PADEK.JAWAPOS.COM-Di penghujung Desember 2025 ini, koridor SMP Negeri 30 Padang tampak sunyi. Kursi-kursi berjajar rapi di dalam kelas, dan papan tulis bersih tanpa guratan kapur atau spidol.
Namun, bagi seorang pendidik, masa libur sekolah bukanlah sekadar jeda dari rutinitas mengajar.
Liburan adalah waktu untuk “pulang” sejenak ke dalam diri, mengevaluasi setiap jejak yang telah ditinggalkan di semester lalu, dan menyusun resolusi untuk menyambut tahun baru 2026 yang sudah di depan mata.
Jika kita merenung kembali, tahun 2025 telah memberikan banyak pelajaran berharga bagi dunia pendidikan di Kota Padang.
Kita telah menyaksikan betapa cepatnya teknologi merambah ruang kelas kita, membawa perubahan pada cara siswa menyerap informasi.
Namun, di tengah gempuran digitalisasi tersebut, satu hal yang tetap tidak berubah: teknologi sehebat apa pun tidak akan pernah bisa menggantikan kehangatan tatapan mata seorang guru yang peduli atau ketulusan kata-kata penyemangat saat seorang siswa merasa gagal.
Banyak dari kita, para guru, sering kali terjebak dalam perlombaan dengan waktu untuk “menghabiskan” materi kurikulum.
Kita terkadang terlalu sibuk dengan tumpukan administrasi dan target nilai, hingga tanpa sadar melupakan bahwa di hadapan kita duduk manusia-manusia muda yang sedang tumbuh dan mencari identitas.
Resolusi terbesar kita di tahun 2026 seharusnya bukan lagi tentang seberapa banyak halaman buku teks yang terselesaikan, melainkan seberapa dalam makna yang tertanam di hati dan pikiran siswa.
Di SMPN 30 Padang, kami mencoba mendobrak kekakuan itu melalui berbagai inovasi pembelajaran. Kami belajar bahwa Bahasa Indonesia tidak harus membosankan jika diajarkan melalui Game-Based Learning seperti aplikasi Wordwall.
Kami melihat betapa hidupnya suasana kelas ketika siswa bekerja sama dalam metode Jigsaw berbantuan video tutorial kreatif.
Inovasi-inovasi ini bukan sekadar gaya-gayaan digital, melainkan cara kita “menjemput” siswa di dunianya yang serba cepat agar mereka kembali mencintai ilmu pengetahuan.
Menyongsong semester genap di tahun 2026, konsep Deep Learning atau pembelajaran mendalam harus menjadi napas baru di setiap ruang kelas.
Kita ingin siswa tidak hanya sekadar menghafal struktur teks berita atau rumus bahasa untuk kemudian dilupakan setelah ujian. Kita ingin mereka mampu berpikir kritis, berkolaborasi dalam perbedaan, dan berkomunikasi dengan empati.
Saat kita mengajak mereka menjadi “Jurnalis Cilik” atau “Sineas Cilik”, kita sebenarnya sedang melatih keberanian mereka untuk bersuara dan memahami realitas sosial di sekitarnya.
Inilah esensi pendidikan yang sesungguhnya: membekali mereka dengan keterampilan yang tidak akan basi oleh waktu, yaitu keterampilan untuk beradaptasi dan terus belajar di tengah perubahan zaman yang tak menentu.
Namun, inovasi yang kami upayakan di sekolah akan kehilangan kekuatannya tanpa dukungan dari rumah.
Melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikan pesan khusus bagi bapak dan ibu orang tua siswa. Jika guru adalah pelukis masa depan siswa di sekolah, maka orang tua adalah pemilik kanvas utamanya di rumah.
Memasuki tahun 2026, mari kita ubah paradigma bahwa pendidikan sepenuhnya adalah tanggung jawab sekolah. Kami memohon kepada bapak dan ibu untuk terus menjadi pendengar yang baik bagi anak-anak.
Berikanlah ruang bagi mereka untuk menceritakan apa yang mereka pelajari, bukan sekadar menanyakan “berapa nilaimu hari ini?”.
Dukungan moral Anda di rumah—seperti memberikan pujian atas usaha mereka, mendampingi mereka saat mengeksplorasi teknologi untuk tugas sekolah, hingga memastikan mereka memiliki waktu istirahat yang cukup—adalah energi yang luar biasa bagi mereka.
Mari kita jadikan tahun 2026 sebagai tahun kolaborasi. Jika sekolah sedang menerapkan metode pembelajaran aktif yang menuntut kreativitas, dukunglah dengan membiarkan anak-anak bereksperimen di rumah.
Pendidikan adalah tentang membangun karakter, dan karakter tersebut paling kuat akarnya ketika disiram dengan cinta dan perhatian yang konsisten, baik di ruang kelas maupun di meja makan keluarga.
Sinergi antara guru dan orang tua adalah kunci utama agar anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang tangguh secara mental dan unggul secara intelektual.
Resolusi guru di tahun 2026 juga harus mencakup kesejahteraan emosional siswa. Di era media sosial yang penuh tekanan ini, kelas harus menjadi “oase” yang aman bagi siswa.
Kita perlu lebih banyak mendengar daripada sekadar memerintah. Mari kita jadikan setiap pertemuan di kelas sebagai sebuah petualangan yang menyenangkan.
Jika guru datang dengan mata yang berbinar dan penuh antusiasme, maka siswa pun akan menyambutnya dengan semangat yang sama.
Keberhasilan seorang guru di masa depan tidak lagi diukur hanya dari tingginya nilai rata-rata ulangan di kelas, tetapi dari seberapa sering siswa berani bertanya karena rasa ingin tahu yang besar, dan seberapa tulus mereka merasa dihargai sebagai individu.
Seperti ungkapan bijak yang sering kita dengar: “Siswa mungkin lupa apa yang kita ajarkan, tapi mereka tidak akan pernah lupa bagaimana kita membuat mereka merasa berharga.”
Akhirnya, saya ingin mengajak rekan-rekan GTK (Guru dan Tenaga Kependidikan) di Kota Padang untuk melakukan “reset” mental di awal tahun 2026.
Mari kita tinggalkan pola mengajar yang monoton. Mari kita berani mencoba aplikasi baru, metode baru, dan cara pandang baru yang lebih memanusiakan manusia.
Tahun 2026 adalah lembaran putih yang siap kita tulis dengan kisah-kisah inspiratif dari ruang kelas. Mari kita buat setiap detik di sekolah menjadi momen yang berkesan bagi anak-anak kita.
Selamat menyongsong tahun baru dengan semangat baru. Mari terus bergerak, menginspirasi, dan berinovasi demi masa depan generasi emas Indonesia dari bumi Minangkabau. Salam inovasi dan kolaborasi dari SMP Negeri 30 Padang.(Zahratil Husna, Guru SMPN 30 Padang)
Baca Juga: Polsek Linggo Sari Baganti dan Pemkab Padangpariaman Perketat Larangan Perayaan Tahun Baru 2026
Editor : Novitri Selvia