PADEK.JAWAPOS.COM-Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan salah satu tahapan penting bagi mahasiswa calon guru. PPL bukan sekadar kegiatan formal dalam kurikulum, melainkan kesempatan emas untuk merasakan langsung bagaimana dunia pendidikan berjalan di sekolah.
Di sinilah teori yang dipelajari di bangku kuliah diuji, sekaligus ditempa oleh realitas di lapangan. Bagi saya, kesempatan menjalani PPL di SDN 11 Lawang Mandahiling merupakan pengalaman berharga yang penuh warna.
Sekolah ini bukan hanya menjadi tempat praktik, tetapi juga menjadi ruang belajar kehidupan yang nyata. Di dalamnya saya menemukan suka, duka, tantangan, sekaligus kebahagiaan yang sulit tergantikan.
Artikel ini saya tulis sebagai refleksi pribadi, dengan harapan dapat memberi gambaran kepada masyarakat tentang bagaimana suka duka seorang mahasiswa PPL ketika mengajar di sekolah dasar. Hari pertama saya datang ke SDN 11 Lawang Mandahiling, saya disambut dengan hangat oleh guru-guru dan siswa.
Suasana sekolah yang sederhana tidak mengurangi semangat belajar yang terpancar dari setiap sudutnya. Walaupun fasilitas terbatas, namun kekeluargaan dan kebersamaan begitu terasa.
Saya ditempatkan untuk mendampingi proses pembelajaran di kelas rendah dan kelas tinggi. Dari sinilah perjalanan saya dimulai mengenal karakter anak-anak, beradaptasi dengan kultur sekolah, serta mencoba mempraktikkan berbagai metode pembelajaran yang sebelumnya hanya saya kenal melalui teori.
Salah satu kebahagiaan terbesar adalah melihat antuiasme siswa dalam belajar. Meskipun ada keterbatasan, banyak anak yang menunjukkan semangat luar biasa. Mereka aktif bertanya, menjawab dengan percaya diri, bahkan menunjukkan rasa bangga ketika berhasil menyelesaikan tugas.
Anak-anak di SDN 11 Lawang Mandahiling memiliki sikap yang polos dan apa adanya. Sapaan mereka setiap pagi, senyum yang tulus, hingga candaan ringan di sela-sela belajar memberikan energi baru bagi saya.
Rasa lelah karena persiapan mengajar terbayar lunas ketika melihat wajah-wajah ceria mereka. Kebahagiaan juga muncul ketika saya menyadari bahwa materi yang saya sampaikan dapat dipahami oleh siswa.
Misalnya, saat mengajarkan penjumlahan atau perkalian sederhana, beberapa siswa mampu menjawab dengan tepat bahkan tanpa diminta. Keberhasilan kecil itu menjadi hadiah besar bagi seorang calon guru.
Tidak semua siswa menunjukkan semangat belajar yang sama. Ada yang sulit fokus, enggan mencatat, bahkan memilih diam saat diminta menjawab. Menghadapi siswa yang kurang termotivasi membutuhkan kesabaran ekstra dan kreativitas agar mereka tetap terlibat dalam pembelajaran.
Di kelas, saya menemukan perbedaan kemampuan yang cukup mencolok. Ada siswa yang cepat menangkap pelajaran, namun ada juga yang masih kesulitan memahami materi dasar.
Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam merancang metode pembelajaran agar bisa mengakomodasi semua siswa. Beberapa media pembelajaran modern tidak tersedia di kelas.
Misalnya, penggunaan proyektor atau alat peraga tertentu harus diganti dengan alternatif sederhana. Saya harus lebih kreatif memanfaatkan benda-benda sekitar agar materi tetap tersampaikan dengan baik.
Sebagai mahasiswa PPL, saya menyadari bahwa mengatur kelas bukanlah hal mudah. Ada saat-saat di mana siswa sulit dikendalikan, misalnya ketika suasana kelas terlalu ramai. Kondisi ini melatih saya untuk tegas namun tetap mengedepankan pendekatan yang humanis.
Pengalaman di SDN 11 Lawang Mandahiling memberikan saya banyak pelajaran, di antaranya Kesabaran adalah kunci utama. Menghadapi anak-anak sekolah dasar memerlukan kesabaran ekstra, terutama ketika mereka sulit diatur. Kreativitas guru sangat menentukan.
Tanpa fasilitas yang lengkap, guru dituntut untuk selalu kreatif. Inovasi sederhana ternyata bisa membuat kelas lebih hidup. Kedekatan emosional memperkuat proses belajar.
Hubungan yang hangat antara guru dan siswa mampu meningkatkan motivasi mereka. Mengajar adalah panggilan hati. Saya menyadari bahwa profesi guru tidak hanya tentang transfer ilmu, melainkan juga tentang pengabdian dan ketulusan.
PPL membuat saya semakin yakin bahwa menjadi guru adalah jalan pengabdian yang mulia. Guru bukan hanya penyampai ilmu, tetapi juga motivator, pembimbing, sekaligus teladan bagi siswanya.
Suka duka yang saya alami membentuk pribadi saya untuk lebih siap menghadapi dunia pendidikan di masa depan. Saya belajar bahwa setiap anak unik, setiap kelas memiliki tantangan, dan setiap guru harus mampu menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada.
PPL di UPT SDN 11 Lawang Mandahiling adalah pengalaman yang tidak saya lupakan, Suka-duka yang saya jalani selama proses mengajar telah memperkaya wawasan dan dan memperkuat tekad saya untuk menjadi guru professional dan berjiwa pengabdian.
Saya percaya, pendidikan bukan hanya tentang menguasai materi pelajaran, tetapi juga tentang menumbuhkan semangat membentuk karakter, dan memberi inspirasi kepada anak muda.
Semoga refleksi ini menjadi gambaran bagi pembaca tentang realitas pendidikan di lapangan, sekaligus menjadi motivasi bagi mahasiswa lain yang kelak akan menjalani PPL.(Rahmayani, PENGAJAR UPT SDN 11 LAWANG MANDAHILING)
Editor : Novitri Selvia