Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SD Negeri 30 Payakumbuh, Bercerita dan Mendongeng bagi Pendidik

Novitri Selvia • Kamis, 12 September 2024 | 16:30 WIB

DUKUNGAN: Kepala SDN 30 Payakumbuh, Wira Hayu, S.Pd.SD pada suatu kesempatan. (TIM LAMAN GURU)
DUKUNGAN: Kepala SDN 30 Payakumbuh, Wira Hayu, S.Pd.SD pada suatu kesempatan. (TIM LAMAN GURU)

PADEK.JAWAPOS.COM-Berdasarkan penelitian WorldBank 2018, bahwa buta huruf menurut standar Pisa adalah kemampuan membaca yang hanya dapat membaca teks, tapi tidak dapat menjawab pertanyaan tentang teks.

Pada riset terakhir 55% anak usia sampai 15 tahun buta huruf. Solusi agar anak-anak Indonesia terbebas dari “buta huruf” adalah dengan Membudayakan kembali Bercerita dan Mendongeng, sering juga di sebut dengan istilah bertutur.

Bercerita dan mendongeng adalah salah satu pilihan metode dalam menyampaikan pembelajaran oleh pendidik. Apakah sebagai orang tua dirumah atau guru di sekolah.

Namun seiring berkurangnya metode ceramah digunakan dalam pembelajaran, membuat bercerita dan mendongeng pelan-pelan lenyap dari pilihan guru sebagai salah satu metode dalam mengajar.
Bercerita dan mendongeng dapat menstimulus anak baik secara audio, visual dan juga kinestetik.

Memantik kererampilan berpikir kritis dengan menemukan hal-hal menarik dan pesan moral dalam cerita. Sehingga materi pelajaran yang ada dalam materi cerita dapat ditangkap anak dengan baik karena menggunakan banyak alat indranya.

Banyak pilihan dongeng Nusantara atau cerita dari negara lain dapat dijadikan sebagai referensi. Teknik Read Aloud dapat digunakan sebagai salah satu pilihan bercerita pada anak usia dini, dan SD kelas awal.

Read Aloud adalah Menceritakan isi buku secara nyaring, untuk melatih kemampuan berbahasa anak. Dapat juga dilakukan untuk belajar membaca. Read Aloud menggunakan tools utama yaitu picture book (buku cerita bergambar).

Setiap buku cerita anak mempunyai konten menarik yang menjadi literasi bermakna untuk anak. Buku yang dibacakan akan sayang sekali jika hanya sekedar dibaca, pada prinsipnya memberikan stimulus dan menyampaikan pesan dengan teknik yang menarik perhatian.

Setelah bercerita, jangan langsung menyampaikan kesimpulan berupa kalimat berawalan, jadi, maka, untuk itu dll. Namun lakukanlah CDBA, yaitu Diskusikan Cerita Bersama Anak. Karena jika langsung memberikan kalimat kesimpulan atau pesan moral ceritanya kepada anak, justru mereka menjadi enggan untuk berpikir kristis.

Dan penutur hanya memberikan kesan saja, tidak sampai pada melatih kemampuan anak. Langkah-langkah Read Aloud yang dapat dilakukan antara lain:

1) Tentukan buku yang sesuai dengan tema, materi pelajaran yang ingin dicapai, serta jenjang usia anak yang akan mendengarkan cerita. 2) Hadirkan imajinasi anak sebelum mulai bercerita.

3) Mainkan ekspresi dan variasi intonasi. 4) Jaga kontak mata dan libatkan emosional anak dengan berinteraksi. Selamat mengekplorasi buku cerita anak.(Wira Hayu, S.Pd.SD, KEPALA SDN 30 PAYAKUMBUH)

Editor : Novitri Selvia
#mendongeng #Wira Hayu #pendidik #SD Negeri 30 Payakumbuh #Bercerita