Oleh sebab itu, guru harus dapat memberikan tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah yang dapat membahayakan dirinya. Sekolah merupakan tempat untuk menyemai benih-benih kebudayaan. Kebudayaan dibentuk dengan pembiasaan.
Pembiasaan yang dilakukan secara rutin akan menjadi budaya sekolah. Budaya sekolah akan menjadi karakter bagi seseorang.
Oleh sebab itu sekolah sebagai lingkungan pendidikan menjadi tempat paling strategis dalam membentuk sikap dan karakter siswa.
Lingkungan pendidikan sejatinya dapat menumbuhkan nilai-nilai baik pada diri setiap siswa. Dalam hal ini peran guru sangatlah penting.
Guru harus mampu menjadi contoh teladan yang menerapkan budaya baik sebagai panutan bagi siswa. Guru diharapkan dapat menjadi teladan dalam bertutur kata, bersikap, berkomunikasi dan sebagainya. Guru harus dapat menginspirasi dan mendukung perkembangan postif setiap siswanya. Oleh Sebab itu, perlu ditumbuhkan budaya positif di sekolah.
Budaya sekolah yang positif merupakan suatu lingkungan dimana semua pihak, mulai dari siswa, guru, orangtua, dan komunitas sekitar mampu menciptakan atmosfir yang mendukung dan memotivasi untuk siswa dapat belajar dan berkembang dengan baik.
Dalam budaya sekolah yang positif, maka akan terbentuk nilai-nilai postif seperti saling menghargai, kerjasama, kedamaian, dan semangat pantang menyerah yang menjadi landasan setiap interaksi di lingkungan sekolah.
Dalam lingkungan sekolah yang menerapkan budaya positif, juga akan mampu memberikan dukungan dan penerimaan terhadap keberagaman. Baik keberagaman agama, budaya, bahasa daerah, maupun latar belakang kehidupan setiap warga sekolah.
Keberagaman tidaklah dianggap sebagai suatu hal yang patut dipermasalahkan atau menjadi tantangan untuk kemajuan sekolah. Melainkan kebergaman dianggap sebagai kekuatan dan memperkaya pengalaman setiap warga sekolah.
Dalam lingkungan sekolah yang menerapkan budaya positif juga akan mencerminkan rasa aman, nyaman bagi setiap warga sekolah. Setiap individu mampu mengekspresikan dirinya, tanpa rasa takut atau pun ragu dalam berbuat. Asalkan tindakan yang dilakukan tidak merugikan bagi orang lain.
Semua warga sekolah harus dapat berperan aktif agar tumbuh dan berkembangnya budaya positif di sekolah. Satuan pendidikan memiliki peran dan tanggungjawab yang besar untuk penanaman nilai-nilai di sekolah.
Diantara nilai-nilai tersebut antara lain, saling menghargai, saling menghormati, tepo seliro, dan toleransi akan beragam perbedaan baik yang sifatnya personal, local dan nasional, maupun keragaman dalam konteks global. Tercapainya semua itu, juga tidak terlepas dari peran semua warga sekolah. Siswa juga dapat menjadi penentu dalam merawat budaya sekolah.
Terkait dengan kebinekaannatau keberagaman, dalam satu sekolah banyak sekali keberagaman yang muncul. Kebergaman tersebut diantaranya perbedaan agama, budaya, tradisi, maupun perbedaan ekonomi setiap individu.
Kita berharap, semua perbedaan tersebut tidaklah menjadi suatu tantangan, melainkan dapat memperkaya wawasan dan pemahaman bagi siswa. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh satuan pendidikan dalam merawat kebinekaan di sekolah.
Antara lain, pertama, melalui pembiasaan di sekolah. Pembiasaan baik yang dapat diterapkan di sekolah untuk merawat keberagaman seperti, sikap tolerasi. Sikap tolerasi perlu ditumbuhkan dalam setiap individu di sekolah.
