Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

UPT SMP Negeri 3 Batipuh Selatan, Mengukir Empati di Tengah Derita Galodo

Novitri Selvia • Jumat, 5 Desember 2025 | 09:10 WIB

Rozatul Rahmah, S.Si, Guru IPA UPT SMPN 3 Batipuh Selatan.
Rozatul Rahmah, S.Si, Guru IPA UPT SMPN 3 Batipuh Selatan.

PADEK.JAWAPOS.COM-Nagari Guguak Malalo di Batipuh Selatan, Tanahdatar, mendadak tenggelam dalam duka dan ketakutan yang mencekam. Lebih dari seminggu hujan lebat tanpa henti menghantam kawasan kami.

Sungai-sungai di Malalo, mulai dari Batang Malalo, Batang Lembang, hingga Batang Muaro Baing menggeliat, debit airnya meningkat drastis, bergejolak hebat, seolah alam sedang meluapkan amarah.

Saya, seorang Guru IPA yang juga menetap di Talago Lintah, Baing Malalo, menyaksikan kecemasan itu mulai merayapi koridor sekolah kami, UPT SMPN 3 Batipuh Selatan, pada Senin, 24 November 2025.

Padahal, hari itu kami sedang sibuk menyiapkan gladi resik untuk perayaan Hari Guru yang rencananya akan kami gelar dua hari lagi. Namun, kekhawatiran karena bencana yang mengancam lebih kuat daripada semangat perayaan.

Penyelamatan Cepat dan Terputusnya Akses Vital

Melihat intensitas hujan yang tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, Yulita, Kepala Sekolah kami, mengambil keputusan cepat yang visioner.

Tepat pukul 11.00 WIB, guru-guru yang berasal dari luar Malalo yang menggunakan sepeda motor segera dipersilakan pulang. Beliau menyadari, keselamatan rekan-rekan adalah prioritas utama.

Keputusan itu adalah sebuah penyelamatan. Sekitar pukul 12.00 WIB, Ibu Kepala Sekolah bersama enam guru lainnya menyusul pulang menggunakan mobil Maridi, Guru PJOK, yang kebetulan hari itu membawa kendaraan. Keputusan ini terbukti krusial.

Sekitar pukul 15.00 WIB, Malalo benar-benar terisolasi. Jembatan di Pasar Malalo, akses vital bagi warga dan para guru, ambruk diterjang arus Batang Malalo yang sudah menjadi Galodo (banjir bandang).

Bencana telah resmi melanda, dan harapan untuk Upacara HUT PGRI pada hari Selasa, 25 November, pupus. Cuaca yang tidak memungkinkan, ditambah putusnya jembatan penghubung bagi guru-guru dari Malalo, memaksa acara dibatalkan.

Malalo Terisolasi, Pukulan Bertubi-Tubi Galodo

Sejak saat itu, rentetan musibah melanda, mengubah Nagari Guguak Malalo menjadi wilayah terisolasi. Hari-hari berikutnya adalah hari-hari yang mencekam. Jembatan-jembatan putus.

Pada Selasa, 25 November 2025, jembatan di arah Lembang juga putus, listrik padam, dan hujan lebat tak kunjung reda. Dampak Galodo tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga menghantam rumah tangga murid-murid kami.

Di Muaro Baing, air meluap hingga merendam rumah Khazi, siswa Kelas IX. Beruntung, ia dan keluarganya telah mengungsi ke TPA Baing.

Galodo berlanjut pada hari Kamis, 27 November 2025. Kali ini Muaro Ambius yang diterjang dari arah Bukit Barisan. Material batu dan pohon tumbang menghantam permukiman.

Kami mendapati kabar bahwa rumah siswa kami di Kelas VII, si kembar Syafa dan Syifa, juga terdampak. Syukurlah mereka telah mengungsi ke rumah saudara di Guguak.

Pada hari yang sama, Muaro Paninggahan dilanda banjir dari aliran Batang Paninggahan, merendam rumah tiga siswa lainnya: Miftah (Kelas IX), Nayla (Kelas IX), dan Zahra (Kelas VIII). Mereka semua berhasil dievakuasi tepat waktu.

Selama empat hari yang mencekam, Nagari Guguak Malalo terisolasi total, gelap gulita tanpa listrik. Kami beberapa guru yang tinggal menetap di Malalo mengalami kesusahan yang sama dengan warga sekitar.

Bahan sembako sulit didapatkan, dan alat penerangan hanya mengandalkan genset di posko-posko, yang itupun terhambat pasokan bahan bakar.

