Pada hal yang tidak bermanfaat itu seperti membuang-buang waktu dengan kegiatan yang orang lain menganggapnya itu sebagai perbuatan yang sia-sia, menganggap diri sebagai orang yang idealis pada waktu, pada hal waktu sering melindas sebuah idealis. Karena tidak bisa bersahabat dengan waktu. Begitu juga menganggap tak ada waktu dalam mengerjakan ini dan itu pada satu waktu yang bersamaan.
Kalau dipikirkan, tentu tidak akan bisa dilakukan dengan baik dan tuntas. Namun itu semua dapat teratasi dengan cara dilakukan dan dikerjakan. Agar kebiasaan menunda-nunda pada waktu yang ditentukan akan kembali menjadi rutinitas untuk bisa menikmati waktu dengan lebih baik.
Waktu merupakan proses dalam menggapai sebuah keberhasilan, bila waktu bisa disiasati, maka waktu terbaik untuk berkarya adalah memulai, memulai, sesekali berhenti sejenak dan melakukan evaluasi terhadap kinerja yang telah dilakukan.
Agar waktu yang telah direncanakan tertata dengan rapi, supaya tidak merasakan banyak ketinggalan dari keberhasilan yang kita pandang dari mereka yang gigih dalam menggunakan waktunya.
Berkarya dalam satu organisasi sekolah memerlukan waktu yang panjang, proses yang berliku-liku, dan harapan yang menggebu-gebu. Supaya standar operasional prosedur kinerja dapat menjadikan tolak ukur.
Bagaimana seharusnya sebuah pekerjaan itu bisa tuntas dan jelas. Pekerjaan bisa sesuai pada instruksi yang diberikan. Pada harapan yang diinginkan dan pada kenyamanan hati serta nilai kepuasan dalam bekerja.
Kita sering tertipu oleh waktu, tertipu pada kesibukan, tertipu pada tugas-tugas yang seharusnya dikerjakan hari ini, dan diulur esok hari. Tertipu selalu menganggap enteng suatu amanah, dan meremehkan waktu yang tersisa. Pada akhirnya kita sendirilah yang membunuh waktu dengan segudang perencanaan yang belum matang. Karena waktu akan terus berjalan, waktu tidak akan pernah berhenti walaupun sedetik saja, siapa yang lambat maka tertinggal, siapa yang sigap maka akan beriringan dengan waktu.
Begitulah waktu. Saat penerang jalan sinarnya memancarkan cahaya, dan cahaya itu akan jatuh pada suatu pengabdian, yang menuntut rasa ikhlas menciptakan loyalitas dalam kinerja, dan meninggikan nilai tanggung jawab yang dikemas rapi dengan semangat. Agar waktu yang benar-benar tersisa bisa selalu di ajak kompromi.
Waktu yang kita lalui tak luput dari waktu pagi, siang, sore maupun malam. Siklusnya selalu berputar untuk kita bisa mengetahui dan bersyukur, terutama dalam mengenang hari kemarin yang tak akan pernah kembali di hari ini.
Waktu siang yang tak bisa di putar dengan hari yang lalu, sore maupun waktu malam, tak akan bisa dihentikan. Hanya sampai batas waktu malam saja kehidupan ini, tentu tidak, semuanya sudah ada jalannya. Berharap waktu yang dilalui agar lebih baik dari hari kemarin, begitulah seterusnya.
Berkaryalah sekurang-kurangnya untuk diri dan keluarga. Teruslah berkarya sesuai minat bakat yang dimiliki, sebab semakin kita berkarya akan menyejukkan harinya, pada jalan-jalan yang kita lalui untuk menggapainya. Jadi jangan buang-buang waktu terhadap perkataan yang membuat usaha kita berhenti. Jadikan apapun yang membuat rintangan untuk maju sebagai tangga untuk menuju kesuksesan.
Buatlah perencanaan, kumpulkan semangat, nikmati hari-hari dengan penuh kegembiraan, sebab waktu tidak akan bisa mudur walau hanya sesaat. Waktu akan terus berjalan menuju masa yang penuh dengan rintangan. Bila hari ini waktu kita telah tergadaikan dengan berleha-leha, berarti kita telah siap untuk ditinggalkan oleh waktu berharga untuk jangan waktu yang sangat lama. Karena antara waktu dan amanah itu jaraknya sangat tipis sekali. Sebab mereka selalu beriringan sampai akhir hayat.(Ujang Firgo, TATA USAHA SDN 02 PAYAKUMBUH)
Editor : Novitri Selvia