Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Mengupas Tuntas Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Melalui Lokakarya

Eri Mardinal • Jumat, 20 Juni 2025 | 05:05 WIB

Dina Ayu Afifah, S.Pd,Gr, Guru Bahasa Indonesia SMPN 2 Pariangan.
Dina Ayu Afifah, S.Pd,Gr, Guru Bahasa Indonesia SMPN 2 Pariangan.
PADEK.JAWAPOS.COM–Pembelajaran mendalam (deep learning) merupakan pembelajaran baru yang diluncurkan oleh Abdul Mu’ti selaku menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Indonesia (Mendikdasmen).

Pembelajaran ini  mengemban tiga prinsip yaitu mind full learning, meaningfull learning, dan jouyfull learning. Dengan pembelajaran ini diharapkan peserta didik terlatih berpikir kritis, mengeksplorasi, dan aktif. Agar dapat menerapkan pembelajaran tersebut, SMPN 2 Pariangan mendatangkan narasumber, Dra. Imelda Yanti, M.Pd, selaku  untuk memberikan penjelasan mengenai deep learning dalam kegiatan lokakarya.

Kegiatan Lokakarya

Kegiatan ini dimulai pukul 08.00 WIB dan diselenggarakan di ruang majelis guru SMPN 2 Pariangan. Kegiatan dibuka oleh Kepala Sekolah, Drs. Jalinus dan berlangsung selama 6 jam ke depan. Narasumber dipersilakan untuk mulai memberikan materi tentang deep learning. Kegiatan diawali dengan pengenalan diri oleh narasumber. Selama proses lokakarya, Bu Yanti menjelaskan dan langsung mempraktikkan bagaimana cara kerja pembelajaran mendalam ini.

Bu Yanti menayangkan slide powerpoint tentang deep learning dan diawali dengan memberikan pertanyaan pemantik Know (apa yang diketahui), Want to Know (apa yang ingin diketahui), Learn (apa yang dipelajari) tentang defenisi umum deep learning kepada masing-masing peserta lokakarya. Dari hasil pertanyaan tersebut, diketahui bahwa peserta lokakarya sudah memahami pembelajaran mendalam (deep learning) secara ringkas.

Berdasarkan opini dan pengetahuan peserta lokakarya tentang deep learning, dapat disimpulkan bahwa deep learning sebenarnya sudah diterapkan dari sejak lama, namun hanya saja ada sedikit penyempurnaan dan  penyesuaian dengan kondisi peserta didik saat ini.

Bu Yanti menyampaikan, bahwa zaman guru berbeda dengan zaman peserta didik saat ini, sehingga penting bagi guru untuk memahami karakter peserta didik. Salah satu generasi peserta didik saat ini disebut genesai Z (Gen Z). Dalam slide yang ditayangkan juga dijelaskan bagaimana cara Gen Z belajar.

Selain menjelaskan tentang karakter peserta didik, Bu Yanti juga memberikan dua persoalan yang berbeda untuk diidentifikasi bersama-sama dengan peserta lokakarya. Diantaranya, ditayangkan cara mengajar dua guru dengan metode mengajar yang berbeda, peserta lokakarya diminta untuk menganalisis metode mana yang tepat dilaksanakan dalam pembelajaran deep learning.

Pendekatan pembelajaran deep learning adalah pendekatan yang mendorong peserta didik untuk memahami konsep secara mendalam, menghubungkan ide, dan menerapkan pengetahuan di situasi baru.

Karakter pembelajaran deep learning yaitu menghubungkan pengetahuan sebelumnya dengan informasi baru, melibatkan berpikir kritis dan refleksi, memfokuskan pada makna dan hubungan antar-konsep, mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dan kreativitas, menerapkan pengetahuan dalam konteks dunia nyata atau proyek kolaboratif.

