PADEK.JAWAPOS.COM-Dalam membentuk generasi masa depan yang tangguh, tidak hanya kecerdasan intelektual yang perlu dikembangkan, tetapi juga kecerdasan spiritual dan sosial.
Konsep Anak Indonesia Hebat yang digalakkan melalui berbagai program pendidikan karakter menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai utama sejak usia dini.
Di antara nilai-nilai tersebut, beribadah dan kewargaan menjadi dua pilar yang sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam konteks pembelajaran berbasis budaya dan spiritual masyarakat Indonesia.
SD Negeri 46 Payakumbuh, sebagai bagian dari komunitas pendidikan yang sadar akan pentingnya nilai-nilai tersebut, mengadakan kegiatan salat Istisqa (salat minta hujan) pada Jum’at 25 Juli 2025 di Lapangan Sari Bulan Sawah Padang bersama dengan Kementerian Agama Kota Payakumbuh dan masyarakat sekitar.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana spiritual untuk memohon turunnya hujan di tengah musim kemarau yang berkepanjangan, tetapi juga sebagai bentuk nyata pembelajaran karakter bagi murid — sebuah praktik langsung dari nilai “Anak Indonesia Hebat” dalam kehidupan terutama pada kegiatan beribadah dan bermasyarakat.
Salat Istisqa merupakan salah satu ibadah yang disyariatkan dalam Islam sebagai bentuk pengakuan manusia akan keterbatasannya dan kebutuhan terhadap rahmat Allah SWT.
Dalam kondisi kekeringan atau musim kemarau panjang, umat Islam diajarkan untuk memohon kepada Tuhan agar diturunkan hujan sebagai bentuk kasih sayang-Nya.
Melalui kegiatan ini, anak-anak diajak untuk memahami bahwa berdoa dan beribadah tidak hanya dilakukan dalam rutinitas harian seperti sholat lima waktu, tetapi juga dalam situasi khusus yang menuntut kepasrahan dan kekhusyukan yang lebih dalam.
Para murid dibimbing untuk menyadari bahwa manusia hidup bergantung pada alam, dan alam tunduk kepada kehendak Sang Pencipta. Ini adalah pembelajaran spiritual yang mendalam, yang tidak mungkin didapat hanya melalui teori di dalam kelas.
Kegiatan salat Istisqa ini memperkuat nilai iman dan ketakwaan murid. Anak-anak tidak hanya diajak untuk melafalkan doa, tetapi juga merenungkan makna di baliknya — bahwa sebagai makhluk yang lemah, kita perlu memohon, berdoa, dan bertawakal.
Mereka menyaksikan langsung bahwa ibadah memiliki kekuatan sosial dan spiritual yang besar. Selain sebagai ibadah, pelaksanaan salat Istisqa juga mengajarkan nilai bermasyarakat kepada murid.
Dalam kegiatan ini, terlihat bagaimana sinergi antara sekolah, Kementerian Agama, dan masyarakat berjalan dengan harmonis. Anak-anak menyaksikan dan ikut serta dalam kegiatan yang mengedepankan kebersamaan, gotong royong, dan rasa peduli terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
Kehadiran warga sekitar dalam kegiatan ini memperkuat pesan bahwa masyarakat adalah tempat belajar terbaik setelah keluarga dan sekolah. Para murid belajar untuk tidak bersikap individualis.
Mereka memahami bahwa ketika sebuah masalah melanda — seperti kekeringan — maka semua pihak, baik tua maupun muda, pelajar maupun orang tua, harus bersatu dan bertindak bersama.
Anak-anak juga diajak untuk berdiskusi setelah kegiatan, menyampaikan pendapat mereka tentang pentingnya menjaga lingkungan, bagaimana kekeringan bisa terjadi akibat kerusakan alam, dan apa yang bisa mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari sini, nilai-nilai Pancasila, terutama sila pertama (Ketuhanan Yang Maha Esa) dan sila ketiga (Persatuan Indonesia), bukan lagi sekadar hafalan, tapi benar-benar dihayati melalui pengalaman nyata.
Kegiatan salat Istisqa yang dilaksanakan di SD Negeri 46 Payakumbuh menjadi bukti bahwa pendidikan karakter bisa berjalan secara kontekstual, alami, dan penuh makna. Praktik nilai Anak Indonesia Hebat tidak harus selalu dilakukan di dalam kelas.
Justru, melalui kegiatan seperti inilah, murid belajar langsung tentang beribadah, kebersamaan, kepedulian, dan tanggung jawab social dan bermasyarakat.
Dengan menyatukan elemen beribadah dan bermasyarakat, sekolah telah mengambil peran penting dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan secara bersamaan.
Generasi muda Indonesia perlu dibekali tidak hanya dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga dengan kesadaran spiritual dan sosial yang tinggi.
Harapannya, kegiatan seperti ini tidak hanya menjadi rutinitas atau simbolik, melainkan menjadi tradisi positif yang membentuk karakter anak-anak kita sebagai generasi cerdas, peduli, dan bertakwa.
Lahir dari kebiasaan baik seperti inilah yang kelak akan menjadi Anak Indonesia Hebat, yang siap menghadapi tantangan masa depan dengan akhlak yang kuat dan jiwa kebangsaan yang kokoh.(Eka Fitri, GURU SDN 46 PAYAKUMBUH)
Editor : Novitri Selvia