Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

UPTD SD Negeri 03 Labuahgunuang, Mari Bangkit dari Ghawzul Fikri

Novitri Selvia • Rabu, 30 April 2025 | 18:00 WIB

Riri Okta Delia, S.PdI, GURU UPTD SDN 03 LABUAHGUNUANG.(TIM LAMAN GURU)
Riri Okta Delia, S.PdI, GURU UPTD SDN 03 LABUAHGUNUANG.(TIM LAMAN GURU)

PADEK.JAWAPOS.COM-Di era digital dan globalisasi saat ini, tantangan yang dihadapi generasi muda tidak hanya datang dari aspek fisik atau ekonomi, tetapi juga dari serangan pemikiran atau yang dikenal dengan istilah ghawzul fikri (perang pemikiran).

Tanpa disadari, budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam dan adat ketimuran perlahan-lahan mulai mempengaruhi cara berpikir, berperilaku, dan bahkan cara hidup anak-anak kita, termasuk para siswa di lingkungan UPTD SD Negeri 03 Labuah Gunuang.

Ghawzul fikri bukanlah peperangan dengan senjata, melainkan serangan melalui ideologi, media sosial, tontonan, permainan, dan informasi yang membentuk pola pikir dan sikap seseorang.

Jika tidak disaring dengan baik, informasi-informasi ini bisa membelokkan cara pandang siswa dari nilai-nilai kebenaran dan keimanan.

Misalnya, saat anak-anak lebih mengidolakan tokoh-tokoh fiktif dari luar negeri ketimbang para pahlawan nasional atau tokoh agama yang membawa perubahan nyata dalam sejarah bangsa dan umat.

Fenomena ini tidak bisa dianggap remeh. Siswa sebagai generasi penerus bangsa harus memiliki bekal keimanan dan pengetahuan yang kuat agar tidak terombang-ambing oleh arus globalisasi yang membawa berbagai pengaruh negatif.

Di sinilah peran sekolah dan keluarga sangat penting untuk membentengi anak-anak dari dampak buruk perang pemikiran ini. UPTD SD Negeri 03 Labuah Gunuang berupaya untuk menanamkan nilai-nilai keislaman, nasionalisme, dan karakter positif kepada setiap siswa.

Melalui kegiatan pembiasaan seperti membaca Al Quran, shalat Dhuha berjamaah, upacara bendera, serta pengenalan tokoh-tokoh inspiratif, para siswa diajak untuk mencintai agamanya, bangsanya, dan budayanya sendiri.

Sebagai Pendidik dan sekaligus sebagai orang tua kedua bagi siswa, guru selalu berpesan kepada anak-anaknya. “Ananda semua adalah calon penerus agama, bangsa, dan negara. Jadi, jangan rusak masa depan yang cerah dengan pengaruh game yang tersimpan di Android ananda. Mulai dari sekarang, berusahalah untuk lepas dari pengaruh game yang akan merusak cita-citamu.”

Pesan ini kami sampaikan karena pengaruh buruk teknologi bukan hal yang bisa diabaikan. Sebagai siswa, penting untuk menyadari bahwa tidak semua yang terlihat modern dan menarik dari luar adalah hal yang benar atau layak ditiru.

Kita harus selektif dalam menerima informasi, kritis dalam menilai, dan tetap berpegang pada nilai-nilai yang diajarkan oleh agama dan orang tua kita.

Bangkit dari ghawzul fikri berarti membangun kesadaran akan pentingnya menjaga pola pikir yang bersih dari pengaruh negatif dan mengisinya dengan ilmu yang bermanfaat, pemahaman agama yang benar, serta semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik. I

ni adalah tugas bersama yang memerlukan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan lingkungan. Kepada siswa UPTD SDN 03 Labuah Gunuang, mari kita kuatkan tekad untuk tidak mudah terpengaruh oleh budaya yang merusak.

Jadilah pelajar yang cerdas pikirannya, kuat imannya, dan mulia akhlaknya. Karena masa depan bangsa ini ada di tangan kalian. Mari bangkit dari ghawzul fikri. Mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang! (Riri Okta Delia, S.PdI, GURU UPTD SDN 03 LABUAHGUNUANG)

Editor : Novitri Selvia
#UPTD SD Negeri 03 Labuahgunuang #Ghawzul fikri #perang pemikiran #Riri Okta Delia