Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

UPT SMPN 2 Batusangkar, Sharing yang Tersaring

Novitri Selvia • Jumat, 11 Oktober 2024 | 15:30 WIB
Suri Srima Eled, M.Pd, UPT SMPN 2 Batusangkar. (TIM LAMAN GURU)
Suri Srima Eled, M.Pd, UPT SMPN 2 Batusangkar. (TIM LAMAN GURU)

PADEK.JAWAPOS.COM-Seragam putih dongker sebagai flash back masa lalu penulis. Masih tersimpan dengan rapi masa lima belas tahun yang lalu itu. Ketika seragam putih dongker itu masih melekat di badan, bolak-balik antara sekolah dan rumah.

Bahkan bisa dibilang, sekolah sudah menjadi rumah kedua bagi penulis. Halaman demi halaman kisah hidup penulis serasa terukir tajam mulai dari putih dongker ini. Banyak ilmu yang diperoleh, baik secara akademik ataupun non akademik.

Dalam berproses, penulis pernah mendengar slogan fair, care, dan share. Begitu luar biasa makna ketiga kata ajaib itu, sehingga penulis menjadikannya sebagai pondasi untuk terus belajar dan menerapkan dalam keseharian penulis.

Dari ketiga kata tersebut, yang paling menarik bagi penulis adalah kata “share”. Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda dalam memahami kata yang satu ini. Jika kita pahami secara bijak, maka makna dan penerapannya akan menjadi positif, namun jika sebaliknya maka akan membawa dampak yang buruk bagi pelakunya.

Bagi penulis kata share adalah berbagi hal yang positif dengan jalan yang positif pula. Sebagai contoh, berbagi pemahaman yang baik kepada orang lain dan mampu memberikan pencerahan dengan penjelasan yang kita punya.

Saat ini ada kegamangan tersendiri di benak penulis, dikarenakan generasi Z dan Alfa malah memiliki pemahaman berbeda terhadap kata “share” ini, mereka mengira share dimaksudkan untuk menghalalkan berbagi jawaban dengan temannya.

Terutama Ketika dilakukan tes pemahaman setelah proses pembelajaran. Kalau dikaitkan dengan kurikulum merdeka, bisa kita lihat pada proses summatif.

Maka sebagai pendidik, penulis perlu menjelaskan maksud dari kata ini, agar tidak salah penerapan bagi peserta didik penulis. Penulis mencoba memberikan gambaran dengan membagikan pengalaman yang penulis lakukan di masa lalu sebagai peserta didik.

Bahwa kata share ini bukan dengan berbagi jawaban atau memberi kemudahan secara salah kepada teman sejawat mereka, melainkan memberikan cara pemahaman yang sama atau memberikan jalan agar temannya juga mampu mengerjakan sesuatu sama dengan dirinya.
Sehingga ilmu itu sama-sama dipahami dengan cara yang tepat.

Secara perlahan peserta didik penulispun mulai memahami bahwa share yang dimaksud itu adalah berbagi ilmu dan pemahaman. Kalau berbagi jawaban bukanlah maksud dari kata share, melainkan berarti menyontek. Hal ini menumbuhkan perilaku lemah bahkan tanpa usaha.

Menyontek itu sendiri merupakan kegiatan menyalin seratus persen hasil usaha orang lain. Seperti yang dibahas pada Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikeluarkan Depdikbud, bahwa menyontek adalah mencontoh, meniru, mengutip tulisan pekerjaan orang lain sebagaimana aslinya.

Sementara, harapan yang tersirat dari kata “share” itu sendiri adalah menumbuhkan jiwa kolaboratif pada peserta didik. Berkolaborasi dengan menjadi tutor sebaya bagi temannya. Semakin sering membagi ilmu dengan cara yang benar, maka bagi pembagi, ilmu itu akan semakin tertanam kuat di dalam ingatan.

Hal ini dikarenakan terjadinya pengulangan secara tidak disengaja. Bahkan bonusnya adalah akan mendatangkan kepuasan tersendiri, ketika bisa menjadi penolong untuk kesulitan orang lain. Dalam hal ini adalah kesulitan memahami suatu materi dalam proses pembelajaran.

Penulis merasakan sendiri dampak positif dari berbagi hal baik ini. Sebagai seorang yang menyukai pelajaran matematika, saat menjadi peserta didik penulis pernah menjelaskan pemahaman mengenai materi matematika yang sudah penulis kuasai kepada teman sebaya. Semakin sering berbagi pemahaman ini, semakin lengket pula pemahaman tersebut di kepala.

Hal tersebut mendatangkan rasa percaya diri tersendiri di hati penulis, sehingga sepulang sekolah jika ada teman yang kurang paham, penulis bersedia meluangkan waktu untuk menjelaskan langkah-langkah yang telah dipahami, bahkan bersedia membukakan pintu rumah untuk teman-teman yang ingin belajar bersama hingga menginap bersama.

