Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SD Negeri 21 Payakumbuh: Lestarikan Warisan Leluhur, Ukir Prestasi Gemilang

Zulkarnaini. • Kamis, 13 November 2025 | 14:17 WIB

DUKUNGAN: Para murid SDN 21 Payakumbuh memperlihatkan prestasi mereka disaksikan kepsek dan guru mereka.
DUKUNGAN: Para murid SDN 21 Payakumbuh memperlihatkan prestasi mereka disaksikan kepsek dan guru mereka.

PADEK.JAWAPOS.COM-Aula Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh pada 23 Oktober lalu, bergetar oleh semangat, tawa, dan lantunan indah warisan budaya Minangkabau.

Perhelatan akbar Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) se-Kota Payakumbuh telah sukses digelar, menjadi panggung kehormatan bagi para siswa sekolah dasar untuk menunjukkan kecintaan mereka terhadap Bahasa Minang.

FTBI bukan sekadar lomba, melainkan sebuah ikhtiar suci untuk melestarikan bahasa ibu, menjadikannya nyala api yang terus membakar di sanubari generasi penerus.

Seluruh sekolah terbaik di Payakumbuh berjuang, namun di tengah hiruk pikuk kompetisi itu, nama SDN 21 Payakumbuh bersinar terang, mengukir kisah prestasi yang mengagumkan.

Perwakilan dari SDN 21 Payakumbuh hadir dengan persiapan matang dan semangat membara, siap berkompetisi dalam berbagai kategori lomba yang menantang.

Kategori-kategori tersebut meliputi Bapidato (berpidato), Bacarito (bercerita), Badendang (bernyanyi/bersenandung lagu daerah), Manulis (menulis), Mambaco Pantun (membaca pantun), dan Manulis dan Mambaco Carito (menulis dan membaca cerita).

Setiap kategori memerlukan penguasaan bahasa, intonasi, dan penghayatan budaya yang mendalam.

Para tunas muda ini bukan hanya menghafal, tetapi meresapi makna dari setiap kata yang mereka ucapkan dan tuliskan, membuktikan bahwa Bahasa Minang masih relevan dan menawan.

Sorotan utama jatuh pada kategori Bapidato, di mana seorang siswa bernama Gilang tampil memukau.

Dengan gestur yang mantap, suara yang lantang, dan diksi Bahasa Minang yang kaya, pidato Gilang mengenai pentingnya menjaga warisan budaya berhasil menyentuh hati para juri dan penonton.

Gilang membawakan pidatonya dengan penuh percaya diri, seolah-olah seluruh nilai-nilai adat dan kebanggaan urang awak (orang Minangkabau) mengalir dari setiap kalimatnya.

Keberaniannya, dipadukan dengan kemahiran berbahasa yang luar biasa, mengantarkannya meraih Juara 1 yang bergengsi.

Prestasi ini menjadi kian istimewa karena kemenangan di tingkat kota ini secara otomatis membuka gerbang ke level yang lebih tinggi: FTBI Tingkat Provinsi Sumatera Barat di Kota Padang.

Gilang, sang juara kebanggaan, dijadwalkan akan melanjutkan perjuangannya pada tanggal 5 September 2025.

Di balik gemerlap kemenangan Gilang, terdapat peran penting Ibu Irma Ilona, S.Pd., guru pendamping yang tak kenal lelah membimbing dan menempa mental sang juara.

Dedikasi beliau dalam mengasah kemampuan Gilang patut diacungi jempol. Kehebatan SDN 21 Payakumbuh tak berhenti pada podium Juara 1 Bapidato saja.

Sekolah ini membuktikan kedalaman talenta siswanya melalui kategori-kategori lain yang juga meraih hasil membanggakan.

Dalam kategori Bacarito, kisah yang dibawakan oleh siswi bernama Faiha berhasil memikat perhatian, menempatkannya pada posisi Juara Harapan 2. Faiha, dengan kepiawaiannya merangkai kata dan mimik wajah yang ekspresif, sukses menghidupkan narasi dalam Bahasa Minang.