Dua Sumber Bantuan, Satu Tujuan Kemanusiaan

Kabar mengenai kesusahan guru dan murid di Malalo, segera sampai ke telinga Ibu Kepala Sekolah dan rekan-rekan guru yang berada di luar Nagari Guguak Malalo.

Respon yang muncul adalah aksi kemanusiaan yang terorganisasi dan solid, Aksi Mandiri PTK (Semangat Kekeluargaan), Bantuan dari MKKS (Jejaring Kepedulian).

Menembus Isolasi: Perjuangan Logistik Melalui Danau Singkarak
Aksi heroik distribusi bantuan terjadi pada Senin, 01 Desember 2025. Satu-satunya akses yang mungkin adalah melalui air.

Bapak Maridi mengemudikan mobilnya membawa seluruh bantuan (dari PTK dan MKKS) menuju dermaga Tanjung Mutiara. Di sana, bantuan diestafetkan melalui motorboat.

Syofia, guru IPS kami yang tinggal di Batu Taba, meminjamkan boat untuk menyebrangkan paket bantuan tersebut kepada Bapak Jorong Tanjung Mutiara.

Turut serta di atas boat itu Ibuk Syofia, Maridi Ibu Titin (Guru TIK) dan Bagus, putra Kepala Sekolah yang berjuang membelah Danau Singkarak.

Saya bersama Lili (guru bahasa Inggris) dan Mita (Operator Sekolah), menerima kiriman bantuan yang penuh makna itu di Macau Duo, lokasi berlabuh boat di Nagari Guguak Malalo.

Meskipun Ibu Kepala Sekolah tidak dapat hadir karena harus mengikuti rapat dinas yang digelar oleh Kepala Dinas Pendidikan, semangat dan jiwanya terasa hadir dalam setiap paket bantuan.

Empati yang Meluas: Berbagi Hingga Warga Sekitar

Alhamdulillah, berkat kerja sama yang solid, seluruh bantuan ini disalurkan dengan hati-hati. Prioritas utama adalah guru dan murid UPT SMPN 3 Batipuh Selatan. Namun, bantuan tidak berhenti di pagar sekolah.

Sesuai arahan, sebagian dari bantuan, termasuk yang berasal dari MKKS, juga dibagikan kepada:

Warga Lembang: Sebagian bantuan diberikan kepada warga di Lembang yang rumahnya hancur total akibat Galodo, meskipun mereka bukan bagian dari keluarga besar sekolah. Ini menunjukkan empati tanpa batas.

Keluarga Alumni: Bantuan juga diserahkan kepada keluarga alumni yang terdampak bencana.

Posko Bencana Lokal: Bantuan turut didistribusikan ke Posko Bencana Talago Lintah, diterima langsung oleh Kepala Dusun, dan Posko Tanjung Jua (lokasi berdirinya UPT SMPN 3 Batipuh Selatan), yang diterima oleh Ketua Pemuda setempat.

Ucapan Syukur dari Hati yang Terdampak

Penyaluran bantuan ini adalah simbol bahwa mereka tidak sendirian. Kami, para guru yang tinggal di Malalo, mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Ibu Kepala Sekolah dan rekan-rekan guru yang telah bergerak cepat dengan semangat kemandirian dan kepedulian.

Rasa haru dan syukur membuncah dari para murid dan orang tua. Si kembar Syafa dan Syifa, siswa kelas VII yang rumahnya diterjang galodoh, menyampaikan rasa syukur mereka dengan polos:

Pesan dan Kesan dari Puing-Puing Harapan

Kisah ini adalah pengingat abadi bahwa Galodo telah merenggut banyak hal, namun ia gagal merenggut kemanusiaan dan ikatan persaudaraan sejati.

Keluarga besar UPT SMPN 3 Batipuh Selatan telah membuktikan: jembatan boleh putus, listrik boleh padam, tetapi ikatan hati dan semangat berbagi mereka tidak akan pernah terputus.

Semoga semangat kepedulian ini menjadi teladan yang menguatkan tekad seluruh warga Nagari Guguak Malalo untuk segera pulih, membuktikan bahwa Badai Galodo bisa diatasi dengan kekuatan saciok bak ayam, sadanciang bak basi. (Rozatul Rahmah, S.Si, GURU UPT SMPN 3 BATIPUH SELATAN)

Editor : Novitri Selvia
#UPT SMP Negeri 3 Batipuh Selatan #Galodo #Rozatul Rahmah #empati