Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SD Negeri 10 Bandarbuat, Kebahagian Sesaat

Novitri Selvia • Selasa, 7 Oktober 2025 | 14:32 WIB

Dini Febrigaria, GURU SDN 10 BANDARBUAT
Dini Febrigaria, GURU SDN 10 BANDARBUAT


PADEK.JAWAPOS.COM-Mia. Itu lah namaku. Seorang gadis kecil yang tinggal di Desa bersama dengan ibu karena dari kecil aku sudah ditinggal pergi sama ayahku, ayahku bukan pergi untuk selama-lamanya tapi ayahku lebih memilih hidup dengan wanita lain.

Ibuku membanting tulang sendiri untuk bisa menyekolahkanku. Semua pekerjaan apa saja dilakukan oleh ibuku agar kami bisa hidup dan aku bisa sekolah.

Hari-hariku sangat bahagia walaupun aku hanya tinggal berdua sama ibuku,tanpa ada mendapat kasih sayang dari seorang ayah.

Sebenarnya,akupun merasa sedih melihat teman-teman yang lengkap kedua orang tuanya. Tapi, tidak masalah bagiku karena masih banyak anak-anak yang seumuran dengan ku yang bernasib sama.

Aku juga punya seorang teman yang bernasib sama, yaitu sama-sama tinggal berdua sama ibu kerena ayahnya juga menikah dan memilih hidup dengan wanita lain.

Panggil saja nama Yanti, setiap hari aku selalu bermain bersamanya, mulai dari kami mencari kayu bakar untuk memasak, mencari keong untuk makan makanan itik dan mengembala kerbau.

Kami sangat senang dan bahagia. Walaupun anak-anak seusia kami pergi jalan-jalan sore bersama ayah dan ibunya tapi  berbeda dengan kami berdua.

Kami setiap sore habis shalat asyar mengembalakan kerbau sampai kerbau kenyang baru kami pulang dan memasukkan ke kandang.

Setiap malam aku belajar sendiri,tanpa ada yang mendampingiku, ibuku mungkin merasa lelah karena telah bekerja di ladang setiap hari, makanya malam hari ibuku tertidur setelah shalat Isya.

Aku belajar sendiri walaupun tugas yang aku kerjakan banyak yang salah karena aku tidak tau mau belajar sama siapa, aku bukanlah anak pintar dan juga bukan bodoh.

Suatu hari, aku teringat dengan ayahku, kira-kira ayahku sedang apa ya. Mungkin ayah ku sedang berbahagia bersama anak dan istrinya, ayahku menikah dan mempunyai dua orang anak bersama istri keduanya.

Mungkin anaknya sangat bahagia memiliki kedua orang tua yang lengkap tapi tidak denganku. Ayahku seorang angkatan,dia menikah secara diam-diam tanpa sepengetahuan komandannya.

Karena, jika ketahuan pasti ayah ku akan di pecat dari jabatannya. Ayahku mengancam ibuku agar tidak membocorkan pernikahannya, jika ketahuan sama komandannya ayah tidak akan memberi aku uang bulanan untuk biaya sekolahku.

Ibuku adalah wanita yang tegar dan sabar,dia tidak membutuhkan uang belas kasihan dari gaji ayahku setiap bulannya. Ibu ku tetap bekerja membanting tulang karena ibuku bilang Ia juga hidup dengan uang hasil tani kedua orang tuanya.

Ibuku mulai berfikir bagaimana cara mengakhiri sebuah hubungan ini. Wanita mana coba yang rela berbagi suami dengan madunya, akhirnya, ibuku menulis surat dan mengajukan gugatan cerai ke komandan ayahku, zaman dulu sangatlah mudah untuk bercerai bukan sama dengan sekarang.

Ayah dan Ibuku resmi bercerai dan otomatis ayahkupun tidak memberikan uang bulanan lagi untukku. Jadi, benar-benar ibu ku yang membiayai pendidikanku.

Ibuku pantang menyerah dan selalu menjadi wanita yang kuat, apapun pekerjaan dilakukan agar kami bisa bertahan hidup, suatu hari ibuku di kenalkan sama temannya dengan seseorang laki-laki yang umurnya tidak jauh berbeda dengan ibuku.

Singkat cerita, laki-laki tersebut menikahi ibuku, aku sangat senang dan merasa bahagia sekali, karena sekarang aku punya seorang ayah dan aku bersama ibuku tidak akan kesepian lagi, tidak terbayang bagaimana rasa kebahagian punya ayah.

