PADEK.JAWAPOS.COM-Di tengah derasnya perkembangan teknologi, SD Negeri 28 Payakumbuh tak mau ketinggalan. Berbagi praktik baik pun dilakukan untuk berbagi dan sharing dengan sesama guru.
Kegiatan desiminasi atau berbagi praktik baik tentang materi koding dan kecerdasan artifisial dilakukan setelah salah seorang guru SD Negeri 28 Payakumbuh mendapatkan pelatihan secara langsung.
Dengan memanfaatkan waktu setelah kegiatan pembelajaran selesai, maka berbagi praktik baik dilakukan di sekolah.
Kegiatan ini diikuti oleh kepala sekolah beserta seluruh guru dan pegawai, berlangsung dengan penuh semangat dan antusiasme, yang akan menjadi api penyemangat untuk masa depan pendidikan di Payakumbuh umumnya dan SD Negeri 28 Payakumbuh khususnya.
Di ruangan labor komputer sekolah yang biasanya ramai dengan suara tawa anak-anak, kali ini dipenuhi diskusi serius tapi tetap asyik. Acara ini digagas oleh tim pengajar SD Negeri 28 sebagai bagian dari upaya mempersiapkan murid menghadapi era digital.
“Kita ingin anak-anak kita tidak hanya hafal pelajaran, tapi juga bisa berpikir komputasional dengan keterampilan utama pendidikan abad 21, yaitunya berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif.” ujar Ibu Hj. Wisma Diandra, M. Pd, Kepala Sekolah SD Negeri 28, dengan penuh semangat saat membuka kegiatan.
Desiminasi ini bukan sekadar ceramah. Guru berbagi pengalaman langsung dari hasil pelatihan yang didapat.
Mulai dari dasar pengajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial yang menjadi salah satu mata pelajaran pilihan yang ada di sekolah dasar sesuai dengan perkembangan Kurikulum Merdeka dengan pendekatan pembelajaran mendalam.
Langkah-langkah dan cara yang dilakukan dalam pengajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial juga dibahas bersama.
Melalui TV Digital berbagai game edukasi dan metode pembelajaran ditampilkan dan semua guru mempraktekkannya secara langsung. Sehingga menambah semangat dan ketertarikan dalam kegiatan desiminasi ini.
Dalam pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial, kita tidak wajib selalu menggunakan media digital / chromebook, karena tanpa itu berpikir komputasional seperti yang diharapkan dalam pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial bisa dilakukan, misalnya dengan pembelajaran menggunakan labirin, puzzle, dan lainnya.
Karena berpikir komputasional di tingkat sekolah dasar adalah kemampun atau pendekatan untuk memecahkan masalah dengan memecahnya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, mengenali pola, mengabaikan hal yang tidak perlu, dan menyusun langkah-langkah / solusi dari permasalahan yang ada.
Guru-guru antusias mencoba dan bertanya cara mengintegrasikan Koding dan Kecerdasan Artifisial ke pelajaran matematika dan lainnya hingga etika dalam penggunaannya.
Suasana begitu hidup, dengan munculnya berbagai pendapat dan ide-ide segar. Bahkan, Kepala Sekolah Ibu Hj. Wisma Diandra ikut serta dalam diskusi dan mencoba dalam menghasilkan sebuah karya berupa lagu yang merupakan ciptaan beliau sendiri.
Kegiatan ini berlangsung dengan penuh semangat karena para guru sadar, koding dan kecerdasan artifisial bukan lagi pelajaran mewah untuk anak jenius. Ini kebutuhan dasar di zaman sekarang.
Dengan koding, anak-anak belajar logika dan problem solving. Sementara kecerdasan artifisial mengajarkan mereka berpikir kritis tenang teknologi yang ada di sekitar kita.
Desiminasi ini membuktikan bahwa SD Negeri 28 Payakumbuh bukanlah sekadar sekolah negeri yang hanya mementingkan soal nilai rapor, tapi juga pendidikan karakter, membekali anak-anak dengan keterampilan abad 21.
Semoga semangat ini membuat murid-murid, generasi emas siap menaklukkan dunia digital dengan percaya diri.(Kiki Krisdianti, S.Pd, Guru SDN 28 Payakumbuh)
Editor : Novitri Selvia