Deep learning dapat dikatakan penyempurnaan dari pendekatan pembelajaran sebelumnya. Jika sebelumnya kita mengetahui bahwa ada 6 profil pelajar Pancasila, maka pada deep learning ini dilengkapi dengan dua profil tambahan yaitu kesehatan dan komunikasi, istilahnya pun diganti menjadi profil lulusan. Selain itu, juga terdapat penyesuaian istilah dari kebhinekaan menjadi kewargaan. Delapan dimensi profil lulusan ini terdiri dari Keimanan dan ketaqwaan kepada YME, kewargaan, kreativitas, penalaran kritis, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.

Dalam deep learning juga terdapat istilah Prinsip Pembelajaran. Yaitu mind full learning (berkesadaran), maknanya pengalaman belajar peserta didik yang diperoleh ketika mereka memiliki kesadaran untuk menjadi pembelajar yang aktif dan mampu meregulasi diri.

Meaning full learning (bermakna), artinya peserta didik dapat menerapkan pengetahuannya ke dalam situasi nyata. Joy full learning (menggembirakan), pembelajaran yang menggembirakan merupakan suasana belajar yang positif, menantang, menyenangkan, dan memotivasi. Rasa senang dalam belajar membantu peserta didik terhubung secara emosional, sehingga lebih mudah memahami, mengingat, dan menerapkan pengetahuan.

Selain itu, juga terdapat istilah pengalaman belajar. Yaitu proses yang dialami peserta didik dalam belajar. Pengalaman belajar pada deep learning difokuskan pada tiga tahap. Pertama, memahami. Karakteristik memahami ini adalah menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya, menstimulasi proses berpikir peserta didik, menghubungkan dengan konteks nyata atau kehidupan sehari-hari, memberikan kebebasan eksploratif dan kolaboratif, menanamkan nilai-nilai moral dan etika serta nilai positif lainnya, dan mengaitkan pembelajaran dengan pembentukan karakter peserta didik. Kedua, mengaplikasi.

Karakteristik mengaplikasi adalah menghubungkan konsep baru dengan pengetahuan sebelumnya, menerapkan pengetahuan ke dalam situasi nyata atau bidang lain, mengembangkan pemahaman dengan eksplorasi lebih lanjut, dan berpikir kritis serta mencari solusi inovatif berdasarkan pengetahuan yang ada.

Ketiga, merefleksi. Karakteristik merefleksi adalah memotivasi diri sendiri untuk teru belajar bagaimana cara belajar, refleksi terhadap pencapaian tujuan pembelajaran (evaluasi diri), menerapkan strategi berpikir, memiliki kemampuan metakognisi (meregulasi diri dalam pembelajaran).

Dalam kegiatan ini, Bu Yanti mengajak peserta lokakarya untuk mempraktikkan efektifitas deep learning seperti bagaimana pelaksanaan presentasi yang lebih menarik, etika yang lebih tepat dalam menerima salam peserta didik, dan cara mengembalikan kesadaran peserta didik ketika loose focus saat belajar.

Bu Yanti memberikan materi kepada peserta lokakarya dengan metode mengajar go round in the class (berkeliling di kelas). Metode ini tergolong efektif dalam pelaksanaan deep learning karena pendidik menghampiri meja peserta didik satu per satu dan melakukan tips touch and eye contact (menyentuh peserta didik yang mengantuk atau kehilangan fokus dan melakukan tatap mata serta menanyakan perasaan peserta didik tersebut). Dengan menggunakan metode mengajar ini peserta didik akan lebih fokus dalam belajar karena pendidik tidak monoton.

Selain itu, dalam pembelajaran deep learning, juga lebih ditekankan pemberian asesmen yang sesuai dengan kemampuan peserta didik. Pendidik tidak bisa memberikan soal asesmen yang sama antara peserta didik dengan kemampuan rendah, sedang, dan tinggi.

Pendidik dapat memberikan tugas dengan jenis HOTS (Higher Order Thinking Skills) kepada peserta didik dengan tingkat kemampuan yang tinggi dan menengah, dan memberikan tugas dengan jenis LOTS (Low Order Thinking Skills) kepada peserta didik dengan tingkat kemampuan rendah.

