Indonesia Sumbar Bisnis Olahraga Gaya Hidup Harian Magazine Otomotif Pariwisata Features Internasional Opini Advertorial Pendidikan Buku & Film Hiburan Kesehatan

SMP Negeri 2 Bukittinggi, Menggapai Derajat Takwa di Bulan Penuh Cahaya

Novitri Selvia • Selasa, 24 Februari 2026 | 06:30 WIB

Dilla, S.Pd., GURU SMPN 2 BUKITTINGGI. (TIM LAMAN GURU)
Dilla, S.Pd., GURU SMPN 2 BUKITTINGGI. (TIM LAMAN GURU)

PADEK.JAWAPOS.COM-Ramadhan kembali hadir menyapa umat Muslim dengan cahaya yang selalu dinanti. Ada getar yang berbeda setiap kali bulan suci ini datang.

Rumah-rumah mulai sibuk menyiapkan kebutuhan sebulan penuh, masjid-masjid kembali ramai, dan hati pun seperti dipanggil untuk bersiap.

Ramadhan bukan hanya pergantian waktu dalam kalender hijriah, tetapi momentum istimewa yang mengajak setiap jiwa untuk berbenah dan mendekat kepada Sang Pencipta.

Ramadhan adalah bulan suci yang selalu dinanti oleh umat Muslim di seluruh dunia. Menyambut bulan penuh berkah ini, berbagai persiapan dilakukan, baik secara fisik maupun mental.

Dari menyiapkan kebutuhan menu selama sebulan penuh, merancang takjil dan sahur yang kerap didominasi oleh peran kaum ibu, hingga mempersiapkan diri secara spiritual untuk menjalani ibadah selama tiga puluh hari.

Semua dilakukan demi menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan tadarus Al-Qur’an serta menata target ibadah agar bulan suci ini benar-benar terisi dengan amal terbaik.

Satu tahun dua belas bulan, Allah sediakan satu bulan bagi umat-Nya untuk melakukan ibadah yang ganjarannya diberikan langsung oleh Allah dengan berlipat ganda.

Benarkah Allah memberikan pahala yang berlipat ganda di Ramadhan ini? Ya, jawabannya termaktub di dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang berbunyi, “Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”

Ramadhan ini disebut juga dengan Syahrullah, yaitu bulannya Allah, karena di bulan ini semua amalan pahalanya dilipatgandakan oleh Allah.

Ramadhan juga selalu datang dengan suasana yang berbeda setiap tahunnya. Ia bukan hanya sekadar bulan dalam hitungan kalender hijriah, melainkan bulan di mana terbuka luas pintu ampunan dan rahmat dari Allah SWT.

Setiap amal kebaikan yang dilakukan terasa lebih bermakna dan lebih berkah. Ramadhan memang ibadah personal, yaitu hubungan umat dengan Tuhan-Nya, karena tidak akan ada satu orang pun yang tahu seseorang benar-benar berpuasa atau tidak, kecuali hanya dia dan Tuhannya.

Bisa saja dia minum atau makan secara sembunyi, namun karena keyakinan dan akidahnya, maka dia tidak mau membatalkan puasanya.

Di sinilah Ramadhan mengajarkan kita umat Muslim untuk belajar jujur dan taat kepada perintah Allah.

Selain ibadah personal, Ramadhan juga mengajarkan kepedulian sosial. Hati yang lembut karena berpuasa akan lebih mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain.

Maka di Ramadhan ini juga waktunya untuk banyak bersedekah dan berbagi kepada sesama. Mulai dari berbagi takjil gratis, infak ke musala, masjid, fakir miskin, dan yang paling utama adalah membayar zakat fitrah.

Di sini diajarkan bagaimana dalam bulan Ramadhan ini kita bisa merasakan penderitaan fakir miskin yang hidupnya susah. Karena itulah zakat fitrah harus dibayarkan sebelum Hari Raya Idulfitri.

