PADEK.JAWAPOS.COM-Ketika mengisi Apel pagi Bersama guru, kepala sekolah kami menyampaikan istilah tentang guru kolonial. Menurutnya, julukan tersebut diberikan kepada guru-guru yang ketika mengajar tidak membutuhkan persiapan apapun, ia hanya menyampaikan materi pelajaran yang didapatkannya ketika belajar dahulu.
Padahal, menurut kepala sekolah kami, ilmu itu berkembang sesuai dengan zamannya. Di mana, ilmu yang didapat sepuluh tahun silam, bisa jadi telah ada perkembangan di masa sekarang. Untuk itu, seorang guru harus menjadikan kegiatan membaca sebagai prioritas yang mesti dilakukan.
Sehingga, materi yang di sampaikan dapat lebih relevan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. Namun, meskipun demikian, menumbuhkan minat baca di kalangan guru, bukanlah sesuatu yang mudah.
Faktanya, masih ditemukan guru yang lebih suka membaca ringkasan materi di internet, daripada membaca buku referensi yang ketebalannya cukup lumayan.
Ragam alasan yang mereka sampaikan, diantaranya kesibukan menyiapkan administrasi pembelajaran yang begitu menyita banyak waktu, belum menemukan kenikmatan ketika membaca buku, kesibukan menjalankan aktifitas lain untuk menambah penghasilan, dan pelbagai alasan lainnya.
Jika dilihat dari pelbagai alasan tersebut, wajar saja sebenarnya membaca belum menjadi kegiatan prioritas bagi setiap guru. Tetapi, sebagai seorang guru, harusnya tidak bisa terlarut dalam rutinitas atau kesibukan tersebut.
Sebagai garda terdepan keberlangsungan proses Pendidikan, peningkatan keterampilan dan wawasan harusnya menjadi hal utama yang mesti diwujudkan. di mana, salah satu jalan untuk mewujudkannya adalah dengan menjadikan membaca sebagai kegiatan prioritas.
Selain ilmu yang disampaikan sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman. Seorang guru yang memiliki hobi membaca, akan disenangi oleh siswa. Apalagi guru tersebut mampu mengkomunikasikan hasil bacaannya dengan baik kepada siswa, bisa dipastikan para siswa akan sangat tertarik mendengarkan setiap materi yang disampaikan.
Setiap pertemuan pasti ada sesuatu yang baru yang disampaikan, tidak hanya berkaitan materi pelajaran, bisa jadi informasi terbaru, kisah sukses, motivasi, dan hal-hal positif lainnya. Yang semua itu hanya dapat diberikan oleh guru yang menjadikan membaca sebagai hobi utamanya.
Bukanlah hal yang sulit membangun budaya membaca, terlebih lagi di kalangan guru, yang dikenal sebagai mercusuar ilmu. Tentulah sebagai sumber utama ilmu, seorang guru harusnya lebih sadar lagi akan pentingnya kegiatan membaca.
Lagipula, dalam aktifitas keseharian guru, kegiatan membaca seolah tidak bisa dihindarkan. Membaca administrasi pembelajaran, membaca daftar nama siswa, dan lain-lain. Tinggal ditingkatkan lagi ke penentuan jenis buku bacaannya. Untuk di awal, tidak masalah, jika jenis buku yang dibaca tidak sesuai latar belakang keilmuan.
Sebab, perlahan, semua itu bisa disesuaikan. Intinya membangun kebiasan membaca terlebih dahulu. Jika sudah mulai terbiasa dan mendapatkan kenikmatan dalam membaca, barulah membaca buku-buku referensi sesuai latar belakang keilmuan.
Masih banyak lagi cara-cara lain yang dapat dilakukan oleh guru untuk menciptakan kebiasaan membacanya. Seperti menetapkan tujuan membaca terlebih dahulu, membuat daftar target bacaan, mendengarkan review buku, dan lain-lain.
Dan sekali lagi, semua itu bukanlah sesuatu yang asing bagi seorang guru. Sebab, untuk menjadi seorang guru, proses membaca bukanlah sesuatu yang baru, selama proses penempaan, meskipun terkesan seolah terpaksa, tetap saja membaca menjadi kegiatan yang tidak bisa terlewatkan.
Untuk itu, mari bangun budaya membaca di kalangan guru, dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran, sebagaimana yang dicita-citakan dalam tujuan Pendidikan nasional. (Muhammad Iqbal, M.Pd, GURU SMP IT AL KAHFI PASAMAN BARAT)
Editor : Novitri Selvia