo alias omong doang.
Mari bangkit untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran yang benar-benar sesuai korat murid. Zaman sekarang sudah canggih dan milenial. Namun, proses pembelajaran masih ada guru yang menggunakan metode pembelajaran tradisional.
Artinya apa, masih datang, duduk, beri tugas, catat dan kita istirahat, masuk lagi lalu pulang. Ini tidak sesuai dengan pembelajaran di era sekarang. Sekarang bukan zaman batu yang mana guru hanya melepaskan tanggungjawab mengajar saja.
Murid sekarang sudah ikut perkembangan teknologi salah satunya menggunakan HP. Setiap hari tidak lepas dari HP. Jadi, kalau guru tidak bisa memberikan yang bisa menarik perhatian murid, maka murid akan acuh dan tidak fokus terhadap pembelajaran yang diberikan guru.
Ujung-ujungnya guru naik darah alias marah-marah. Akibatnya murid semakin malas belajar dan tidak mau mengulang pelajarannya. Untuk itu guru harus mulai melakukan pembaharuan. Mulai dari niat. Niatkan untuk melangkah, merubah pola pikir.
Belajar untuk bisa. Tidak ada yang tidak bisa bila kita memulainya. Salah satu yang dapat dilakukan awalnya adalah menciptakan suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan. Kelas yang bagaimana seharusnya diciptakan?
Kelas yang harus luas dan baru? Tentu tidak. Kelas yang bersih salah satunya. Dan guru bisa menyulapnya dengan nuansa pemajangaan literasi yang sesuai dengan pembelajarannya. Isi dengan berbagai hal menarik yang bisa membuat mereka tertarik dan betah di kelasnya.
Apalagi bila sekolah tidak memiliki ruang perpustakaan, guru bisa menjadikan kelas sebagai tempan literasi. Kelas bukan hanya sekedar tempat belajar seperti biasa, namun guru dapat berinovasi membuat murid merasa terpanggil datang ke kelas untuk membaca, mengenal hal lainnya dengan menghias kelas dengan keunikan tertentu.
Berikut hasil yang sudah saya dan teman-teman lakukan di UPT SN 12 Paninjauan. Mulai dari penentuan letak kelas dan hiasan kelas. Sehingga masing-masing kelas sudah ada temanya yang menarik. Kelas satu tema alam, kelas dua dengan kaligrafinya.
Kelas tiga temanya semangat baru. Kelas empat temanya perubahan. Kelas lima temanya ayo bangkit. Kelas enam temanya mari bersama bahagia. Melakukan inovasi kelas dengan menhias tidak harus membutuhkan biaya yang mahal.
Guru bisa memanfaatkan barang yang bisa diberdayagunakan. Seperti botol bekas, gulungan plastik bekas, kardus bekas, gelas plastik bekas makanan, dan lainnya. Intinya mau untuk merubah. Biayanya dari mana? semua harus dari sekolah? Tentu tidak.
Sesekali berikan, keluarkan dari kantong juga alhamdulillah. Karena rezeki kalau dikeluarkan untuk kebaikan, maka akan mengalir lagi dengan sendirinya dari berbagai sudut juga. Jangan takut rezeki berkurang dengan mengeluarkannya di jalan yang benar.
Untuk itu mari kita mulai dengan kata mau. Maka semua akan terasa ringan untuk dikerjakan. Jangan hanya menunggu, tapi ayo bergerak. Semangat melakukan perubahan agar pembelajaran menjadi menarik dan menyenangkan. Ayo mulai berubah dari kelas kita sendiri. (Elmi Yanti, S.Pd, GURU UPT SDN 12 PANINJAUAN)
Editor : Novitri Selvia