Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SDN 21 Payakumbuh Kembangkan Kawasan Sekolah Pangan Lestari, Ubah Lahan Kosong Jadi Lumbung Edukasi

Novitri Selvia • Kamis, 6 November 2025 | 12:57 WIB

BANGGA: Murid SD Negeri 21 Payakumbuh menunjukan hasil penen mereka.
BANGGA: Murid SD Negeri 21 Payakumbuh menunjukan hasil penen mereka.

PADEK.JAWAPOS.COM--Sekolah Dasar Negeri (SDN) 21 Payakumbuh tampil memukau dengan gebrakan inovasi yang tak hanya menanam tanaman, namun juga menanamkan nilai-nilai luhur.

Inilah KSPL (Kawasan Sekolah Pangan Lestari), sebuah mahakarya edukasi lingkungan yang digagas oleh sosok Kepala Sekolah inspiratif, Amperawati, S.Pd.

Inovasi KSPL ini bukan sekadar program penghijauan biasa. Ia adalah visi terintegrasi yang menyulap lahan-lahan kosong di lingkungan sekolah menjadi lumbung pangan sekaligus laboratorium alam terbuka.

Sebuah oase hijau yang memancarkan energi positif, mengajarkan bahwa sejatinya sekolah adalah miniatur semesta yang dapat memberi kehidupan, bukan hanya gudang ilmu.

Di balik keberhasilan ini berdiri tegak Amperawati, S.Pd. Beliau melihat potensi besar dalam setiap jengkal tanah sekolah.

Dengan keyakinan yang kuat, Ibu Kepala Sekolah ini berinisiasi untuk mengubah filosofi belajar, dari sekadar mencatat di buku menjadi “bertani, bertanam, dan memanen” langsung di halaman sekolah.

Komitmennya yang luar biasa menjadi lokomotif penggerak seluruh warga sekolah. Fokus awal dari KSPL ini jatuh pada komoditas yang cerdas dan cepat: kangkung. Pemilihan kangkung bukan tanpa alasan.

Tanaman merakyat ini memiliki siklus panen yang cepat, yaitu satu kali panen dalam setiap tiga minggu.

Kecepatan panen ini memberikan pelajaran nyata tentang proses alam dan hasil kerja keras dalam jangka waktu yang relatif singkat, menjaga semangat dan motivasi para siswa.

Pemandangan yang paling menghangatkan hati adalah ketika Amperawati, dengan pakaian kerjanya, turun langsung ke tanah. Beliau tidak hanya memberi perintah, namun memimpin dengan contoh.

Tangan lembut yang biasa memegang rapor dan pena kini mahir memegang cangkul dan menabur benih. Aksi nyata ini menjadi teladan yang paling efektif bagi para guru dan siswanya.

Tentu saja, beliau tidak sendiri. Para guru SDN 21 Payakumbuh, yang terampil dan bersemangat, turut serta menjadi pahlawan di balik gundukan tanah.

Mereka adalah jembatan yang menghubungkan teori pelajaran di kelas dengan praktik langsung di kebun.

Mereka memastikan setiap proses menanam menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum, baik itu IPA, Matematika (pengukuran lahan/hasil panen), bahkan Bahasa Indonesia (membuat laporan).

Bagi para siswa, KSPL adalah kelas yang tak ada batasnya. Di sini, mereka belajar tentang fotosintesis bukan dari buku tebal, melainkan dari daun kangkung yang menghijau di bawah sinar matahari.

Mereka belajar tanggung jawab saat harus menyiram dan merawat tanaman, serta belajar kesabaran menanti hasil panen. Ini adalah pendidikan karakter yang sesungguhnya.

Inilah bagian yang paling inovatif: kangkung yang dipanen tidak hanya menjadi objek belajar, tetapi juga komoditas riil. Setiap tiga minggu, hasilnya diolah menjadi produk yang siap dipasarkan. Ini menciptakan sebuah “ekonomi mini sekolah” yang mandiri dan berkelanjutan.