Dukungan penuh diberikan oleh Bapak Syafrianto, guru pendamping Faiha, yang telah mengarahkan dan memoles kemampuan bercerita siswinya hingga mencapai prestasi yang sangat patut disyukuri ini.

Tak kalah mempesona, di kategori Badendang, suara merdu Hanssel menggema syahdu di aula dinas pendidikan. Penampilan Hanssel yang penuh penghayatan dalam melantunkan lagu daerah membawanya meraih Juara 3.

Hanssel dibimbing oleh Ibu Nailatul Fadhila, guru pendamping yang berhasil menemukan dan mengembangkan bakat seni suara Hanssel, menjadikannya salah satu tunas bahasa ibu yang siap meneruskan tradisi Badendang.

Kombinasi Juara 1, Juara Harapan 2, dan Juara 3 ini adalah bukti nyata dari komitmen SDN 21 Payakumbuh dalam memajukan pendidikan karakter berbasis budaya lokal.

Keberhasilan luar biasa ini tentu saja disambut dengan suka cita dan kebanggaan yang meluap-luap oleh keluarga besar SDN 21 Payakumbuh, terutama sang nahkoda, Ibu Amperawati, S.Pd.

Ketika dimintai tanggapan mengenai pencapaian ini, sorot mata Ibu Amperawati memancarkan keharuan dan optimisme. Beliau menyampaikan bahwa prestasi ini adalah hasil dari sinergi luar biasa antara siswa, guru, dan dukungan orang tua.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas hasil yang luar biasa ini,” ujar Ibu Amperawati dengan nada bangga.

“Terutama kepada Gilang, yang telah membawa nama sekolah ke tingkat provinsi. Ini bukan hanya kebanggaan SDN 21, tetapi juga kebanggaan Kota Payakumbuh.” Beliau menekankan bahwa FTBI adalah momentum penting.

“Festival ini mengajarkan anak-anak kita bahwa Bahasa Minang itu keren, itu adalah identitas yang harus kita jaga. Kami tidak hanya mengajarkan kurikulum, tetapi juga menanamkan karakter dan kecintaan pada adat istiadat. Keberhasilan Gilang, Faiha, dan Hanssel adalah bukti bahwa program penguatan bahasa daerah kami berjalan dengan baik, menghasilkan ‘tunas-tunas’ yang berakar kuat,” tambahnya.

Ibu Kepala Sekolah juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para guru pendamping, Ibu Irma Ilona, Bapak Syafrianto, Ibu Nailatul Fadhila dan seluruh majelis guru yang telah berjuang, atas dedikasi mereka yang tak terhingga.

“Tanpa kerja keras dan keikhlasan mereka, prestasi ini mungkin sulit tercapai. Untuk Gilang, kami berpesan: Teruslah berlatih. Bawa nama Payakumbuh dengan bangga di Padang. Kami semua mendoakan dan mendukungmu untuk meraih hasil terbaik di tingkat Provinsi Sumatera Barat. Semoga kamu bisa menjadi perwakilan yang mengharumkan nama ranah Minang di kancah nasional,” pungkas Ibu Amperawati, menutup wawancara dengan senyum penuh harap.

Prestasi SDN 21 Payakumbuh dalam FTBI 2025 ini telah menorehkan tinta emas dalam sejarah pendidikan kota, sekaligus memberikan pesan kuat: warisan budaya kita aman di tangan generasi muda yang berprestasi. Mereka adalah harapan, mereka adalah “Tunas Bahasa Ibu” sejati. (Vivi Detika Hutria, S.Pd, SDN 21 Payakumbuh)

Editor : Novitri Selvia
#Festival Tunas Bahasa Ibu #SD Negeri 21 Payakumbuh #prestasi gemilang #warisan leluhur #Vivi Detika Hutria