Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SD Negeri 25 Balai Tangah, Dinamika Pendidikan yang Berkelanjutan

Novitri Selvia • Jumat, 18 Oktober 2024 | 17:05 WIB
Metria Eliza, KEPALA SDN 25 BALAI TANGAH. (TIM LAMAN GURU)
Metria Eliza, KEPALA SDN 25 BALAI TANGAH. (TIM LAMAN GURU)

PADEK.JAWAPOS.COM-Program Guru Penggerak saat ini sudah melewati 10 angkatan dan telah diikuti oleh ribuan guru di seluruh Indonesia.

Awal program ini diluncurkan sangat sedikit guru yang mengikutinya karena guru dihadapkan pada seleksi ketat dan juga pembelajaran yang terstruktur dan terprogram yang membuat guru keluar dari zona nyamannya.

Materi yang diberikan terdiri dari tiga modul yang mengubah paradigma berpikir guru untukdapat menemukan kesadaran dirinya sebagai seorang guru yang dapat meciptakan kualitas pembelajaran.

Progam ini dirancang untuk melahirkan pemimpin pembelajaran yang mampu menginspirasi dan memicu perubahan positif di sekolah serta menggerakkan orang lain.

Pemerintah gencar menyarankan guru untuk dapat mengikutinya apalagi setelahnya sertifikat guru penggerak menjadi syarat untuk kenaikan karir guru menjadi kepala sekolah dan pengawas serta berbagai kegiatan cenderung memasukan guru penggerak sebagai syarat pendukung.

Hal ini menyebabkan berbondong-bondongnya guru mengikuti seleksi guru penggerak sehingga muncul pertanyaan mendasar setelah melalui beberapa angkatan.

Apakah para guru penggerak akan benar-benar tergerak, bergerak, dan menggerakkan sehingga menjadi pelopor perubahan atau justru kembali ke zona nyaman setelah gelar guru penggerak didapatkan?

Hakikatnya guru penggerak bukanlan sekedar guru dengan gelar tambahan. Selama pendidikan guru penggerak lebih kurang 6 bulan, mereka ditempa untuk mengubah dirinya menjadi sosok baru yang berkualitas, memiliki visi misi, menjadi pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi rekan guru, membangun komunitas dan menjadi agen perubahan.

Mereka dituntut untuk menerapkan berbagai inovasi dan kreativitas dalam pembelajaran sehingga dapat menuntun murid sesuai minat bakat, kodrat diri, alam dan zaman.

Mereka juga harus mampu menggerakan, menularkan ilmu yang didapatkan dalam bentuk aksi nyata sehingga tujuan untuk menciptakan generasi emas dapat terwujud.

Guru penggerak juga dituntut untuk menggerakkan lingkungan sekitar sehingga menghasilkan guru-guru yang bergerak untuk kemajuan pendidikan.

Bisa dibayangkan jika satu guru penggerak mampu mengubah 2 atau 3 saja guru, maka pemerataan kualitas guru dapat dicapai apalagi dapat menggerakan banyak orang.

Praktik dilapangan guru penggerak akan menghadapai berbagai tantangan dimana tidak semua orang terbuka terhadap perubahan karena ada beberapa guru yang masih enggan keluar dari zona nyaman dan cara kerja yang sudah ada.

Bertambahnya beban kerja juga menjadi tantangan bagi seorang guru penggerak karena mereka harus selalu memikirkan ide-ide baru dan menularkannya ke orang lain. Kurangnya dukungan dari lingkungan untuk membuat perubahan juga menjadi tantangan lainnya.

Saat ini juga muncul stigma di kalangan guru yang beranggapan bahwa guru penggerak yang telah dikukuhkan menjadi guru penggerak kembali ke zona nyaman bahkan tidak bergerak sama sekali.

Setelah mendapatkan sertifikat guru penggerak, mereka diam tidak bergerak seraya menunggu daftar antrean untuk menjadi kepala sekolah atau pengawas. Hal ini memunculkan dampak negatif kepada gelar guru penggerak akibat ulah beberapa oknum guru penggerak.

Seperti disampaikan di awal bahwa ketika pertama guru penggerak diluncurkan, mereka yang mengikuti program guru penggerak tidak memiliki orientasi lain selain menambah ilmu.

Ketika sertifikat guru penggerak menjadi salah satu syarat kepala sekolah maka orientasi mengikuti guru penggerak tidak lagi murni menuntut ilmu bagi sebagaian orang.

Dengan banyaknya tantangan dan stigma negatif yang muncul maka diharapkan guru penggerak benar-benar mampu menjadi agen perubahan yang selalu tergerak, bergerak, dan menggerakkan orang lain.

Kemdikbudristek melalui BGP dan BBGP yang bertanggung jawab terhadap progam guru penggerak juga selalu melakukan pemantauan, evaluasi, dan monitoring setiap saat untuk memastikan Program Guru Penggerak berjalan sebagaimana tujuan diluncurkannya.

Guru penggerak juga merupakan asset daerah untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikan di daerah tersebut .
Program guru penggerak telah memberikan kesempatan bagi para guru untuk menjadi agen perubahan.

Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada komitmen dan dedikasi para guru penggerak itu sendiri. Dengan menjadi pelopor perubahan, guru penggerak tidak hanya akan meningkatkan kualitas pendidikan di sekolahnya, tetapi juga memberikan kontribusi yang berarti bagi masa depan bangsa.

Agar dapat tetap menjadi pelopor perubahan yang berkelanjutan maka guru penggerak perlu , melakukan beberapa hal seperti membangun jejaring dengan berkolaborasi bersama guru penggerak lainnya, kepala sekolah, dan pemangku kepentingan lainnya.

Meningkatkan kompetensi diri dengan terus belajar dan mengembangkan diri melalui pelatihan serta kegiatan pengembangan keprofessional, menjadi agen pembelajar dengan tidak berhenti belajar.

Serta selalu mencari inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran, memiliki mental yang kuat dan siap menghadapi tantangan dan tidak mudah menyerah, menjadi teladan dengan menunjukkan tindakan nyata yang konsisten dengan nilai-nilai yang dipercayai. (Metria Eliza, KEPALA SDN 25 BALAI TANGAH)

Editor : Novitri Selvia
#Guru Penggerak #Metria Eliza #SD Negeri 25 Balai Tangah