Sasaran pasar utamanya pun unik, yakni langsung kepada guru-guru serta walimurid siswa-siswa SDN 21 Payakumbuh sendiri. Kangkung segar hasil panen tangan-tangan mungil siswa ini menjadi menu sehat yang terjamin kualitasnya.

Transaksi sederhana ini menanamkan nilai kewirausahaan, kejujuran, dan kebanggaan akan hasil kerja keras mereka sendiri.
Jauh melampaui urusan panen dan pasar, KSPL adalah langkah kongkret dalam menjaga lingkungan dan pemanfaatan lingkungan.

Lahan yang sebelumnya mungkin diabaikan kini bernilai guna tinggi. Kegiatan ini mengajarkan kepada generasi muda tentang pentingnya mengurangi jejak karbon, pentingnya pangan lokal, dan cara hidup yang harmonis dengan alam.

Konsep lestari dalam KSPL ini adalah kunci. Ini bukan proyek musiman. Dengan siklus panen yang cepat dan berkelanjutan, semangat untuk terus menanam juga akan terus terjaga.

Sekolah ini membuktikan bahwa pendidikan lingkungan hidup bukanlah sekadar teori, tetapi gaya hidup yang dipraktikkan setiap hari.

Inovasi ini segera mendapat respons positif dari orang tua murid dan masyarakat sekitar. Mereka kagum melihat anak-anak mereka pulang membawa cerita tentang cangkul dan panen, bukan hanya PR.

Dukungan ini mengukuhkan posisi SDN 21 Payakumbuh sebagai sekolah yang peduli dan relevan dengan isu-isu kontemporer.

SDN 21 Payakumbuh di bawah kepemimpinan Amperawati kini bukan hanya sekadar sekolah biasa, ia adalah model (role model) bagi sekolah-sekolah lain.

Kisah sukses KSPL ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi tidak harus mahal atau rumit, cukup berawal dari niat tulus dan kemauan untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada.

Dalam prosesnya, tentu ada tantangan. Hama, cuaca, atau benih yang gagal tumbuh. Namun, justru di sinilah letak pendidikan yang paling berharga.

Siswa belajar bahwa kegagalan adalah bagian alami dari proses, bukan akhir segalanya. Mereka belajar menganalisis masalah, mencari solusi, dan bangkit kembali—sebuah keterampilan hidup yang sangat dibutuhkan.

Kegiatan menanam, merawat, hingga memanen dan menjual, dilakukan dengan semangat gotong royong. Siswa dari berbagai kelas, guru, dan kepala sekolah bahu-membahu.

Inilah manifestasi nyata dari nilai Pancasila, di mana kebersamaan dan kerja sama menjadi pupuk terpenting bagi keberhasilan. Visi ke depan, KSPL tidak akan berhenti pada kangkung.

Inovasi ini diharapkan berkembang menjadi kebun aneka rupa sayuran, bahkan buah-buahan. SDN 21 Payakumbuh bercita-cita menjadi sekolah yang swasembada pangan, menjamin asupan gizi sehat bagi siswanya dari kebun sendiri.

Kisah KSPL di SDN 21 Payakumbuh ini membawa pesan penting bagi seluruh dunia pendidikan: ubahlah ruang kosong menjadi ruang belajar.

Pendidikan tidak hanya terjadi di dalam empat dinding kelas, tetapi juga di bawah langit, di antara gundukan tanah, di mana kehidupan dan pelajaran tumbuh bersama-sama.

Sungguh menakjubkan melihat SDN 21 Payakumbuh mampu mengubah sepetak lahan menjadi sumber ilmu, sumber pangan, dan sumber kebanggaan.

Inilah revolusi kecil yang digerakkan oleh hati besar seorang Kepala Sekolah, membuktikan bahwa berinovasi adalah kunci untuk mencetak generasi cerdas, mandiri, dan paling utama, generasi yang mencintai dan melestarikan bumi pertiwi. KSPL adalah warisan paling berharga bagi masa depan Payakumbuh.(Amperawati, S.Pd, KEPALA SDN 21 PAYAKUMBUH)

Editor : Novitri Selvia
#inovasi sekolah #SD Negeri 21 Payakumbuh #Kawasan Sekolah Pangan Lestari #edukasi lingkungan