Hal inipun masih penulis lakukan hingga saat ini, seperti sudah menjadi candu yang susah dihilangkan. Menurut pemahaman penulis, cara kita menyerap ilmu itu berbeda-beda. Ada yang bisa langsung paham ketika guru menjelaskan. Dan ada pula yang butuh pengulangan. Dalam hal ini terkadang ada peserta didik yang enggan bertanya kembali kepada guru.

Dikarenakan beberapa ketakutan, misalnya ketakutan akan ditertawakan teman, atau takut guru tidak punya waktu dan hal-hal lain yang menghilangkan nyali di dalam diri. Dulunya penulis juga tergabung kedalam kategori ini.

Saat penulis kurang memahami materi yang disampaikan guru, penulis tidak akan mampu untuk bertanya kepada guru. Maka penulis akan mencari teman yang lebih paham untuk membantu menjelaskan ulang. Ada kenyamanan tersendiri ketika teman sebaya yang menjelaskan dengan cara yang santai.

Maka penulis dapat menyimpulkan bahwa, peserta didik penulis pun mungkin merasakan hal yang sama. Maka penulis memberikan penjelasan dan keterangan yang tepat terkait penerapan kata “share” di lingkungan mereka. Dengan harapan, agar peserta didik penulis dapat merasakan hal yang sama dengan yang penulis rasakan hingga saat ini.

Ilmu semakin tertanam kuat dan tidak mudah hilang dari memori kita. Hal lain yang juga penulis tekankan adalah, ketika penerapan share yang salah dengan menyontek, maka akan menimbulkan pribadi yang akan semakin lemah dan bahkan akan jatuh kepada kebodohan dan kemalasan. Pada akhirnya akan sulit berkompetisi di lapangan yang penuh dengan tantangan.

Namun jika share sudah diterapkan dengan tepat, maka akan timbul kesadaran untuk terus menggali ilmu dan tidak berpuas diri dengan apa yang sudah diperoleh. Dan pengembangan karakterpun akan semakin baik, seperti timbulnya rasa berbagi yang positif, lebih rajin dan juga teliti.

Sebagai seorang pendidik, penulis merasa terpanggil untuk mewanti-wanti peserta didik, bahwa menyontek adalah salah satu cikal bakal penyakit yang akan menghambat kesuksesan. Apalagi untuk mata pelajaran matematika yang penulis ampu saat ini. Sangat dibutuhkan pemahaman konsep yang tepat.

Selayaknya jika tidak paham peserta didik meminta penjelasan kepada guru, bukan hanya diam dengan ketidakpahaman. Kemudian jika memiliki rasa percaya diri yang rendah, seperti yang sudah penulis jelaskan sebelumnya. Maka akan lebih baik untuk saling berbagi dengan teman sebaya, meminta teman yang lebih paham untuk menjadi tutor.

Hal inilah yang membuat penulis mengizinkan peserta didik untuk melakukan share seperti ini, meskipun penulis masih berada di sekitar mereka. Penulis tidak akan tersinggung jika mereka bertanya kepada temannya. Maka posisi penulis nantinya adalah sebagai pemantau, apakah sharing mereka membuahkan hasil atau butuh penjelasan ambahan agar pemahaman tidak rancu.

Setelah beberapa waktu penulis amati, peserta didik yang pemahamannya meningkat, juga memiliki pengaruh terhadap semangat belajarnya. Semakin mereka paham semakin tinggi semangatnya, karena rasa percaya diri mereka juga semakin besar atas apa yang telah mereka lakukan selama ini.

Sebagai guru muda, penulis mencoba mengembangkan model pembelajaran ini dan juga
ingin berbagi perihal pengalaman ini, yang boleh juga kita sebut sebagai peer teaching. Peer teaching ini merupakan model pembelajaran yang kemungkinkan peserta didik saling memberi pengetahuannya kepada sesama rekannya atau mengajar teman sebayanya.

Kita sebagai guru juga memastikan, apakah peserta didik yang berbagi ilmu tersebut benar-benar memahami konsep yang dipelajari atau tidak, dan juga memastikan mereka bukan berbagi jawaban dengan konsep sharing yang salah.

Kemudian sharing ini juga dilakukan hanya pada saat latihan di sekolah dan untuk pekerjaan rumah, bukan di saat ujian berlangsung. Sharing ini disarankan karena masih banyak peserta didik yang malu untuk menemui guru, ketika mengalami kendala saat memahami materi pelajaran.

Terakhir harapan penulis adalah, apa yang penulis tuangkan dalam tulisanan ini dapat mendorong guru-guru yang lain untuk mencobakan hal yang sama. Bagi guru yang sudah melakukan agar lebih memotivasi peserta didik untuk terus melakukan kegiatan positif ini. Sehingga akan muncul lah generasi-generasi yang jujur dan bermartabat. Serta mampu menjadi generasi penerus yang bermanfaat dan memiliki mental yang hebat. (Suri Srima Eled, M.Pd, UPT SMPN 2 BATUSANGKAR)

Editor : Novitri Selvia
#sharing #Suri Srima Eled #Share #SMPN 2 Batusangkar #menyontek