Pendidik diharapkan bisa mengimbangi teknologi zaman sekarang agar bisa dimanfaatkan dalam pembelajaran seperti penggunaan web wordwall, quiziz, puzzle maker, google meet, video call group, agar pembelajaran tidak monoton dan juga dapat menerapkan prinsip ”belajar dimana saja dan kapan saja”. Selain itu, pendidik juga diharapkan dapat mengaitkan materi yang diajar dengan mata pelajaran lain dan lingkungan peserta didik itu sendiri serta mengajak peserta didik untuk mengamati lingkungan secara langsung.

Seperti pada materi menciptakan puisi dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia, pendidik bisa mengajak peserta didik untuk belajar di luar kelas dan mengamati alam di sekitarnya untuk dijadikan inspirasi tema puisi yang akan diciptakan. Pada mata pelajaran yang mengajarkan tentang sampah, pendidik juga dapat mengajak peserta didik untuk mengamati bank sampah.

Dalam kegiatan lokakarya ini, Bu yanti mengajak peserta lokakarya untuk mengamati bagaimana perbedaan antara modul ajar deep learning dengan modul ajar yang sebelumnya. Setelah diidentifikasi, terdapat sedikit perbedaan antara modul kurikulum merdeka dengan modul deep learning. Perbedaan tersebut terdapat pada sintak yang mencantumkan prinsip pembelajaran dan dimensi profil lulusan.

Selain menjelaskan tentang deep learning, Bu Yanti juga menjelaskan bahwa ada pembelajaran lain yang disebut dengan surface learning. Surface learning adalah pembelajaran di mana peserta didik menghafal informasi atau memahami konsep secara permukaan tanpa menghubungkannya dengan pemahaman yang lebih dalam atau menerapkannya dalam konteks lain.

Karakteristik pembelajaran ini berfokus pada menghafal fakta dan prosedur, mengandalkan pengulangan untuk mengingat informasi, tidak banyak koneksi antara ide atau konsep, dan berorientasi pada hasil jangka pendek seperti ujian dan tes.

Surface learning memiliki perbedaan yang cukup siginifikan dengan deep learning. Walaupun demikian, bukan berarti surface learning tidak dibutuhkan lagi dalam pembelajaran zaman kini. Pembelajaran ini tetap penting sebagai langkah awal dalam pembelajaran, terutama ketika peserta didik memperoleh informasi baru dan mengenal konsep dasar  sebelum melangkah lebih jauh ke pemahaman yang lebih dalam.

Antusias Peserta Lokakarya

Saat pelaksanaan kegiatan ini, Bu Yanti memberikan penjelasan dengan sangat jelas dan rinci serta memberikan contoh nyata. Sehingga peserta lokakarya dapat memahami materi yang diberikan dan tidak jarang aktif dalam kegiatan diskusi seperti mengemukakan opini atau pendapat, dan bertanya jawab. Ketika peserta lokakarya sudah masuk ke dalam fase jenuh, Bu Yanti langsung mengembalikan kesadaran peserta dan memberikan penyegaran berupa ice breaking sehingga menimbulkan semangat peserta lokakarya. Bu Yanti juga tidak hentinya memberikan penguatan kepada peserta lokakarya bahwa deep learning bukanlah ”barang baru”, dan kenapa kita harus menerapkan deep learning.

Jika kita ingin peserta didik berkembang di masa yang penuh turbulensi dan kompleks, mampu menerapkan pemikiran di situasi baru, serta mengubah dunia, kita harus menata ulang pembelajaran apa yang penting dipelajari, bagaimana pembelajaran itu didukung, dimana pembelajaran berlangsung, dan bagaimana kita mengukur kesuksesan.

Akhir Kegiatan Lokakarya

Kegiatan ini di akhiri dengan simpulan materi yang disampaikan oleh Bu Yanti dan ditutup dengan nyanyian yang memberikan kesan menyenangkan pada kegiatan ini. Setelah materi ditutup oleh narasumber, kepala sekolah mengambil alih kegiatan dan melanjutkan pada kegiatan selanjutnya. (Dina Ayu Afifah, S.Pd,Gr, Guru Bahasa Indonesia SMPN 2 Pariangan)

Editor : Eri Mardinal
#lokakarya #Pembelajaran Mendalam #Deep Learning