PADEK.JAWAPOS.COM-Pendidikan tak hanya soal angka dan teori di ruang kelas. Lebih dari itu, pendidikan adalah fondasi untuk membentuk karakter dan identitas. Di Kota Padang, Sumatera Barat, ada upaya kuat untuk menyelaraskan pendidikan formal dengan kearifan lokal.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernitas, nilai-nilai budaya Minangkabau kembali ditegakkan di sekolah-sekolah, dari tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga sekolah menengah pertama (SMP).
Pemerintah Kota Padang melalui Dinas Pendidikan mengambil langkah strategis dengan menerapkan muatan lokal (mulok) Keminangkabauan secara masif.
Setiap hari Selasa, anak didik di seluruh PAUD, SD, dan SMP se-Kota Padang akan dibekali pengetahuan tentang Minangkabau. Guru-guru yang bertugas mengajar mulok ini telah dilatih secara khusus, memastikan materi yang disampaikan benar-benar mendalam dan relevan.
Ini bukan sekadar mata pelajaran tambahan, melainkan sebuah program penguatan karakter yang bertujuan menanamkan nilai-nilai adat dan budaya kepada generasi muda.
Penerapan mulok ini merupakan respons atas tantangan zaman yang semakin mengikis identitas budaya. Anak-anak kini lebih akrab dengan budaya populer dari luar daripada tradisi leluhur mereka.
Dengan adanya pelajaran Keminangkabauan, diharapkan mereka bisa mengenal, mencintai, dan bangga menjadi bagian dari suku Minang. Materi yang diajarkan mencakup berbagai aspek, mulai dari sejarah, adat, seni, hingga filosofi hidup yang terangkum dalam pepatah Minang.
Salah satu implementasi paling nyata dari program ini bisa kita lihat di SMP Negeri 30 Padang. Setiap hari Selasa, sekolah ini rutin mengadakan agenda bertajuk “Minang Day”.
Hari itu, seluruh guru dan siswa wajib mengenakan pakaian adat Minangkabau. Para siswi berbusana baju basiba, sementara siswa laki-laki memakai taluak balango. Suasana sekolah pun terasa berbeda, dipenuhi nuansa Minang yang kental.
Namun, Minang Day bukan sekadar soal pakaian. Kegiatan ini adalah wadah interaksi dan pembelajaran budaya yang hidup. Di pagi hari, seluruh warga sekolah berkumpul di halaman untuk memulai kegiatan. “Sahari babahaso Minang,” menjadi salah satu aturan yang diterapkan.
Sepanjang hari, interaksi di dalam lingkungan sekolah sebisa mungkin menggunakan bahasa Minang. Hal ini membiasakan siswa untuk berkomunikasi dalam bahasa ibu mereka, sebuah praktik yang mulai jarang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Minang Day juga menjadi panggung bagi ragam ekspresi seni dan budaya. Setiap pekan, ada pertunjukan seni tradisional yang ditampilkan oleh siswa.
Mulai dari tari piring, tari indang, hingga pertunjukan musik tradisional. Kegiatan ini bukan hanya hiburan, tapi juga sarana bagi siswa untuk mengasah bakat dan pemahaman mereka terhadap seni budaya Minangkabau.
Baru-baru ini, salah satu agenda paling menarik dalam Minang Day di SMP Negeri 30 Padang adalah pementasan drama tradisional. Para siswa menampilkan cerita kaba “Sabai Nan Aluih” di lapangan sekolah.
Kaba adalah salah satu bentuk sastra lisan Minangkabau yang kaya akan pesan moral dan nilai-nilai luhur. Pementasan ini tidak hanya memperkenalkan siswa pada warisan sastra, tetapi juga melatih mereka untuk berani tampil, bekerja sama, dan menjiwai karakter-karakter dalam cerita.
“Sabai Nan Aluih” adalah cerita tentang keberanian, kejujuran, dan perjuangan melawan ketidakadilan. Dengan memerankannya, siswa secara tidak langsung menyerap nilai-nilai tersebut, yang diharapkan bisa membentuk karakter mereka di masa depan.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan budaya bisa disampaikan dengan cara yang kreatif dan menyenangkan, jauh dari kesan membosankan. Penerapan program-program seperti Minang Day di sekolah-sekolah Kota Padang adalah langkah maju yang patut diapresiasi.
Ini membuktikan bahwa pendidikan modern dan tradisi budaya bisa berjalan beriringan, bahkan saling menguatkan. Melalui metode yang interaktif dan partisipatif, pendidikan Keminangkabauan tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan bagian dari keseharian yang membanggakan.
Program-program ini tidak hanya menghasilkan siswa yang cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki identitas budaya yang kuat.
Dengan bekal nilai-nilai “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” (Adat Berlandaskan Syariat, Syariat Berlandaskan Kitabullah), generasi muda di Padang diharapkan menjadi pribadi yang berkarakter, beretika, dan berpegang teguh pada nilai-nilai leluhur.
Di tangan mereka, masa depan kebudayaan Minangkabau akan tetap lestari di tengah gemuruh peradaban modern.(Zahratil Husna, GURU SMPN 30 PADANG)
Editor : Novitri Selvia