Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

MA Negeri Kota Sawahlunto: Jaga Harmoni, Sulam Rasa di Tengah Keberagaman

Zulkarnaini. • Selasa, 5 Agustus 2025 | 15:45 WIB
Dafril Tuanku Bandaro, GURU MTSN 1 KOTA PADANG.(TIM LAMAN GURU)
Dafril Tuanku Bandaro, GURU MTSN 1 KOTA PADANG.(TIM LAMAN GURU)

PADEK.JAWAPOS.COM-Indonesia adalah rumah bagi beragam agama: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu, di samping keyakinan lokal yang telah hidup berabad-abad.

Keberagaman ini bukan kebetulan sejarah semata, melainkan takdir yang dipercayakan Tuhan kepada bangsa ini. Sebagai amanah, ia menuntut perawatan, bukan sekadar penerimaan pasif.

Keberagaman sebagai Takdir dan Amanah

Dalam pandangan agama, harmoni dan saling menghargai bukanlah kelemahan, tetapi kekuatan. Islam mengajarkan lakum dînukum wa liya dîn bagimu agamamu, bagiku agamaku.

Kristen mengajarkan kasih kepada sesama, bahkan kepada yang berbeda. Hindu dan Buddha menanamkan ajaran damai, tanpa kekerasan. Semua nilai ini sejatinya berjumpa pada satu titik: menghargai kehidupan.

Memperkuat keyakinan agaama masing-masing, taat beribadah, mengaktualisasikan, dan membumikan sikap toleran adalah hakikat dari harmoni ditengah keberagaman.

Harmoni dan toleran bukan berarti menanamkan prinsip semua agama itu benar jelas tidak tetapi memperkuat keyakinan masing-masing pada agama yangh keme dianut lalu menghargai keyakinan orang lain adalah kemestian.

Tantangan Toleransi Masa Kini

Dunia digital yang seharusnya menjadi jembatan pemahaman, kerap menjadi ladang subur bagi prasangka. Perdebatan seputar ucapan lintas agama, polemik di ruang publik, hingga gesekan bernuansa SARA kerap menjadi tajuk berita.

Sebagian umat merasa bahwa toleransi berarti melemahkan keyakinan, padahal sejatinya toleransi tidak pernah menuntut kita meninggalkan iman, melainkan menguatkannya tanpa menyakiti orang lain.

Fenomena global dan nasional memperlihatkan dua arus yang harus diwaspadai, pertama, arus eksklusivisme sempit yang menolak keberadaan pihak lain. Kedua, arus relativisme bebas yang menganggap semua agama sama tanpa menghormati kekhasan dan tidak punya prinsip.

Baca Juga: Kickoff CKG Sekolah: Dari Keder Jarum hingga Lapor Makan Kertas, Selain Rapor Akademik, Diharapkan Ada Rapor Kesehatan

Keduanya sama-sama mengikis harmoni. Yang dibutuhkan adalah toleransi berbasis keyakinan kokoh di mana iman dipelihara, dan penghormatan kepada sesama dijunjung.

Menyulam Rasa: Jalan Tengah yang Bijaksana

Toleransi beragama yang sehat bukan kompromi iman, melainkan komitmen ganda. Pertama, memperdalam pemahaman agama sendiri agar tidak goyah saat berinteraksi dengan perbedaan. Kedua, menjaga ucapan dan tindakan agar tidak merendahkan keyakinan orang lain.

Beberapa langkah strategis yang dapat ditempuh, pertama, dialog antarumat yang konstruktif: membicarakan kesamaan nilai kemanusiaan, bukan saling mengoreksi akidah.

Kedua, pendidikan multikultural di sekolah dan madrasah: mengenalkan keragaman sejak dini agar tumbuh empati, bukan curiga.

Ketiga, penguatan literasi agama: agar umat tidak mudah termakan ujaran kebencian atau penyesatan di media sosial. Keempat, Keteladanan tokoh agama: pertemuan dan kolaborasi sosial yang mengutamakan manfaat bersama.

Kekuatan Agama sebagai Perekat

Agama sejatinya adalah cahaya yang menerangi, bukan api yang membakar. Keyakinan yang kokoh justru membuat seseorang lebih siap hidup berdampingan. Umat yang beragama dengan baik akan memancarkan akhlak mulia, sehingga kehadirannya menyejukkan, bukan mengancam.

Pengalaman sejarah Indonesia membuktikan bahwa kerja sama lintas agama mampu mengalahkan penjajahan, membangun negeri, dan melewati krisis.

Dari sinilah kita belajar, bahwa perbedaan adalah warna-warni benang yang, bila disulam dengan kesabaran, melahirkan kain harmoni yang indah.

Menjaga Agar Harmoni Tetap Bernyanyi

Menjaga toleransi beragama bukan pekerjaan sehari, melainkan perjalanan seumur hidup. Kita tidak dituntut untuk menjadi sama, tetapi untuk saling menjaga ruang suci keyakinan masing-masing.

Baca Juga: Wanda Bunuh Dua Korban secara Terencana, Kisruh Pembunuhan Cika

Di tengah hiruk pikuk perbedaan, mari kita jadikan agama bukan sekadar identitas, tetapi sumber kekuatan moral untuk menciptakan kedamaian, keadilan, dan kasih sayang.

Karena harmoni bukan tercipta dari keseragaman, melainkan dari perbedaan yang saling menghargai.(Dafril Tuanku Bandaro, KEPALA MAN KOTA SAWAHLUNTO)

Editor : Novitri Selvia
#jaga harmoni #MA Negeri Kota Sawahlunto #Keberagaman #Dafril Tuanku Bandaro