Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

Peduli Bencana: Goro Napas Kemanusiaan

Novitri Selvia • Jumat, 12 Desember 2025 | 12:20 WIB

KEBERSAMAAN: Para guru dan tenaga kependidikan dari beberapa sekolah di Kecamatan Sungai Tarab dan Kecamatan X Koto bergotong royong ke rumah salah seorang siswa terdampak bencana alam.
KEBERSAMAAN: Para guru dan tenaga kependidikan dari beberapa sekolah di Kecamatan Sungai Tarab dan Kecamatan X Koto bergotong royong ke rumah salah seorang siswa terdampak bencana alam.

PADEK.JAWAPOS.COM-Bencana alam selalu datang tanpa mengetuk pintu, tanpa memberi isyarat, dan tanpa menunggu kesiapan siapa pun.

Ia datang dengan segala ketidakpastiannya, membawa kerusakan fisik, luka batin, kehilangan, dan kecemasan bagi mereka yang menjadi korban.

Namun di balik setiap musibah, ada satu kekuatan yang selalu muncul dan tidak pernah padam: kekuatan kemanusiaan dan kepedulian.

Hari Selasa, 9 Desember 2025, menjadi salah satu bukti nyata bahwa nilai itu masih hidup.

Pada hari itu, para guru dan tenaga kependidikan dari beberapa sekolah di Kecamatan Sungaitarab dan Kecamatan X Koto turun langsung ke rumah salah seorang siswa SMPN 4 X Koto yang terdampak bencana alam.

Kegiatan ini dilaksanakan berdasarkan Imbauan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tentang gerakan kepedulian terhadap warga sekolah yang terdampak bencana.

Kegiatan gotong royong (goro) yang melibatkan Plt kepala sekolah, guru Pendidikan Jasmani dan Satpam dari SMPN 1 Sungaitarab dan guru Pendidikan Jasmani SMPN 3 Sungaitarab, serta penjaga sekolah SMPN 3 Sungaitarab ini bukan hanya rangkaian rutinitas sosial.

Ini adalah gerakan kemanusiaan gerakan hati yang melampaui batas administratif sekolah dan wilayah.

Di samping itu, sebelumnya tanggal 7 dan 8 Desember beberapa sekolah sudah mengirim utusan seperti SMPN 5 X Koto dan SMPN 4 Batusangkar juga mengirim utusan Guru Pendidikan Jasmani dan penjaga sekolahnya untuk membatu warga.

Sebagai Pengawas SMP Kecamatan X Koto dan Batipuh Selatan, saya Hj. Lastrawati, M.Pd, turut hadir mendampingi langsung kegiatan ini bersama Kepala SMPN 4 X Koto, Osmaidar, S.Pd.

Kami menyaksikan sendiri bagaimana semangat gotong royong itu bekerja: tulus, kuat, dan tanpa pamrih. Sering kali, setiap kali terjadi bencana, pikiran kita langsung tertuju pada bantuan sembako, pakaian, obat-obatan, atau bantuan dana.

Tentu, semua itu sangat penting. Namun ada satu bentuk dukungan yang tidak kalah berharga, yakni dukungan tenaga dan kehadiran.

Bantuan fisik seperti membersihkan batang kayu, memotong pohon tumbang, dan mengangkat material longsoran adalah bentuk kepedulian yang sangat dibutuhkan pada saat-saat pascabencana.

Para guru bekerja dengan penuh semangat. Tanpa ragu mereka memegang parang, mengangkat dahan besar, membersihkan tanah yang menutupi akses rumah, serta memastikan lingkungan sekitar kembali aman.

Kehadiran mereka membawa kelegaan bagi keluarga siswa yang terdampak. Tenaga yang diberikan bukan hanya tenaga fisik, tetapi juga kekuatan emosional bahwa mereka tidak sendirian menghadapi musibah.

Keterlibatan lintas sekolah dalam kegiatan goro ini menunjukkan bahwa dunia pendidikan tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemanusiaan.

Guru bukan hanya pendidik, tetapi juga teladan bagi masyarakat dalam menunjukkan empati, solidaritas, dan tanggung jawab sosial.

Edaran dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanahdatar menjadi dasar kegiatan ini, namun lebih dari sekadar menjalankan imbauan, kegiatan ini lahir dari panggilan hati.

Ini adalah bukti nyata bahwa sekolah tidak hanya hadir sebagai lembaga formal, tetapi sebagai keluarga besar yang saling menopang dalam situasi sulit.

Gotong royong telah menjadi bagian dari kepribadian bangsa kita. Di Minangkabau, nilai ini terpatri dalam ungkapan: “Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.” Ungkapan ini benar-benar hidup dalam kegiatan goro tersebut.

Semua pihak, baik guru, tenaga kependidikan, kepala sekolah, maupun pengawas, bersatu tanpa memandang batas tugas formal demi satu tujuan: membantu sesama manusia.

Saya berharap kegiatan ini menjadi inspirasi bagi satuan pendidikan lainnya. Kepedulian bukan hanya tanggung jawab moral, tetapi juga bukti bahwa pendidikan sejati lahir dari tindakan nyata, bukan hanya dari buku dan teori.

Semoga siswa yang terdampak bencana mendapatkan kembali kekuatannya untuk bangkit, dan semoga kegiatan ini menjadi amal kebaikan yang terus mengalir bagi semua yang terlibat.

Bencana mungkin menghancurkan rumah dan harta, tetapi gotong royong membangun kembali harapan. Selama kita terus saling menopang, tidak ada bencana yang mampu memutus tali kemanusiaan kita. (Lastrawati, M.Pd, PENGAWAS SMP KECAMATAN X KOTO DAN BATIPUH SELATAN)

Editor : Novitri Selvia
#goro #Lastrawati #SMPN 4 X Koto #banjir