PADEK.JAWAPOS.COM-Pendidikan adalah ladang yang tak pernah sepi dari dinamika, selalu bergolak dengan gelombang-gelombang perubahan yang tak henti menerpa. Sebagai seorang pendidik, saya selalu mencoba menempatkan diri di persimpangan, tidak lantas menolak, pun tidak serta-merta mengamini setiap inovasi.
Saya mengamati dengan seksama, mencermati setiap riak yang muncul di permukaan, terutama fenomena yang belakangan ini kian menguat: perubahan kurikulum dan pendekatan pembelajaran, seperti yang digaungkan dalam konsep Deep Learning.
Gelombang perubahan ini, tak bisa dimungkiri, memicu respons masif di setiap unit kerja sekolah. Hampir semua sekolah, mulai dari pelosok hingga perkotaan, seolah berlomba-lomba mengadakan serangkaian persiapan dan lokakarya.
Ruang guru mendadak ramai dengan diskusi, pelatihan, dan sesi-sesi berbagi praktik baik. Ada semangat yang membara, harapan akan peningkatan kualitas pendidikan yang lebih baik.
Namun, di balik hiruk-pikuk persiapan yang masif itu, muncul sebuah pertanyaan mendasar yang kerap menggelitik benak saya: apakah setiap guru benar-benar mau menerima perubahan tersebut?
Atau, jangan-jangan, adopsi perubahan ini lebih hanya karena banyak didorong oleh faktor eksternal ketimbang dorongan internal dari hati nurani pendidik itu sendiri?
Faktanya, seringkali kita melihat fenomena yang kontradiktif. Di satu sisi, guru-guru digembleng dengan berbagai materi dan metode baru. Di sisi lain, menjelang tahun ajaran baru, toko-toko buku dan platform daring justru kebanjiran pesanan perangkat ajar siap pakai. Lembar kerja siswa, modul pembelajaran, hingga silabus yang “instan” laris manis diburu.
Mengapa ini bisa terjadi? Jawabannya kompleks, dan salah satu faktor yang paling signifikan adalah tingginya keinginan utk tampak maksimal. Tak jarang, banyak yang menginginkan perangkat ajar yang 100% siap pakai di awal tahun ajaran.
Ada ekspektasi bahwa kurikulum baru atau pendekatan pembelajaran terkini harus segera diimplementasikan dengan sempurna sejak hari pertama. Padahal, kita semua tahu, proses menyiapkan perangkat ajar yang berkualitas, yang benar-benar selaras dengan semangat perubahan kurikulum, membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
Guru membutuhkan ruang untuk bereksplorasi, berdiskusi, merancang, dan bahkan bereksperimen dengan pendekatan baru tersebut. Waktu yang diberikan seringkali tidak proporsional dengan tuntutan yang ada. Akibatnya, guru dihadapkan pada dilema.
Di satu sisi, ada tuntutan untuk berinovasi dan menerapkan metode baru. Di sisi lain, keterbatasan waktu dan tekanan untuk segera menyediakan perangkat ajar yang sempurna mendorong mereka untuk mengambil jalan pintas: membeli yang sudah jadi. Ini tentu saja bukan gambaran ideal dari adopsi perubahan yang berbasis pemahaman dan penerimaan.
Fenomena ini sejatinya adalah cerminan dari tantangan besar dalam transformasi pendidikan. Perubahan, bagaimanapun juga, memerlukan kepemilikan dan pemahaman mendalam dari para pelakunya. Jika guru hanya menjadi objek perubahan, bukan subjek yang terlibat aktif dan merasa memiliki, maka perubahan itu hanya akan berhenti di permukaan, tanpa menyentuh esensi.
Penting untuk diingat bahwa guru bukanlah Core to Duo yang beralih langsung ke Core i5 yang bisa langsung memproses dan mengaplikasikan setiap instruksi baru. Mereka adalah individu dengan pengalaman, kebiasaan, dan bahkan mungkin kekhawatiran terhadap hal-hal baru. Mengabaikan aspek psikologis dan sosiologis dari proses adaptasi ini adalah kesalahan fatal.
Maka, menjadi tugas kita bersama untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih kondusif bagi perubahan. Tidak cukup hanya dengan memberikan pelatihan atau lokakarya. Perlu ada ruang dialog yang terbuka, tempat guru bisa menyampaikan kekhawatiran, membagikan kesulitan, dan bersama-sama mencari solusi.
Selain itu, perlu ada dukungan yang berkelanjutan, tidak hanya di awal perubahan, tetapi sepanjang proses implementasi. Pendampingan, fasilitasi, dan kesempatan untuk berkolaborasi dengan rekan sejawat adalah kunci. Perubahan adalah perjalanan, bukan tujuan akhir yang bisa dicapai dalam sekejap mata.
Kepala sekolah, sebagai motor penggerak di unit kerja, juga memiliki peran krusial. Alih-alih hanya menuntut kesempurnaan di awal, mereka bisa menjadi fasilitator dan motivator yang memberikan kepercayaan, memaklumi proses, dan mendorong guru untuk terus belajar dan berinovasi secara bertahap.
Tentu saja, peran pemerintah dan pembuat kebijakan juga tak kalah penting. Kebijakan yang dikeluarkan harus realistis, mempertimbangkan kondisi lapangan, dan memberikan fleksibilitas yang cukup agar sekolah dan guru memiliki ruang untuk beradaptasi dengan perubahan tanpa merasa terbebani secara berlebihan.
Pada akhirnya, esensi dari setiap perubahan kurikulum atau pendekatan pembelajaran adalah bagaimana kita bisa menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik bagi peserta didik. Ini tidak akan terwujud jika guru, sebagai ujung tombak pendidikan, merasa tertekan, kebingungan, atau hanya menjalankan perintah tanpa pemahaman dan kemauan yang tulus.
Maka, marilah kita bersama-sama merefleksikan fenomena ini. Perubahan memang tak terhindarkan, tapi bagaimana kita meresponsnya, dan bagaimana kita memastikan bahwa setiap elemen dalam sistem pendidikan benar-benar siap dan mau bergerak bersama, itulah yang akan menentukan keberhasilan sejati dari setiap inovasi.
Apakah kita akan membiarkan guru terus menerus merasa terdesak, ataukah kita akan menciptakan ruang di mana inovasi tumbuh dari kesadaran dan keinginan bersama? (zoe)
Editor : Novitri Selvia