Salah satu hikmahnya adalah agar tidak ada satu pun umat Muslim yang bersedih dan tidak memiliki makanan di hari nan fitri atau hari raya.

Sungguh sempurna Allah mengatur segalanya. Kehadiran Ramadhan, Idulfitri, dan berbagai ibadah di dalamnya sarat dengan manfaat dan hikmah bagi umat yang mau berpikir.

Ramadhan mengajarkan kita menjauhi perbuatan sia-sia dan tidak bermanfaat.

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kita menjaga lisan dari ucapan yang menyakitkan, membersihkan hati dari iri dan dengki, serta mengendalikan perilaku dari hal-hal yang melalaikan.

Semua itu menjadi sarana untuk membentuk diri agar tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Ramadhan ini mengajarkan kita untuk mendapatkan predikat takwa. Ketika Ramadhan berakhir, yang tersisa bukan hanya kenangan tentang suasana sahur dan buka bersama saja, tetapi juga menjadi pribadi yang lebih dekat dengan Allah, lebih peduli kepada sesama, dan lebih berhati-hati dalam menjalankan hidup.

Jika Ramadhan mampu mengubah cara kita memandang dunia dan akhirat, maka itulah tanda bahwa kita benar-benar telah memetik hikmah Ramadhan dalam kehidupan.

Dalam Ramadhan ini, ada satu malam istimewa yang juga ditunggu oleh semua umat Muslim, yaitu adanya malam Lailatul Qadar.

Yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yang jika dikonversikan seribu bulan setara dengan lebih dari delapan puluh tiga tahun.

Artinya, satu malam ibadah pada malam itu bernilai seperti kita beribadah sepanjang usia. Begitu besarnya karunia yang diberikan oleh Allah untuk umat Rasulullah Muhammad SAW.

Namun Lailatul Qadar ini tidak diumumkan secara pasti tanggal dan harinya. Ia tersembunyi di sepuluh malam terakhir Ramadhan, agar setiap mukmin terdorong untuk menghidupkan seluruh malam-malam tersebut dengan ibadah, bukan hanya menunggu satu malam tertentu saja.

Kemuliaan di sisi Allah tidak pernah ditentukan oleh jabatan, kekayaan, ataupun kedudukan sosial. Al-Qur’an menegaskan bahwa yang paling mulia di sisi Allah SWT adalah mereka yang paling bertakwa.

Takwa bukan hanya sekadar ucapan, melainkan sikap hati yang tercermin dalam ketaatan dan kesungguhan menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.

Sudah seharusnya Ramadhan ini menjadi madrasah terbaik untuk melatih ketakwaan itu. Puasa juga mengajarkan pengendalian diri, kesabaran, dan kejujuran.

Karena itulah Ramadhan ini hendaknya diisi dengan upaya mengoptimalkan ibadah. Malam-malamnya dihidupkan dengan salat tarawih, qiyamul lail, dan doa yang sungguh-sungguh.

Siangnya diisi dengan tilawah Al-Qur’an dan memperbanyak istigfar serta amal kebaikan lainnya. Al-Qur’an pun diturunkan pada bulan Ramadhan bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk ditadabburi dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya, Ramadhan bukan sekadar tentang satu bulan yang berlalu, melainkan tentang perubahan yang menetap dalam diri.
Semoga setiap Ramadhan yang kita jumpai benar-benar menjadi ruang perenungan dan perbaikan.

Baca Juga: Harga Emas Melonjak Tajam, Tarif 15% Donald Trump dan Dolar Melemah Dongkrak Permintaan Safe Haven

Jangan biarkan ia datang dan pergi tanpa bekas. Karena di balik setiap detik Ramadhan, ada peluang besar untuk meraih ampunan, keberkahan, dan derajat takwa di sisi-Nya.(Dilla, S.Pd, GURU SMPN 2 BUKITTINGGI)

Editor : Novitri Selvia
#Derajat takwa #Dilla #SMP Negeri 2 Bukittinggi