PADEK.JAWAPOS.COM-Proses pembelajaran di sekolah oleh seorang pendidik, sangat beragam dan variatif. Guru dengan berbagai metode berupaya agar materi yang akan diajarkan dikuasi dengan baik oleh peserta didiknya.
Persiapan pembelajaran yang telah dipersiapkan seorang guru dengan baik, tak jarang pelaksanaannya di dalam kelas, berbeda sama sekali.
Hal ini seolah menyampaikan pesan betapa sebuah proses belajar itu “hidup” dan “relevan” dengan kondisi kelas (baca : peserta didik) yang riil saat itu. Betapa bahagianya seorang guru saat peserta didiknya “hidup” menampilkan diri mereka dengan jujur dan sesuai karakternya.
Guru yang menyusun skenario pembelajaran harus memiliki kemampuan membaca, memetakan dan akhirnya mampu mengkomunikasikan skenario tersebut melibatkan peserta didik secara utuh.
Kurikulum merdeka sangat mengakomodir kebutuhan peserta didik dan guru yang menekankan pada kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi efektif dan berkolaborasi. Ilmu yang didapat peserta didik secara teoritis dari pendidik belumlah memadai untuk pengembangan karakter mereka.
Selaras dengan konsep yang diciptakan oleh Ki Hajar Dewantara, kurikulum merdeka memberi keleluasaan kepada pendidik untuk menciptakan pembelajaran berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan dan lingkungan peserta didik.
Konsep ini mewujudkan bahwa pembelajaran tidak harus berlangsung di sekolah, bagaimana peserta didik harus mengalami prosesnya sesuai cipta, karsa, dan karya. Pembelajaran harus mampu mendekatkan peserta didik dengan lingkungan masyarakatnya.
Sejalan dengan konsep tersebut pembelajaran yang dirancang oleh pendidik harus dapat dialami oleh peserta didik, diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Kolaborasi guru, orang tua dan masyarakat menjadi “kehidupan” sesungguhnya yang dapat diteladani peserta didik.
SD Pius Payakumbuh di mana penulis mengajar, menjadikan implementasi pembelajaran sebagai proses mengolah karakter peserta didik secara nyata. Pada pembelajaran Pendidikan Pancasila materi gotong royong sebagai wujud bela negara, guru dan peserta didik menerapkannya.
Bentuk penerapan yang dilakukan adalah mengajak peserta didik bergotong royong membersihkan sekolah, lingkungan sekitar hingga ke sungai Batang Agam.
Sepanjang perjalanan sampai ke sungai Batang Agam, peserta didik kelas VI ini memungut sampah, memilah sesuai jenis, dan menyapu pada tempat-tempat tertentu. Kantong-kantong sampah di persiapkan dengan label : organik, non organik, dan sampah berbahaya.
Tampak semangat dan kepedulian anak-anak tumbuh, dengan menggunakan sarung tangan mereka tak segan memungut sampah-sampah yang berserakan, menyapu, memilah dan akhirnya sampah organik dibawa ke sekolah untuk diolah menjadi kompos.
Proses keterlibatan langsung peserta didik ini, merupakan pembelajaran nyata. Beragam pendapat mereka lontarkan setelah kegiatan berlangsung.
Rata-rata mereka menyukainya, bersemangat, mau mengulang kembali agar lingkungan bertambah bersih dan berharap agar kegiatan ini dapat dicontoh oleh masyarakat demi kepentingan bersama.
Beberapa apresiasi dari masyarakat kami terima, semua bernada positif dan membangun. Mulai dari acungan jempol dari pengguna jalan, senyum dan anggukan tulus, kata-kata pujian, dan diberi buah semangka oleh salah seorang pengunjung wisata di Batang Agam.
Pengguna media sosial juga memberi banyak pujian positif saat tanpa kami sadari diliput oleh Sudut Payakumbuh.
Terima kasih untuk semua warga masyarakat, peserta didik kami memang belum berbuat banyak untuk kebersihan lingkungan, namun dari hal kecil yang mereka lakukan sebagai implementasi pembelajaran di sekolah, khususnya Pendidikan Pancasila, kita berharap telah meletakkan, memantik dan membangun karakter positif dalam diri mereka.
Guru adalah pendidik yang nyata, berbinar hati dan wajah guru melihat anak didiknya bersemangat. Bukan hanya saat belajar di kelas, namun bersemangat, santun dan mampu bekerjasama mencapai tujuan yang telah disusun dan disepakati, untuk dilakukan di luar kelas.
Luar biasa dampak dari suatu rencana pembelajaran yang disusun oleh guru, untuk diajarkan dan dimplementasikan bagi peserta didik. Mereka adalah generasi penentu masa depan bangsa. Di tangan merekalah keberlangsungan bangsa ini ditentukan.
Sumbangsih pendidik dalam meletakkan dasar-dasar pendidikan karakter sejak dini dengan mengacu pada norma yang berlaku, akan membantu mereka mampu berkolaborasi, peduli, berbagi dan mengembangkan keterampilan hidup, terutama untuk masyarakat luas.
Dengan penanaman karakter sejak dini diharapkan peserta didik kita, setiap anak dari orang tua mereka, mampu meraih mimpinya, melandaskan hidupnya pada nilai kehidupan, dan norma yang berlaku, mampu bekerjasama menjadi pelaku pembangun bangsa dan negara yang handal, teguh dan tidak mudah menyerah.(Veronika Teja, S. Pd, GURU SD PIUS PAYAKUMBUH)
Editor : Novitri Selvia