PADEK.JAWAPOS.COM-Kuala Lumpur sore itu berseri dengan semangat sastra. Di Rumah GAPENA, yang sejak lama menjadi pusat denyut budaya Melayu, digelar peluncuran buku antologi lintas negara berjudul “Akar Serumpun Anyaman Rasa.”
Buku ini menghimpun karya para penulis dari empat negara serumpun: Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam dalam satu jalinan rasa, satu akar bahasa, satu semangat kebersamaan.
Dalam setiap halamannya, bahasa menjadi jembatan, dan sastra menjadi napas yang menghidupkan kembali makna persaudaraan serantau.
Sastra Menyatukan yang Terpisah
Acara peluncuran berlangsung hangat, penuh tawa dan keharuan. Presiden GAPENA Kuala Lumpur Datuk Zainal Abidin hadir memberi sambutan pembuka yang menggugah.
“Kita datang dari empat arah mata angin, tetapi bahasa telah memanggil kita pulang ke satu rumah yang sama rumah kata, rumah jiwa Melayu”.
Kata-kata itu disambut tepuk tangan panjang. Sore itu, Rumah GAPENA bukan sekadar gedung, melainkan taman persahabatan yang mekar oleh bunga-bunga bahasa.
SIP Publisher dan Galeri Sastra, Suara yang Menghidupkan
Dalam sesi peluncuran, SIP Publisher Direkturnya Indra Defandra selaku penerbit buku, mengisahkan perjalanan panjang antologi ini, dari penyusunan karya, kurasi lintas negara, hingga akhirnya menyatukan empat bendera dalam satu sampul.
“Buku ini bukan sekadar proyek sastra. Ia adalah upaya kecil menenun kembali benang yang sempat terurai di antara bangsa serumpun,” ujar perwakilan SIP Publisher dengan nada haru.
Kemudian tampil Galeri Sastra, komunitas yang dikenal sebagai penggerak literasi dan seni serantau. Mereka menghadirkan pembacaan puisi dari tiap negara, lalu melanjutkan dengan sesi bedah buku yang berlangsung hidup dan menggugah.
Dalam sesi itu, para penulis dan peserta saling berbagi pandangan tentang makna “akar” sebagai identitas, “serumpun” sebagai keluarga budaya, dan “anyaman rasa” sebagai lambang kasih yang melampaui batas politik dan geografi.
Ketua Galeri Sastra Sahbudin Dg.Palabbi menyampaikan pesan menyentuh. “Selama kita masih menulis, selama bahasa ini masih hidup di lidah dan hati, akar serumpun tak akan pernah mati. Ia akan terus bertumbuh, menyatu dengan bumi dan langit Nusantara,” katanya.
Kata yang Menyatukan Jiwa Serumpun
Setiap karya dalam buku ini bercerita dengan gaya khas masing-masing negara. Dari Indonesia, lahir puisi tentang tanah dan kerinduan.
Dari Malaysia, sajak yang tegas dan lembut mengalun. Dari Singapura, prosa yang reflektif memandang masa kini. Dari Brunei, puisi yang tenang dan religius menautkan makna kebersahajaan.
Namun di balik segala perbedaan gaya, terasa denyut yang sama: cinta pada bahasa Melayu dan kebanggaan pada akar budaya.
Sesi bedah buku pun menjadi ajang berbagi inspirasi lintas generasi.
Para sastrawan senior berbicara dengan nada bijak, sementara penulis muda menyampaikan pandangan segar tentang sastra sebagai ruang pertemuan jiwa dan ide.
Dari Kuala Lumpur, Rasa Itu Menyebar ke Nusantara
Peluncuran Akar Serumpun Anyaman Rasa bukan hanya peristiwa sastra, tetapi perayaan jiwa kebudayaan. Ia menandai bahwa di tengah dunia modern yang kian terpecah oleh sekat digital dan politik, masih ada ruang bagi kata yang menyatukan.
Buku ini menjadi simbol: bahwa bahasa Melayu bukan sekadar warisan, melainkan cahaya yang terus hidup dan menuntun generasi baru.
Empat Negara, Satu Bahasa, Satu Cinta
Menjelang senja, acara di Rumah GAPENA ditutup dengan pembacaan puisi bersama. Suara empat negara bergema dalam satu ritme lembut, puitis, dan membangkitkan rasa haru.
Di bawah langit Kuala Lumpur yang mulai berwarna jingga, semua yang hadir seakan memahami satu hal: bahwa di balik bendera yang berbeda, kita berasal dari akar yang sama.
“Akar mungkin tertanam di tanah yang berlainan, tapi air yang menyiramnya tetap dari hujan yang sama,” ucap seorang penyair muda sebelum menutup acara dengan senyum.
Dan demikianlah, Akar Serumpun Anyaman Rasa bukan sekadar buku. Ia adalah doa panjang bagi persaudaraan empat bangsa, bagi bahasa yang mempersatukan, dan bagi sastra yang menumbuhkan cinta.(Edrawati, M.Pd, GURU SMPN 13 PADANG)
Editor : Novitri Selvia