PADEK.JAWAPOS.COM-Secara umum, literasi diartikan, kemampuan dalam diri seseorang dalam membaca dan menulis. Namun, saat ini defenisi literasi berkembang lebih luas. Literasi bukan hanya sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi lebih dari itu.
Literasi merujuk kepada seperangkat keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan literasi sangat penting dilakukan terutama di sekolah. Karena kegiatan tersebut dapat menstimulasi siswa agar mampu mengembangkan keterampilan berbahasanya, membaca, menyimak, menulis, dan berbicara.
Beragam kegiatan literasi dapat dilakukan dan dikembangkan di sekolah, misalnya membaca senyap-resume, bercerita-resume, tayangan video-resume, dan lain sebagainya.
Sama halnya dengan sekolah lain, SMA Negeri 2 Rambatan juga menerapkan program literasi. SMA Negeri 2 Rambatan berlokasi di Jalan Tuanku Lareh Simawang, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanahdatar.
Lantas, bagaimana literasi yang dilakukan di SMA Negeri 2 Rambatan? Penasaran? Simak paparan di bawah ini!
Pertama, sebelum adanya program literasi, saat siswa tidak memiliki buku referensi dan di perpustakaan SMAN 2 Rambatan tak tersedia, maka guru secara mandiri menyusun modul sesuai kebutuhan siswa di setiap tingkat.
Modul disediakan sebanyak siswa, digunakan saat Proses Belajar Mengajar (PBM). Berkat modul ini siswa dapat membaca materi secara lengkap, karena modul disusun dari beragam sumber.
Kedua, saat siswa minim prestasi akademik, karena input rendah, guru membimbing siswa mengikuti kegiatan nonakademik. Seperti penelitian sederhana, Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional.
Pembimbingan membuat puisi dan mengirimkan kepada Panitia Lomba Puisi Tingkat Nasional. Tidak menang, tapi karya mereka tercantum dalam Buku Antologi “Puisi Untuk Guru”.
Guru juga membimbing mereka membuat pantun dan mengirimkan ke penerbit, sehingga lahirlah dua buah Buku Antologi “Seri Berpantun Ekonomi”.
Ketiga, saat program literasi diluncurkan, tahun 2017 guru SMA Negeri 2 Rambatan memulai literasi di kelas sebelum PBM dengan Program Breaking News. Satu orang siswa tampil dan tampilan ini di-upload di youtube.
Keempat, tahun 2018 saat di SMA Negeri 2 Rambatan belum tersedia buku fiksi bagi semua siswa guna dibaca 15 menit sebelum PBM. Guru secara mandiri menyediakan buku fiksi sesuai jumlah siswa dalam kelas.
Buku perjalanan ke Malaysia dan Singapura karya guru SMA Negeri 2 Rambatan yang berjudul “Cendera Mata 3 Negara” terbitan Media Guru Indonesia (MGI) menjadi rebutan siswa.
Kelima, saat terkendala mengumpulkan bukti literasi membaca buku 15 menit sebelum PBM, guru membantu menyediakan format yang akan diisi oleh siswa setelah usai membaca buku. Isinya intisari apa yang mereka baca. Bukti ini dikumpulkan dan diarsipkan oleh tim literasi SMA Negeri 2 Rambatan.
Keenam, setiap Jumat pagi di lapangan sekolah semua siswa mengikuti Program Literasi Bina Remaja Islam. Seorang siswa membacakan cerita, dan siswa lainnya menyimak.
Guru menyiapkan cerita Islami yang akan dibacakan dan menyediakan format kertas untuk diisi oleh siswa yang menyimak. Isinya berupa intisari cerita. Semua bukti ini juiga dikumpulkan dan diarsipkan.
Ketujuh, terkait literasi, kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan majelis guru membentuk panitia dan juri lomba literasi. Setiap bulan lomba menulis puisi, cerita sejarah lokal, pengalaman ekstrakurikuler, deskripsi tempat wisata lokal, dan sebagainya.
Setiap bulan dipilih 6 pemenang, diberi hadiah, dan piagam. Apabila dari sekolah hadiah belum tersedia, maka secara mandiri guru dapat menyumbangkan hadiah. Misalnya guru memberi hadiah berupa cenderamata yang dibawa guru tersebut dari kunjungan luar negeri.
Selain hadiah sekolah juga membuatkan piagamnya. Hal ini sangat memotivasi siswa untuk ikut lomba menulis. Juara satu setiap bulan diberikan anugerah atau julukan, misalnya Duta Literasi Januari 2019, Duta Literasi Februari 2019, dan seterusnya.
Kedelapan, saat pandemi, gerakan literasi di sekolah terhenti, namun masih bisa dilakukan di media sosial, misalnya siswa menyebarkan informasi tentang Covid-19 dan pencegahannya.
Literasi tersebut dibuat dalam bentuk gambar, frayer, video dan di-posting di facebook dan instagram. Demikian sekelumit geliat literasi di SMA Negeri 2 Rambatan. Ke depannya kegiatan literasi di SMA Negeri 2 Rambatan dilakukan lebih variatif lagi.
Penulis meyakini masing-masing sekolah memiliki ide cemerlang untuk mengembangkan kegiatan literasi yang bermakna dan menyenangkan di sekolah masing-masing.
Wahai guru, mari kita berjuang merubah kebiasaan diam menjadi budaya bergerak dengan literasi sekolah secara rutin. (Fitriany Febby Adiana Gustariny, Guru SMAN 2 Rambatan)
Editor : Novitri Selvia