PADEK.JAWAPOS.COM-Keberadaan koran masuk sekolah merupakan satu cara untuk membudayakan Literasi di sekolah. Adanya terbitan Padang Ekspres di SDN 28 Payakumbuh dan tersedianya satu halaman untuk para guru dan tendik berkreativitas, saya untuk mencoba menulis.
Sebagai kepala sekolah mulai tahun 2023 saya mencoba untuk mengirimkan tulisan. Alhamdulilah di terbitkan oleh Padang Ekspres dan ini menjadi awal untuk terus menulis bagai saya.
Sehingga pada Hari Guru saya mendapat sertifikat penghargaan dari Padang Ekspres sebagai penulis di halaman guru. Perhatian dan motivasi kesabaran juga ruang yang diberikan oleh penerbit Padang Ekspres, Ini tidaklah dari semua penerbit yang bisa kita peroleh seperti ini.
Namun berkat arahan dan Keberadaan koran masuk sekolah merupakan satu cara untuk membudayakan Literasi di sekolah, Adanya terbitan Padang Ekspres di SDN 28 Payakumbuh dan tersedianya satu halaman untuk para guru dan tendik berkreativitas, saya untuk mencoba menulis.
Sebagai kepala sekolah mulai tahun 2023 saya mencoba untuk mengirimkan tulisan. Alhamdulilah di terbitkan oleh Padang Ekspres dan ini menjadi awal untuk terus menulis bagi saya.
Sehingga pada Hari Guru saya mendapat sertifikat penghargaan dari Padang Ekspres sebagai penulis di halaman guru. Perhatian dan motivasi kesabaran juga ruang yang diberikan oleh penerbit Padang Ekspres. Ini tidaklah dari semua penerbit yang bisa kita peroleh seperti ini.
Namun berkat arahan dan dorongan dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh, manfaat koran masuk sekolah akan terasa jika guru dan warganya mau ikut menulis. Ini kelak akan membudayakan Gerakan Literasi.
Sebagai seorang kepala sekolah saya merasa ini perlu menularkan ini kepada guru dan Tendik. Dan sudah semestinya seorang yang visioner memandang literasi guru sebagai investasi jangka panjang.
Perlu dipahami bahwa guru yang memiliki literasi tinggi akan lebih inovatif dalam mengajar, mampu menyusun materi yang relevan, dan terampil dalam menggunakan teknologi.
Literasi guru yang kuat juga secara tidak langsung akan memotivasi siswa. Guru yang gemar membaca, meneliti, dan menulis akan menjadi teladan hidup bagi murid-muridnya dalam menciptakan ekosistem sekolah yang seluruh warganya mencintai ilmu pengetahuan.
Untuk mewujudkan budaya literasi yang kuat, kepala sekolah tidak bisa hanya memberikan perintah. Mereka harus menjadi pemimpin yang inspiratif dan fasilitator yang proaktif. Berikut adalah beberapa strategi yang saya diterapkan, Di antaranya, Menciptakan Budaya Kolaborasi.
Kepala sekolah dapat mendorong guru untuk berkolaborasi dalam proyek-proyek literasi, seperti membuat buletin sekolah, menyusun antologi puisi atau cerpen, atau menulis artikel ilmiah, Dengan bekerja sama, guru merasa didukung dan termotivasi untuk menghasilkan karya.
Menyediakan fasilitas dan pelatihan juga merupakan tanggung jawab kepala sekolah demi memastikan guru memiliki akses ke sumber daya yang dibutuhkan, seperti buku-buku referensi, jurnal ilmiah, dan akses internet yang memadai.
Selain itu, mereka dapat mengadakan pelatihan rutin tentang penulisan, riset, atau literasi digital untuk meningkatkan keterampilan guru.
Memberikan Apresiasi dan Penghargaan. Motivasi terbesar datang dari pengakuan. Kepala sekolah dapat memberikan apresiasi kepada guru yang berhasil menerbitkan karya, baik di media massa maupun dalam bentuk buku.
Penghargaan ini bisa berupa sertifikat, insentif, atau sekadar pujian publik saat rapat guru, yang akan mendorong guru lain untuk mengikuti jejaknya. Menjadi Teladan, Tidak ada motivasi yang lebih kuat daripada melihat pemimpinnya sendiri beraksi.
Kepala sekolah yang gemar membaca, berbagi hasil bacaannya, atau bahkan ikut menulis dan menerbitkan karyanya akan menjadi teladan yang nyata. Ini menunjukkan bahwa literasi adalah nilai yang benar-benar diyakini dan dipraktikkan, bukan sekadar program formal.
Dengan menerapkan strategi-strategi ini, kepala sekolah dapat mengubah persepsi bahwa literasi adalah beban, menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat.
Guru yang termotivasi akan secara sukarela mengembangkan diri, meningkatkan kompetensi profesional, dan pada akhirnya, menciptakan generasi penerus yang juga literat dan berdaya saing.
Untuk saat ini sudah enam guru dan tendik yang termotivasi untuk menulis.
Terimakasih saya ucapkan kepada Kepala Dinas Pendidikan, Dr. Dasril, S.Pd, M.Pd dan jajaran yang selalu memotivasi kepala sekolah untuk dapat memberikan dorongan kepada guru untuk mencoba menulis.
Terutama penerbit koran Padang Ekspres yang sudah memberikan ruang dan waktu buat kami para pendidik untuk menulis. Menulis berawal dari mencoba lama kelamaan menjadi asyik dan candu Salam Literasi. (***)
Editor : Novitri Selvia