PADEK.JAWAPOS.COM-Sore itu, tepatnya pada Jumat, 24 Oktober 2025 lalu, langit di Padang tampak sendu. Awan kelabu menggantung rendah, tapi hujan belum turun.
Aku baru saja pulang mengajar dari sekolah di Bandar Buat, menaiki Bus Trans Padang seperti biasa.
Di dalam bus, udara terasa lembap dan dingin, membuat pikiranku melayang pada rumah, “Caca, pasti sedang menunggu kepulanganku bersama coklat kerikil”.
Aku tersenyum kecil saat teringat pesannya pagi tadi, “Mama, jangan lupa belikan cokelat kerikil ya nanti sore!”.
Biasanya aku turun di halte Jembatan Marapalam, tapi sore itu aku memutuskan untuk turun sedikit lebih jauh, di halte SDN 23 Marapalam, karena di seberangnya ada mini market kecil yang sering kukunjungi.
Saat aku turun, langit tampak semakin berat. Awan gelap berarak cepat, seolah hendak menelan sisa cahaya sore. Aku mempercepat langkah, masuk ke mini market sebelum hujan benar-benar jatuh.
Di dalam, udara terasa lebih hangat. Aku langsung menuju rak meja kasir dan menarik dua bungkus cokelat kerikil berwarna-warni. Setelah membayar di kasir, aku sempat menatap ke luar jendela toko, dan hatiku bergetar.
Langit berubah kelam seperti pukul tujuh malam, padahal jam di tanganku baru menunjukkan pukul lima sore. Angin mulai berembus kencang, membuat daun-daun pohon di depan toko bergoyang liar.
Dalam hitungan detik, hujan turun dengan deras, deras sekali, seolah langit menumpahkan seluruh isinya sekaligus.
Aku berdiri di depan pintu mini market, memandangi hujan yang menutupi pandangan ke arah jalan. Orang-orang yang lewat buru-buru mencari tempat berteduh.
Tak ada petir, tak ada guruh, hanya suara hujan yang menggulung keras, membuat suasana terasa aneh, sepi sekaligus bising. Aku menunggu sebentar, berharap hujan akan segera reda, tapi ternyata justru makin deras.
Di seberang jalan, kulihat sebuah kedai kecil dengan lampu kuning temaram. Aku menyeberang dengan hati-hati, menunduk di bawah derasnya air, dan akhirnya tiba di bawah atap seng kedai itu.
Seorang bapak paruh baya menyapaku ramah, “Mau pesan apa cikgu?”
“Segelas aia aka aja, pak!” jawabku sambil tersenyum, mengibaskan sisa air hujan dari jilbabku.
Beberapa pelanggan lain juga berteduh di sana, masing-masing sibuk menatap hujan yang tak kunjung reda. Wangi rempah menguar dari panci, harum jahe, serai, dan akar-akaran.
Tak lama, bapak itu datang membawa gelas berisi cairan kehijauan.
Aku meneguk perlahan. Rasa hangat langsung menjalar dari tenggorokan hingga ke dada, mengusir dingin yang sempat menembus kulit.
Lampu-lampu kendaraan berpendar samar di antara tirai air. Aku teringat Caca di rumah, mungkin sedang menunggu cokelat kesukaannya sambil mendengar suara hujan dari balik jendela.
Aku menatap segelas aia aka di tanganku. Hangatnya bukan hanya dari rempah, tapi dari kesadaran bahwa di tengah cuaca seburuk ini, aku masih bisa menikmati ketenangan kecil, secangkir kehangatan di antara ribuan butir hujan.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, hujan mulai menipis. Aku membayar minuman itu dan berpamitan, “Hati-hati di jalan ya bu guru,” ujar bapak kedai sambil tersenyum ramah. Aku tersenyum kembali. “Terima kasih pak”.
Jalanan masih basah, dan langit pun masih menampakkan awan hitam jauh di ufuk barat. Tak terasa perjalananku sampai juga ke rumah.
Caca langsung berlari menyambutku, “Mamaaa! Hujannya tadi serem banget! Tapi Caca senang Mama pulang.”
Aku mengelus kepalanya dan mengeluarkan dua bungkus cokelat kerikil dari tas, “Nih, permintaan Caca.” Matanya langsung berbinar. “Makasih, Mamaaa!”.(Dita Indah Permata Sari, S.Pd, Guru SDN 10 Bandar Buat)
Editor : Novitri Selvia