Ayah sambungku sangat menyanyangiku, ibuku pun merasa senang dan akupun merasa sangat senang dan bahagia. Sudah hampir dua tahun ibuku menikah,tidak ada yang kurang dan tidak ada yang aneh dalam diri ayah sambungku.

Tapi, lama-kelamaan ternyata sayang ayah berubah,ayah bukan membenci atau tidak memperhatikannku, tapi sayangnya ayah sekarang sudah terlalu berlebihan, sayangnya lebih dari yang ku tau, dia menyayangiku dan menariknya dalam pelukannya, seketika itu aku terkejut dan sangat takut sekali.

Pernah suatu saat aku ceritakan sama ibuku dan ibuku jawabnya pun tenang, ibu bilang. “Ayah, sangat menyangimu nak, karena dia tidak punya anak perempuan, ayah itu benar-benar menganggap kamu sebagai anaknya”. Aku terdiam, mungkin lain pengaduan ayah kepada ibuku.

Makin hari rasanya aku tidak nyaman untuk tinggal di rumahku sendiri, kebahagian yang hanya sesaat dan kebahagian itu sekarang berbah menjadi kesedihan dan ketakutan. Aku merasa kesepian, aku tidak tau mau cerita dengan siapa lagi.

Jadi, semuanya aku diamkan saja sendiri. Setiap malam aku tidur di rumah tante, anak tanteku juga perempuan yang berbeda satu tahun denganku, dia lebih tua dariku. Apapun aku telan sendiri tanpa harus mengadu pada siapapun.

Tak sengaja aku mendengar ayah dan ibu berbicara, “Bu,kenapa Mia harus tidur tempat orang lain padahal kita punya rumah?” besok tolong ibu bilang sama Mia agar dia tidak nginap di rumah orang lagi.

Sesak rasa dadaku mendengar perkataan ayah,aku sangat kesal dan marah padahal rumah tante bagiku sama dengan rumahku sendiri. Ibuku hanya diam saja, tapi tiba-tiba ibu memanggilku agar nanti malam aku tidak ke rumah tante lagi dan akhirnya aku mengikuti ibuku.

Karena aku tidak ingin membuat ibuku sedih dan marah padaku. Aku sangat kenal dengan sifat ibuku, jika ibuku sudah diam itu tandanya ibuku sedang marah. Waktu terus berputar, sekarang sudah menunjukkan jam enam lewat tiga puluh menit dan kami shalat magrib.

Dan habis shalat kami lanjut makan bersama,setelah makan aku malas untuk berkumpul bersama ibu dan ayah. Aku pamit untuk masuk kamar dan lanjut mengerjakan tugas Agama yang diberikan oleh Ibu guru tadi siang.

Tak terasa hari semakin malam karena aku keasyikan untuk membaca buku,tentunya ibu dan ayahku sudah tidur duluan. Sebelum tidur tidak lupa aku ambil wuduk dan mengerjakan kewajiban sebagai seorang muslim yaitu shalat Isya.

Habis shalat aku menuju jendela menurunkan kain gorden. Di saat aku menurunkan gorden betapa terkejutnya aku ternyata ayah berada di luar jendela ingin mengintipku tidur.

Aku sangat takut, langsung aku tutup gorden tanpa ada gorden yang merenggang sedikitpun, aku gelisah, mataku tak mau dipejamkan, aku selau berdoa dan mohon perlindungan dan entah kapan aku sudah tertidur dalam keadaan takut dan gelisah.

Alhamdulillah aku bersyukur kepada Allah kejadian tersebut tidak berlangsung lama,ayah sambungku sakit dan akhirnya menghadap Allah.

Akupun bersyukur tidak ada lagi yang memelukku dengan memberikan kasih sayang yang pura-pura saja padahal mencari sesuatu yang lain dalam diriku.

Aku bersyukur aku masih tetap menjadi seorang gadis tanpa ada sentuhan dari ayah sambungku (habis). Pesan untuk semua bunda-bunda di rumah.

“Pertahankan rumah tanggamu demi anak-anak, jika tidak bisa jaga selalu anak-anakmu. Karena banyak yang mengintai, mungkin bukan karena keinginan tapi karena ada kesempatan, jangan sampai masa depan anak-anakmu rusak demi kepentingan dan kebahagian diri sendiri”.(Dini Febrigaria, Guru SDN 10 Bandarbuat)

Editor : Novitri Selvia
#Kebahagian Sesaat #SD Negeri 10 Bandarbuat #Dini Febrigaria