Sikap tolerasi akan menyebabkan kita hidup dengan rasa aman, nyaman. Sikap tersebut antara lain, menghargai teman yang lagi beribadah, sekali pun agamanya berbeda dengan kita. Tidak membenci dan menyakiti orang lain, dan sebagainya.
Kedua, tidak mendiskriminasi atau membeda-bedakan kawan. Meskipun di sekolah terdapat perbedaaan dari segi suku, daerah, agama, kemampuan ekonomi dan sebagainya, namun perlu ditumbuhkan rasa saling menghargai dan tidak memandang perbedaan itu sebagai masalah.
Ketiga, sikap saling menolong. Manusia adalah makhluk sosial (Gregariousness). Oleh sebab itu, manusia tidak bisa hidup sendiri. Manusia butuh orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sikap tolong menolong perlu ditanamkan kepada setiap siswa.
Sikap tolong menolong akan memudahkan mereka dalam mencapai tujuan dan menyelesaikan permasalahan ataupun memenuhi kebutuhannya. Seba tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang dapat hidup sendiri, tanpa bantuan orang lain.
Keempat, menjadikan perbedaan di sekolah sebagai sarana untuk belajar. Keragaman yang ada di sekolah, janganlah dijadikan sebagai ancaman, melainkan dapat dijadikan sebagai sarana untuk memperkaya wawasan dan pemahaman siswa.
Misalnya saja, siswa dapat belajar bahasa Jawa jika di sekolah ada temannya yang berasal dari suku Jawa, dan sebagainya. Diantara yang sudah disebutkan di atas, masih banyak sikap yang perlu ditumbuhkan di sekolah, agar dapat menghindarai keberagaman menjadi penghambat kemajuan sekolah.
Namun yang terpenting adalah, sikap tersebut akan tumbuh dan terawat dengan baik, jika dibiasakan secara terus menerus atau bersfiat kontiniu. Keberagaman, sebenarnya dapat memperkaya pengalaman belajar dan membentuk siswa menjadi individu yang terbuka, toleran dan mempersiapkan mereka untuk beradaptasi dengan masyarakat secara baik.
Keberagaman, juga dapat menumbuhkan rasa kebersamaan dan solidaritas antara siswa. Mereka dapat hidup berdampingan dan bekerjasama dengan baik. Misalnya dalam menyukseskan berbagai kegiatan di sekolah. Oleh sebab itu mendukung kebergaman yang ada di sekolah sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif.
Kelima, melalui kegiatan Projek Profil Pelajar Pancasila. Dalam implementasi Kurikulum Merdeka, kita mengenal salah satu kegiatan dalam pembelajaran yaitu Projek Profil Pelajar Pancasila atau yang disingkat dengan P5. Pelaksanaan P5, terpisah dari pembelajaran intrakurikuler.
Tujuan dari P5 adalah membentuk sikap profil pelajar dengan enam dimensi utama. Terdapat tujuh tema yang perlu dilaksanakan di sekolah untuk tercapainya tujuan tersebut. Salah satunya adalah Binekha Tunggal Ika.
Guru dapat mencari bentuk kegiatan yang dapat dilaksanakan dengan membuat perencanaan yang baik terkait pelaksanaan Projek dengan tema tersebut. Namun yang terpenting adalah, dalam mengikuti setiap proses kegiitannya, hal yang menjadi fokus guru adalah penanaman sikap, bukan pada hasil akhir dari kegiatan tersebut.
Apabila satuan pendidikan telah mampu melakukan berbagai hal tersebut dalam merawat kebinekaan yang ada di sekolah, maka kita yakin di sekolah tersebut akan tumbuh rasa aman, nyaman dan menyenangkan bagi semua warga sekolah. Selanjutnya, akan terwujudlah harapan kita untuk melahirkan siswa yang memiliki sikap Profil Pelajar Pancasila. Semoga. (Afri Efendi, S.Pd, M.M, KEPALA DISDIKBUD LIMAPULUH KOTA)
Editor : Novitri Selvia